ILUSTRASI dan FAKTA

‘Ada kematian jiwa dan kemiskinan cakrawala berpikir di Donggo’. Terdapat sebuah fenomena memprihatinkan yang terjadi di Kecamatan Donggo-Kabupaten Bima. Peristiwa itu adalah nyata, dan hingga kini juga belum mampu diurai. Yakni, dari masalah terbunuhnya salah seorang warga yang kemudian menyisakan kesengsaraan bagi warga lainnya. Mirisnya, masalah penegakann hukum, justeru digiring kepada fenomena sosial dan praktis berujung pada tercabik-cabiknya nilai kekeluargan serta persaudaraan, berikut catatannya.

 Dewa adalah warga asal Desa O’o Kecamatan Donggo-Kabupaten Bima. Sebulan silam, Dewa dibunuh oleh Arkam yang juga diduga melibatkan sekitar 9 orang temannya. Arkam Cs, merupakan warga asal Desa Dordungga Kecamatan Donggo. Atas kematian tragis yang menimpa Almarhum Dewa, praktis melahirkan ketegangan.

            Dua warga di dua Desa itu, nyaris melahirkan konflik horizontal. Benturan fisik kedua warga berhasil dicegah, lebih karena kesigapan aparat Polres Bima Kabupaten dibawah kendali Kapolres AKBP M. Eka Fathurrahman SH, SIK yang juga melibatkan sejumlah Tokoh penting termasuk Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri.

            Ketegangan secara berangsur-angsur menurun, yakni pasca Polisi membekuk Arkam. Arkam dibekuk, setelah beberapa jam setelah kejadian pembunuhan terhadap Dewa. Hingga kini, Arkam masih hidup dibalik jeruji sembari menunggu kepastian nasibnya atas kertelibatan dalam kasus pembunuhan itu. Sementara geromblona Arkam yang lainnya, hingga ini belum juga dibekuk.

            Kapolres Bima Kabupaten mengaku, akan terus memburu sejumlah terduga pelaku lain dalam kasus tewasnya Dewa. Bahkan Kapolres memberi ruang bagi sejumlah terduga untuk segera menyerahkan diri sebelum dinyatakan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). Tak hanya itu, Kapolres juga mendesak agar semua elemen di Doridungga segera memberitahukan keberadaan sejumlah terduga. Sayangnya, hingga kini harapan dan desakan Kapolres tersebut tak juga diindahkan.

            Kuatnya dugaan Kapolres akan keterlibatan sejumlah orang tersebut dalam kasus pembunuhan terhadap Dewa, terindikasi melalui masih terus menghindar sampai dengan detik ini. Kendati demikian, Kapolres mengaku tak akan pernah menyerah untuk memburunya. Oleh karenanya, sampai kapanpun Polisi akan terus memburunya.

             Kasus terbunuhnya Dewa, tak saja sukses memicu terjadinya ketegangan walau tak sampai terjadi bentrok fisik di antara dua warga. Tetapi, juga sukses melahirkan “kondisi tragis” yang menimpa warga di seluruh dusun yang ada di Desa Doridungga. Bentuknya, pipa yang mengalirkan air kebutuhan hidup dan lainnya bagi warga Doridungga yang berlokasi di Desa O’o, praktis telah dirusak.  

            Moment kejadian pengrusakan pipa tersebut, terjadi disaat ketegangan pasca kematian Dewa berlangsung. Tindakan tersebut, praktis mengalami kesengasaraan terkait ari bersih, baik untuk jkebutuhan minum, memasak, berwudhu, mandi dan kebutuhan penting lainnya. Dalam catatan media massa menyebutkan, kesengsaraan warga Doridungga soal air minum ini, sudah berlangsung sekitar satu bulan lamanya.

            Penderitaan yang sama akibat kasus pengrusakan pipa tersebut, juga menyengsarakan warga Dusun Ndano Ndedere, Desa Bajo Kecamatan Soromandi-Kabupaten Bima. Sementara air minum untuk kebutuhan beribadah dan memasak bagi warga Doridungga dan Ndano Nedere pasca pipa tersebut dirusaki, hanya bergantung kepada tetesan air dari pipa yang kemudian ditampung melalui bak yang sudah tersedia. Dan, untuk mendapatkan tetesan air bagi kebutuhannya tersebut, warga harus rela mengantri berjam-jam lamanya.

            Sedangkan upaya Pemkab Bima melalui BPBD setempat, juga melakukan pendistribusian air dengan menggunakan mobil tangky bagi kebutuhan warga Doridungga dan Ndano Ndere. Pendistirbusian air oleh BPBD tersebut, yakni sesuai dengan kebutuhan warga yang didahului oleh adanya permintaan. Sayangnya, pendistibusian air yang sampai sekarang masih dilakukan oleh BPBD, tampaknya belum mampu memenuhi kebutuhan warga.

            Pada konteks pendistribusian air tersebut, BPBD Kabupaten Bima, tampaknya harus mengalami kendala. Yakni, hanya memiliki dua mobil tangky untuk mengatasi kekeringan air yang dialami oleh warga di 59 Desa di Kabupaten Bima. Pengakuan tersebut, dikemukakan langsung oleh Kepala BPBD Kabupaten Bima Ir. H. Taufik Rusdi.

            Masih soal sebuah kondisi memperihatinkan yang dialami oleh warga tersebut, belum lama ini Kapolda NTB Brigjend Drs. Firli M.Si yang diback up oleh Kapolres Bima Kabupaten AKBP M. Eka Fathurrahman SH, SIK dan Dandim 1608 Bima Letkol Czi Yudil Hendro-menyempatkan diri untuk turun langsung ke Desa O’o. Tujuannya, selain memberikan santunan kepada keluarga Almarhum Dewa, juga menghimbau agar masyarakat Donggo mampu mempertahankan situasi keamanan wilayahnya.

            Tak hanya itu, Kapolda juga menegaskan, masalah penegakan hukum harus diserahkan kepada pihak berwajib. Sementara masalah air, itu sama sekali harus ditiadakan hubungannya dengan kasus pembunuhan terhadap Dewa. Tetapi faktanya, saran dan ketegasan Kapolda tersebut, sampai sekarang masih diabaikan.

            Sekedar catatan penting, warga Doridungga dengan warga Desa O’o, masih tercatat dalam bingkai keluarga yang lahir sejak nenek moyang hingga saat ini. Tak hanya itu, warga di seluruh Desa yang ada di Kecamatan Donggo dan Kecamatan Soromandi, juga masih satu darah. Sehingga, berbagai aspek kehidupan warga di Donggo-Soromandi, memiliki kesamaan yang dimulai dari karakteristik hingga ke soal kultur (budaya).

            Namun, atas kesengsaraan warga Doridungga dan Ndado Ndedere terkait krisis air tersebut, seolah mencerminkan adanya kesan terputusnya darah diantara mereka. Berbagai Tokoh penting termasuk Camat Donggo, Kades Doridungga dan  Kades O’o khususnya, hingga kini terkesan telah mengalami “kematian jiwa” guna mengurai “kondisi tragis” warga terkait krisis air tersebut.

            Indikasi dari “kematian jiwa” para pihak tersebut tercermin pada belum terciptanya moment penting bagi penyelsaian masalah yang sudah melebar kemana-mana ini (krisis air). Kecuali, sampai dengan detik ini mereka diduga hanya sibuk membentuk opini dan beragumentasi yang hanya bisa melahirkan wacana, ide dan gagasan kosong. Buktinya, hingga detik ini pipa yang dirusaki tersebut tak kunjung diperbaiki, hingga “peristiwa tragis soal air” yang menimpa ribuan manusia tersebut-pun tak kunjung terurai.

            Wacana, ide dan gagasan kosong sejumlah orang-juga muncul di berbagai group WA-termasuk yang berlebelkan Kekeluarga Besar (KB) Donggo. Catatan visioner.co.id-juga menduga adanya indikasi upaya provokasi dari oknum tertentu yang memicu kian tajamnya kesengsaraan warga Doridungga dan Ndano Ndere soal krisis air itu. Suara sumbang itu berbunyi “jika warga Doridungga tidak menyerahkan pembunuh Dewa, maka selama itu pula pipa yang dirusak itu tidak akan diperbaiki”.

            Atas “kematian cakrawala berpikir” tentang kunci bagi penyelesaian masalah krisis air ini, kondisi terkini menyebutkan bahwa warga Doridungga dan Ndano Ndere hanya bisa pasrah dengan keadaan. Mereka bahkan tak lagi berharap adanya aliran ari melalui pipa dari Desa O’o, kecuali berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima membangun DAM di Diwu Tanggiri yang kemudian airnya dialirkan melalui pipa ke Doridungga dan Ndano Ndere.

            Surat terbuka soal itu, pun disampaikan oleh warga Doridungga kepada Bupati Bima dan hingga Presiden RI Ir. H. Joko Widodo. Tetapi lagi-lagi, selembar surat tersebut hingga detik ini belum dijawab oleh Bupati dan Presiden RI. Krisis air yang dialami oleh warga Doridungga dan Ndano Ndere, juga sukses mengetuk hati CEO Sentral Muslim Group-sebut saja Hadi Santoso ST, MM.

            Jum’at (28/7/2017), Hadi Santoso dengan Tim khusunya melakukan penyisiran ke gunung-gunung hingga ke sumber mata air yang ada di wilayah Desa Doridungga. Tujuannya dan harapannya, menemukan sumber mata air yang kemudian akan dirumuskan kepada sebuah rencana, salah satunya pembangunan sarana dan fasilitas air yang dapat dialirkan melalui pipa bagi kebutuhan warga Doridungga dan Ndano Ndere.

            Untuk memburu tujuan utama tersebut, Hadi Santoso bersama timnya, harus melewati jalan mendaki dan curam. Tetapi sebuah kondisi tersebut, bukan merupakan rintangan bagi pihaknya untuk terus berjuang. Usai melewati tantangan dan rintangan yang tergolong berat tersebut, Hadi Santoso dengan timnya kembali ke sebuah Masjid di Doridungga untuk membeicarakan berbagai persoalan penting tentang solusi pemecahan bagi krisis air yang sudah dan sedang dihadapi oleh warga tersebut.

            Pertanyaan tentang apa saja hasil dari perjalanan tersebut, hingga detik ini, Hadi Santoso belum berhasil dikonfirmasi. Lepas dari itu, pada peristiwa tragis yang dialami Dewan hingga beresistensi pada pengrusakan pipa yang praktis menyengsarakan warga Doridungga dan Ndano Ndere tersebut, terkuak sejumlah harapan.

       Diantaranya butuh airmata, butuh ketegasan, butuh keberanian sikap, butuh kejujuran, butuh komunikasi yang selaras dengan nilai-nilai tradisi dan agama, dan butuh sikap kongkriet dari berbagai elemen khususnya di Donggo.

         Dan, Pemerintah didesak untuk turun tangan sekaligus menciptakan momentum penting bagi penyelesaian masalah dengan memutlakan keterlibatan seluruh elemen di Kecamatan Donggo. Sebaliknya, adalah bukan tidak mungkin tali persaudaraan diantara mereka akan terputus akibat “kematian jiwa dan kemiskinan cakrawala berpikir bagi penyelesaiannya”.  

 

Rizal (Pimpred) visioner.co.id/Tulisan ini disadur dari berbagai sumber, fakta dari sebuah kondisi, dan refleksi DARI nurani sebagai warga Donggo