Ketua Ikatan Wanita Khatolik Bima (Kiri)-Kepala BNNK Bima (Kanan)

Visioner Berita Kota Bima-Rapat Koordinasi (Rakor) program pemberdayaan masyarakat anti Narkoba yang digelar oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bima yang melibatkan pihak BPOM wilayah Bima, Berbagai Ormas Islam, Tokoh Masyarakat, Ulama, kaum Gender, Komunitas La Rimpu dan lainnya di Marina Hotel Kota Bima pada Selasa (8/10/2019) menguak sejumlah persalan penting yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat khsusunya di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu.

Pada moment tersebut, mumcul sesuatu yang sangat spektakuler. Yakni Kepala BNNK Bima, AKBP Hurri Nugroho, SH, M.Hum menangis dalam durasi waktu beberapa detik. Hurri menangis setelah mendengarkan saran dan harapan Ketua Ikatan Wanita Khatolik Bima. Saran dan harapan tersebut, yakni pada kontek pencehan dan pemberantasan Narkoba di wilayah Bima melibatkan lintas Agama.

Sebab, tugas dan tanggungjawab dalam pencegahan maupun pemberantasan Narkoba jenis Sabu termasuk pbat-obatan berbahaya bagi keberlangsungan hidup dan masa depan generiasi seperti tramadol, kapsul tawon madu, dan lainya bukan saja menjadi tugas dan tanggungjawab pihak BNNK, BPOM dan aparat Kepolisian. Melainkan, Tokoh lintas Agama juga memiliki tugas dan tanggungjawab yang sama.

Ketua Ikatan Wanita Khatolik Bima ini mengaku, keterlibatan Tokoh lintas Agama pada berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh BNNK maupun BPOM selama ini dinilainya sangat minim. Padahal, hal Tokoh lintas Agama mulai dari islam, Kristen Protestan, Kristen Khatolik, Hindu dan Budha memiliki peran yang sangat penting baik pada konteks pencegahan, pemberantasan hingga mengedukasi anak bangsa agar terhindar dari ancaman Narkoba dan obat-obatan terlaran yang salah satunya tramadol.

“Kami berharap agar kedepanya Rakor yang sama seperti ini juga melibatkan Tokoh lintas Agama. Sebab,  baik Narkoba maupun obat-obat terlarang yang membahayakan bagi hidup dan keberlangsungan masa depan anak bangsa tersebut sudah terjangkit pada berbagai level kehidupan masyarakat dan pada Agama manapun,” imbuhnya.

Mendengar saran dan harapan Ketua Ikatan Wanita Khatolik Bima tersebut, spontan saja Kepala BNNK Bima yang baru tiga bulan dilantik ini menangis dalam waktu beberapa detik. Setelah mengusap air matanya sembari memegang microphone, kepala BNNK Bima ini berjanji bahwa untuk kedepan Tokoh lintas Agama akan dilibatkan pada Rakor pencegahan peredaran Narkoba dan penyalahgunaan obat-obatan oleh masyarakat. “Saya menangis, ini mencerminkan rasa haru bahwa semua ingin berperan serta dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan Narkoba di daerah ini. Terimakasih atas saran dan harapan ibu, Insya Allah untuk kedepanya hal itu akan kami lakukan,” janjinya.

Saran, harapan dan masukan yang sama juga muncul dari sejumlah Ormas Islam yang terlibat pada Rakor yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari itu. Ustadz Sudirman Makka misalnya, pada moment tersebut lebih kepada mempertanyakan sejauhmana keseriusan aparat penegak hukum baik dalam konteks pencegahan, pemberantasan hingga penindakan terkait penanganan kasus Narkoba yang semakin marak beredar di daerah ini.

Menyikai hal itu, Kepala BNNK Bima ini mengajku bahwa pihaknya khusus di Bima hanya memiliki Tupoksi penyuluhan, pencegahan dan mengedukasi berbagai elemen masyarakat termasuk di dunia pendidikan. Pihaknya juga terus membangun kerjasama dengan Pemerintah baik Kota Bima, Kabupaten Bima maupun Kabupaten Dompu untuk tujuan yang sama. Yakni, kerjasamanya pada konteks pencegahan, pemberantasan hingga memasukan kurikulum terkait bahaya Narkoba dan obat-obatan yang membahayakan di dunia pendidikan.

Lepas dari itu, berbagai elemen yang hadir pada moment tersebut menitipkan banyak harapan kepada pihak BNNK maupun BPOM untuk bekerja secara serius dalam melakukan upaya pencegahan, pemberantasan Narkoba dan obat-obatan berbahaya bagi keselamatan anak bangsa baik di Bima maupun di Dompu. Tak hanya itu, berbagai elemen tersebut juga menegaskan bahwa soal Narkoba dan obatan-obatan dimaksud bukan saja berhentik pada konteks pencegahan, pemberantasan maupun penindakan. Tetapi, sesi lain termasuk pemberdayaan yang melibatkan instansi terkait merupakan hal paling pokok untuk diwujudkan.

Pasalnya, setelah para pelaku di penjara dan selanjutnya dibebaskan tentu harus dijemput dengan program pemberdayaan agar mereka tidak kembali lagi pada gemerlapnya dunia kejahatan seperti yang mereka rasakan sebelumnya. Maksudnya, para pelaku tersebut perlu dihimpun pada wadah pemberdayaan dan kemudian diikutsertakan dengan bantuan dengan program-program pemberdayaan oleh Pemerintah.

Sementara itu, Kepala BPOM wilayah Bima Yogi Abaso Mataram, S.Si, Apt memastikan bahwa peredaran tramadol baik di Dompu, Kota Bima dan Kabupaten Bima sudah sangat jauh menurun jika dibandingkan dengan sebelumnya.Ia memastikan bahwa Tramdol sudah tidak lagi di jual di manapun, karena perushaanya sudah ditutup oleh Pemerintah. “Jika ada tramadol yang beredar, itu adalah palsu dan sangat berbahaya bagi hidup dan keberlangsung berbagai elemen masyarakt. Untuk itu, harus kita waspadai,” imbuhnya.

Kapsul Tawon Madu yang berda di tengah-tengah masyarakat dan berimbaskan kepada kematian lebih dari satu warga Dompu adalah ilegal dan mengandung zat berbahaya sekaligus mematikan. Ia kemudian memastikan, nomor registrasi yang tertera pada bungkusan kapsul tersebut adalah ilegal pula.

“Hal ini yang masih terus kami selidiki apakah peredaranya di Dompu berkaitan dengan di Bima atau sebaliknya. Yang jelas, kaplsul tersebut adalah ilegal. Nomor registrasi yang tertera pada bungkusanya pun juga ilegal,” tandasnya.

Untuk memastikan jenis dan daftar obat-obatan terlarang, masyarakat dihimbaunya untuk melihatnya pada situs resmi BPOM.  Perusahaan tramadol dipastikanya sudah ditutup secara resmi oleh Pemerintah. Namun, kini muncul jenis yang sama bernama THD.

“Penggunaan obat-obatan merujuk pada keadaan dimana obat digunakan secara berlebihan tanpa tujuan medis atau indikasi tertentu bisa mengakibatkan kepada depresi pada sisitim saraf pusat. Hingga saat ini khususnya di wilayah Kabupaten Dompu, masih ada penyalagunaan obat-obatan jenis THD. Sekarang peredaran obat-obatan seperti komix masih ada, namun tidak terlalu signifikan seperti tahun-tahun kemarin stoknya sedikit demi sedikit telah dibatasi),” tandasnya.

Komix sesungguhnya adalah iobat batuk. Dan obat batuki ini mengandung dosis jika dikonsusi secara berlebihan, dan tentu saja efeknya memabukan. Dalam waktu satu tahu, diakuinya banyak sekali informasi yangditelusuri oleh pihaknya soal Apotik di wilayah Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima yang masih menjual obat-obatan tersebut. “Tapi satu demi satu akan kami selesaikan. Dan kita sudah petakan terkait dengan daerah peredaran obat-obat yang membahayakan itu,” bebernya. Kami akan mengawasi Apotik-Apotik di tiga wilayah itu,” janjinya.  (TIM VISIONER)