Kades Oisari, Lalu Suhardi

            Keanehan aksi pengusiran PT. Sanggar Agro yang berlokasi di kawasan Desa Oi Katupa oleh KPK-PRD, LMND dan STN, kian terkuak diatas permukaan. Setelah dugaan isu SARA yang dimainkan untuk menarik perhatian publik terkait pergerakan melalui tema PT. Sanggar Agro telah mengusuran Pemakaman Umum (PKU) di Oi Katupa dan tudingan bahwa TNI telah melakukan intimidasi terhadap warga di Desa Oi Katupa, kini muncul fakta kurang kurang serdap yang menimpa pendemo dibawa kendali Arif Kurniawan itu.

            Pihak PT. Sanggar Agro menuding bahwa isu peenggusura PKU oleh pendemo tersebut adalah kebohongan terhadap publik yang ditengarai sebagai upaya untuk mendapatkan perhatian publik. Sementara itu, Dandim 1608 Bima melalui Kasdim Mayor Inf Jalal Bin Saleh menegaskan bahwa tudingan yang diarahkan kepada TNI tersebut adalah tidak berdasar.

“Tudingan itu adalah mengada-ada. Mana buktinya TNI melakukan intimidasi terhadap warga Oi Katupa. Sekali lagi, TNI tidak pernah melakukan seperti apa yang ditudingkan itu. Selama ini TNI hanya melakukan pengayoman dan pendekatan rasional terhadap masyarakat dimanapun berada, termasuk di Oi Katupa,” tegas Jalal, Senin (22/8/2016).

            Pengakuan Jalal, juga dibenarkan oleh mantan Humas PT. Sanggar Agro Ayaturrahman S.Pd. Karenanya, kedua isu yang dimainkan oleh pendemo yang menlak PT. Sanggar Agro tersebut, merupakan bukti telah melakukan kebohongan terhadap publik. Mana kuburan yang digusur oleh PT. Sanggar Agro, sekali lagi itu hanyalah kebohongan besar. Kebohongan besar tersebyt juga dibuktikan melalui menuding TNI telah melakukan intimidasi terhadap warga Oi Katupa. Sekali lagi, bergeraklah dengan keakurasian data, bukan sebaliknya memfitnah,” timpal Ayat yang akrab disapa Raja Alam ini.

            Gerakan mengeksploitasi masyarakat Sanggar dan Tambora oleh segelintir manusia yang menolak PT. Sanggar Agro tersebut, ditegaskanya berjalan dengan ideologi yang berbeda. “Jangan bilang warga Oi Katupa secara menyeluruh. Yang menolak PT. Sanggar Agro di Oi Katupa itu hanya sekitar 20 orang dan mereka itu adalah pengikut Kades Oi Katupa, Muhidin. Jangan juga bilang warga Sanggar dan Tambora secara umum dong. Karena, warga Sanggar dan Tambora mendukung kehadiran PT. Sanggar Agro sebagai bentuk penterjemahan dari keinginan Bupati-Wakil Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri dalam rangka memberikan  kenyamanan dan keamanan bagi Investor termasuk PT. Sanggar Agro,” imbuhnya.

            Ayat kemudian mengungkap fakta menarik di seputar aksi pergerakan tersebut. Massa yang banyak yang diajak oleh cukong aksi adalah yang diduga dipungut di jalan-jalan dan kebanyakan oknum mahasiswa yang ada di Kota dan di Kabupaten Bima. “Yang pasti, hanya segelintir warga Oi Katupa yang terlibat dalam aksi tersebut. Kebanyakan mereka adalah warga lain yang ditengarai dipungut di jalan-jalan. Long apa maksudnya, lha wong mereka menggunakan kendaraan roda empat kok,” tandasnya. “Diduga keras aksi pergerakan tersebutdimainkan oleh oknum mafia yang melakukan jual-beli tanaha di atas HGU milik PT. Sanggar Agro. Ini tugas polisi, diharapkan agar cerdas menangani dan menindaklanjutinya,” duganya.

            Dugaan ketimpangan dibalik aksi pergerakan dimaksud, juga diungkap oleh Kades Oi Saro, Kecamatan Tambora kabupaten Bima Lalu Suhardin. Selasa (23/8/2016) Suhardi mengungkap, berdasarkan informasi yang diperolehnya menyebutkan bahwa awalnya Kades Oi Katupa Muhin mencoba menggunakan tema Sanggar-Tambora untuk menarik massa dari berbagai Desa di Sanggar dan Tambora. “Ya, itu teman yang diduga dimainkannya sebelum melakukan aksi pergerakan,” duganya.

            Setelah ditelusurinya lebih lanjut, ditengarainya ternyata itu hanya motif mereka untuk menutup-nutupi aksi mafia tanah dan tuntutan dugaan penyalah gunaan dana ADD. “Setelah berunding, Kades Oisaro, Kades Boro, Kades Kore dan Kades Taloko menolak untuk ikut serta dalam kegiatan tidak jelas ini. Untuk itu, kami menghimbau agar masing-masing idak terprovokasi untuk ambil bagian dalam pergerakan dimaksud,” tandasnya.

            Di sisi lain, terdapat fakta tak terpungkiri terkait kehadiran PT. Sanggar Agro. “Yakni, banyak juga warga dan keluarga besar dari Desa-Desa pada PT. Sanggar, mulai dari anggota sekurity, pembibitan, penananman, administrasi dan supir,” jelasnya. 

            Apalagi dalam aksi ini katanya, ternyata lebih didominasi oleh pihak luar (diluar Kecamatan Sanggar dan Tambora) yang diduga mencoba untuk mencari keuntungan politik dengan mengatasnamakan masyarakat Kecamatan Sanggar dan Tambora yang cinta damai. Dan, misi yang digalang dalam aksi tersebut juga tidak relevan dan tidak masuk akal.

            "Kita menjadi Kades, harus dapat bersikap dengan bijak. Kita tidak boleh mengambil suatu keputusan demi kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan Desa kami. Memang ada warga yang tidak mendukung Sanggar Agro. Tetapi apakah aspirasi warga yang berkerja untuk Sanggar Agro, menurut anda tidak perlu diperjuangkan. Dan, apakah kalau sudah menjadi karyawan bukan lagi menjadi warga desa kami,” tanyanya.

            Humas PT. Sanggar Agro Edi Mulyono juga bereaksi keras terhadap tudingan pendemo terkait pihaknya telah melakukan PKU di Oi Katupa. Isu yang dimainkan oleh pendemo tersebut, ditudingnya tidak jelas alias rekayasa semata. “Kami tidak pernah menggusur TPU sebagaimana tudingan tersebut. Yang benar adalah, kondisi TPU tersebut sangat memprihatinkan karena sudah terbengkalai. Sekali lagi, tudingan tersebut adalah karangan bebas mereka,” timpalnya, Selasa (23/7/2016).

            Edi kemudian mengungkap fajta menarik soal TPU dimaksud. Diantaranya, rumput panjang dan makam menjadi tidak terlihat, tidak terurus oleh Kades Oi Katupa. Karena kondisinya memprihatinkan, PT. Sanggar Agro mengalokasikan lahan 1 hektar untuk TPU itu. “Pada saat ini jumlah, makan yang terpantau hanya ada 6 makam diatas lahan 1 hektar ini. Beberapa bulan lalu, karyawan perusahaan malah membersihkan lahan kuburan dan menyemprotkannya dengan herbisida di sepanjang jalan akses supaya badan jalan tetap terlihat bentuknya. Sekali lagi, kita sebagai orang yang beragama dan punya hati nurani, tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu (penggusuran TPU),” pungkas Edi.

 

            Hingga berita ini ditulis, pendemo yang konon melakukan long march tersebut, belum sampai di gedung DPRD Kabupaten Bima maupun di Kantor Bupati Bima di BLK-Kota Bima. Namun terpantau, bahwa tadi malam (22/8/2016), massa tersebut menginap di salah satu lapangan di Kabupaten Dompu. Massa kemudian melanjutkan perjalanannya yang juga menggunakan dua mobil pick up dan satu kendaraan milik pemerintah Kecamatan Sanggar pada Selasa siang (23/8/2016) menuju tujuan aksi (gedung Dewan dan Kantor Bupati Bima). (TIM)