Bripka Iwan PJ (tiga dari kiri bersenjata), bersama pelaku THD (dua dari kiri) dan sejumlah anggota Polsek Asakota

Visioner Berita Kota Bima-Polisi asal Polres Bma Kota ini, badanya mungil tetapi tidak terlalu kurus. Mantan Buru Sergap (Buser) pada Resrse Narkotika pada Sat Narkotika Polres Bima Kota ini, kini telah berpindah dan diberi jabatan sebagai kanit Buser pada Polsek Asakota-Polres Bima Kota. Dialah Bripka Iwan PJ, dan kini tergolong sebagai Polisi paling nekad.

Ceritanya, Senin (27/11/2017) sekitar pukul 10.10 Wita, dia mencetak sebuah keberhasilan. Yakni, menangkap  seorang terduga bandar obat daftar G sejenis tramadol yakni trihexyphenidyl (THD) bernama FRM alias Feron (34) dengan tidak ditemani oleh anggota Buser Polsek Asakota lainnya (seorang diri). Feron dibekuk di rumahnya di salah satu RT di kampung Benteng, Kelurahan Melayu-Kota Bima.

“Ya, saya mendatangi rumahnya, menangap pelakunya dan menemukan obat daftar G tersebut yang disimpanya di dalam kamar tidurnya. Obat Barang haram tersebut, disimpannya di dalam tanah (dikubur). Awalnya, dia tidak mengaku adanya barang itu. Namun setelah diintrogasi secara tegas di tempat kejadian perkara (TKP), ia pun mengaku adanya barang tersebut yang dikuburnya di tanah,” ungkap Bripka Iwan PJ.

Sekitar satu jam sebelum menangkap pelaku hingga berhasil mengamankan 100 papan THD dengan jumlah 1000 butir dalam bentuk tablet tersebut, terlebih dahulu Iwan menghubungi visioner.co.id guna melakukan peliutan secara langsung di TKP. Sekitar puluhan menit kemudian, visioner.co.id langsung meluncur di TKP. Tiba di TKP, Iwan terlihat berdiri sendri dengan senjata laras panjang sambil mengamankan Feron.

“Ini pelakunya dan ini juga barang yang saya sita di rumahnya. Sekarang, saya sedang menunggu personil lainnya untuk membawa pelaku untuk diamankan di Mapolsek Asakota. Terimakasih visioner.co.id karena sudah ada bersama saya di TKP,” tutur Iwan.

Di TKP, terlihat ada situasi yang agak “berbeda”. Beberapa orang warga terlihat mondar-mandir melihat pelaku, tetapi tidak satupun yang berbicara. Namun, Iwan tak menghiraukannya. Tetapi, visioner.co.id  memberi kode dengan cara meninggalkan TKP. Tujuannya, agar Iwan langsung membawa pelaku dengan barang bukti (BB).

Beberapa menit setelah visioner meninggalkan TKP, Iwan pun bergegas meninggalkan lokasi. Dia membonceng pelakunya dengan kendaraan roda dua (sepeda motor miliknya) dengan kecepatan tinggi menuju Mapolsek Asakota. Sementara visioner.co.id berada dibelakang Iwan bersama pelaku yang diboncengnya. “Yang saya khawatirkan di sepanjang jalan tadi adalah ketika pelaku merampas senjata. Sebab, saya yang membawa sepeda motor, sementara pelaku dan senjata ada di belakang saya. Tapi, Alhamdulillah semuanya aman,” terang Iwan.

Menangkap pelaku dengan seorang diri, tanpaknya bukan kali ini yang dilakukan oleh Iwan. Tetapi sekitar sebulan lalu, dia juga menangkap sendiri seorang pelaku kriminal yang ada di Desa Kolo-Kota Bima.

“Saat itu ada banyak orang yang datang dengan menggunakan parang. Kendati demikian, mereka tidak berani menyerang saya. Namun, saya tidak takut. Sebab, senjata laras panjang ini adalah teman saya waktu itu. Singkatnya, pelaku dan Bbnya saya bawa sendiri untuk diamankan di Mapolsek Asakota ini,” tandas Iwan.  

Kembali ke kasus Feron, kini dia sedang diamankan dan diperiksa oleh penyidik Polsek Asakota. Sebelum memberikan keterangan kepada penyidik, Feron mengaku bahwa THD tersebut diperolehnya dari seseorang berinisial AN (warga di salah satu Kecamatan di Kabupaten Bima). “Sudah sebulan saya berdagang THD. Kegiatan ilegal ini, saya lakukan untuk mencari penghasilan sampingan selain pendapatan yang diperoleh sebagai supir truk. Isteri saya tahu kegiatan ini. Tetapi, dia tidak tahu bahwa barang yang saya jual adalah THD,” kata Feron.

Modal yang dikeluarkannya untuk membeli THD kepada AN, Rp150 ribu perkotak dengan isi 10 papan, dan satu papan berisi sepulu tablet. “Total uang yang saya serahkan kepada AN untuk membeli 10 kotak THD dengan jumlah 1000 butir ini adalah Rp1,5 juta. Jadi, keuntungan yang saya dapatkan dari semua barang ini jika terjual habis, hanya Rp500 ribu,” akunya.

Untuk memperoleh THD itu, Feron mengaku AN yang datang membawa langsung ke rumahnya. Sementara sistim penjualannya, feron mengaku tidak mendatangi pembelinya. Tetapi, sejumlah pembeli yang datang mengambilnya ke rumahnya dan kemudian diperdagangkan di wilayahnya masing-masing. Pembelinya ada yang berasal dari Kecamatan Wawo, Kecamatan Langgudu dan ada juga yang dari Kota Bima. Saya tidak mengedarkannya ke mana-mana, kecuali menunggu pembelinya datang ke rumah,” beber Feron.

Menjawab pertanyaan pernahkan menjual dan menikmati tramadol, Feron mengaku pernah. Namun, tidak seringkali mengkonsumsinya. Sementara THD ini, dia mengaku tidak pernah mencicipinya, kecuali menjualnya. “Untuk tramadol, saya pernah menikmatinya. Tramadol buat saya, tidak juga memabukan. Tetapi, pengaruhnya justeru untuk kekuatan fisik. Sehingga setelah menikmati tramadol, terasa enak sekali untuk bekerja. Kalau THD ini, saya tidak pernah mencicipinya. Oleh karenanya, saya tidak tahu rasanya seperti apa,” kilahnya.

Soal AN, Feron hanya mengaku hanya mengenal wajahnya. Namun, dia menyatakan tidak tahu alamat jelasnya. Demikian pula halnya dengan sejumlah orang-orang yang datang membeli barang itu ke rumahnya.

“Demi Allah, saya tidak tahu alamat jelasnya AN. Dan, saya tidak tahu nomor Hpnya. “Biasanya, dia datang membawa THD ke rumah saya, menggunakan sepeda motornya bersama seorang temannya. Apakah AN ini adalah seorang bandar THD atau bukan, itu juga saya tidak tahu. Namun yang pasti, THD ini saya beli dari AN,” sebutnya.

Dalam catatan visioner.co.id melaporkan, THD ini adalah merk obat daftar lain yang baru terlihat beredar di Bima setelah Tramadol dan PCC yang beberapa bulan lalu beredar di salah satu wilayah di Kecamatan Woha. THD juga diakui sejenis tramadol yang memiliki efek samping sama dengan Tramadol.

Yakni, dapat merusak saraf, persendian, janting dan bahaya lain bagi pengkonsumsinya. “Kita juga baru melihat obat sejenis tramadol ini. Efek samping bagi penggunanya adalah sama dengan tramadol,” jelas sejumlah penyidik Polsek Asakota kepada visioner.co.id. (TIM VISIONER)