Ilustrasi Tramadol

Gedung Paruganae, diakui memiliki  estetika yang berbeda dengan sejumlah pembangunan lainya. Bangunanya megah dan ruanganya, terkesan mewah yang ditambah dengan suasana sejuk (ber AC). Tak heran, ketika infrstruktur tersebut, dijadikan sebagai tempat pelaksanaan sejumlah acara penting. Sebut saja, pernikahan, mutasi jabatan, semintar, lokakarya dan lainya.

            Di luar gedung, terdapat taman dengan keindahan tersendiri. Karena, ditanami dengan sejumlah pepohanan dan rumput-rumputa. Tak heran jika lokasi itu, dijadikan sebagai tempat berkumpulnya sejumlah kalangan. Sejak sore hingga malam hari, lokasi Paruganae, kerap jadi tempat tongkrongan kalangan remaja. Para pedagang kaki lima pun berjejer di sekeliling Paruganae.

            Dibalik kondisi itu, ada fenomena menarik, yang mengusik setiap orang untuk membahas dan membahasakanya. Beberapa kelompok remaja, terlihat bercandaria di lokasi itu. Selain menikmati indahnya panorama, apa sesungguhnya yang terjadi sehingga sejumlah kelompok remaja itu betah disana?.

            Berbagai informasi yang dihimpun, menyebutkan adanya kegiatan kurang menarik yang diduga dilakukan oleh sejumlah oknum remaja. Sebut saja, adanya sinyalemen sejumlah oknum remaja, doyan menikmati miras dan obat-obatan penenang layaknya tramadol. Tabloid Visoner, penasaran dengan informasi itu. Investigasi, pun dilaksanakan.

            Jum’at malam tanggal 28 Agustus 2015 sekitar pukul 22.15 Wita, praktis dua remaja menjambangi, saat  awak media ini menyamar sebagai penikmat kopi. “Malam om. Nama saya Rina (bukan nama sebenarnya). Gabung boleh dong, walau sekedar menikmati kopi bersama,”paparnya terkesan malu-malu, didampingi oleh seorang rekanya, Sinta (nama disamarkan).

            Rasa ingin tahu secara mendalam, tentang siapa dan bagaimana remaja ini, Visioner pun mempersilahkanya. Gayanya bisa terbaca. Rupanya, Rina ingin sesuatu. Tanpa ragu, Rina langsung bicara.. “Om punya duit Rp 30 ribu, untuk beli sesuatu,”tanyanya.

            Visioner pun merogok kantung, guna menjawab permintaan Rina. Saat ditanya, uang tersebut digunakan untuk apa, Rina terkesan masih menyembunyikanya. Guna memperoleh kejelasan, Visioner memberikan uang tambahan Rp 20 ribu (jumlahnya Rp 50 ribu).

            Spontan saja membuat remaja berbadan agak kurus itu, terlihat gembira. Dengan tersenyum, ia pun berkata jujur. “Sebenarnya saya nggak mau bongkar. Tapi, terpaksa lah. Uang ini akan saya gunakan untuk beli tramadol. Kalau dicampur dengan kopi, kan jadi enak dan pikiran pun rasanya plong,”paparnya.

            Tanpa menunggu lama, Rina langsung beranjak ke salah satu warung milik salah seorang pedagang kaki lima. Lokasinya, tak jauh dari tempat tongkrongan semua. “Ini barangnya. Harga per papanya Rp 3 ribu. Uang yang dikasih tadi, saya gunakan untuk beli 10 papan tramadol. Sisanya, akan saya gunakan untuk beli besok lagi. Rasanya enak, Om. Kalau ingin tahu rasanya, silahkan dicoba,”paparnya sambil mengaduk-aduk tramadol dengan kopi panas.

            Hasil racikanya, pun dinikmati. Sekitar 5 menit kemudian, pembicaraan Rina dan Sinta, mulai tak beraturan (akibat reaksi tramadol). Rasa percaya diri keduanya, kian kuat. Sejumlah persoalan yang menimpanya, dibongkar. “Tak ada gunanya bicara pacar atau soal kondisi rumah tangga. Mikir hal itu, hanya akan membuat stres berat. Ayo om, coba ini barang, enak kok,”celetuknya, tapi ditolak oleh Visioner.

Rupanya, bukan saja Rina dan Sinta yang doyan menikmati pil penenang itu. Tetapi, ditengarai ada juga sejumlah oknum remaja lain yang biasa berkumpul disetiap  malam di Paruganae. “Setiap malam, kami berkumpul disini. Selain gosip-gosipan, juga menikmati tramadol bercampur kopi sejumlah remaja lain. Rata-rata umurnya 15 tahun,”ungkapnya.

            Waktu begadang di lokasi itu pada setiap malamnya, rata-rata sampai jam 2.30 pagi. Terkadang ada hal yang tak lazim, diduga dilakukan usai menikmati tramadol bercampur kopi itu. Disinyalir, hubungan diluar nikah pun terjadi. “Kami dikendalikan oleh orang. Kadang ada yang datang membawa kami ke sejumlah lokasi dengan menggunakan motor maupun mobil. Sesampai di lokasi yang disepakati, ya nggak ada kerjaan lain selain itu. Maksudnya, ya tahu sendiri lah. Pulangnya, kami dikasih uang. Kadang Rp 300 ribu-Rp 500 ribu,”terangnya. 

            Pengakuan Rina, kian membuat Visioner memancing dengan sejumlah pertanyaan, termasuk motivasinya terlibat sebagai penikmat tramadol hingga ke hubungan terlarang itu. Dengan tanpa ragu, Rina menjelaskan, kebebasan yang sudah dan sedang dinikmatinya, dipicu oleh sejumlah alasan. Diantaranya, putus cinta, kondisi rumahnya yang tidak nyaman (orang tuanya sering bertengkar) dan masalah ekonomi.

“Untuk menghilangkan stress, ya kami menggunakan tramadhon. Semenntara pemenuhan kebutuhan ekonomi, ya kami dapatkan melalui hubungan terlarang dengan orang yang sesungguhnya kami tidak kenal. Kalau sudah menikmati tramadhon, rasa stress hilang dan uang yang dicari pun dapat dengan mudah,”tandasnya.

            Untuk memperoleh tramadhon, bukanlah sulit. Disejumlah apotik di Kota Bima bisa diperoleh dengan gampang. Proses pembelianya, tidak menggunakan resep dokter. Untuk mendapatkan tramadol, tak perlu sembunyi-sembunyi. “Dijual bebas juga kok. Makanya, tidak sulit bagi kami untuk mendapatkanya,”ungkapnya lagi.

            Malam kian larut. Rina berbicara seolah tak pernah berhenti. Tatapanya, terlhat makin sendu. Reaksi tramadol, terlihat jelas di wajah Rina maupun Sinta. “Pesan kopi lagi dong, om. Ini masih ada barangnya. Bu, minta dua gelas kopi hitam tanpa gula ya. Kan ada bos yang tanggung,”pinta Rina yang praktis direstui oleh pemilik warung di lokasi itu.

            Setelah mencampuri tramadon dengan kopi panas itu, Rina mulai mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Yakni, membisik Visioner untuk berkencan dengan tawaran standar. “Sini om, saya bisikin. Kita buka kamar aja, kalau mau. Nggak perlu bayar mahal. Cukup Rp 300 ribu saja. Lagi kere nih soalnya. Tapi, nanti setelah minum kopi ini,”bisik Rina.

            Disaat Rina dan Sinta dalam kondisi kurang sadar, Visioner langsung menyiapkan diri untuk meninggalkan lokasi itu. Kebetulan, waktunya sudah larut malam (jam 1.30 Wita). Rasa penasaran tentang informasi yang menyebutkan bahwa di Taman Paruganae, diduga sebagai tempat berkumpulnya sejumlah oknum remaja penikmat tramadol, akhirnya terjawab sudah. “Terima kasih telah menemani minum kopi. Ini uang tambahan Rp 100 ribu, terserah mau digunakan untuk apa,”ketus Visioner sambil beranjak dari lokasi itu.

 

            Sepertinya, Rina dan Sinta terkesan malu-malu menerima uang yang diberikan itu. “Jadi malu nih. Sudah difasilitas ngopi, uang untuk beli tramadol, dikasih lagi uang Rp 100 ribu. Terima kasih banyak om. Sering-sering saja kesini. Kita tiap malam ada disini kok. Jangan bongkar bisikan Rina tadi ya om,”pungkasnya sembari tersenyum ala pemabuk. (MIN)