Genangan air di salah satu rumah warga di Rabangodu Utara-Kota Bima

Visioner Berita Kota Bima-Tertanggal 21 dan 23 Desember 2016, Kota Bima dan masyarakatnya dihadapkan dengan sebuah peristiwa terdashsyat se Nusantara bernama banjir bandang. Hampir seluruh Kelurahan di lima Kecamatan di Kota Bima, dihajar bencana banjir bandang. Harta benda milik warga, hangus akibat ganasnya bencana banjir bandang setinggi 2-3 meter itu.

Akibatnya, warga Kota Bima praktis menjadi miskin seketika. Berbagai bentuk inftrastruktur Pemerintah termasuk seluruh dunia pendidikan mulai dari TK-SMA seterajat hingga perguruan tinggi swasta (PTS) di Kota Bima, juga tak luput dari ganasnya bencana terparah yang mampu menggeser Jepang ke urutan 11 tingkat dunia itu (bencana banjir bandang Kota Bima berada di urutan 10). Karenanya, Negara pun menempatkan sebuah sebuah bencana besar yang membutuhkan perhatian besar pula. Hebatnya, tak satu warga Kota Bima pun yang meninggal dunia akibat bencana terparah bernama banjir bandang itu.

Proses pemulihan traumatika warga Kota Bima, pun terus dilakukan saat itu. Alhasil, psiokologis masyarakat  berhasil dipulihkan kembali. Tetapi, pada sisi lainnya terkait penanganan pasca bencana, tercatat hingga hari ini masih banyak yang belum mampu dituntaskan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bima. Diantaranya, realokasi rumah warga di bantaran sungai maupun diluar bantaran sungai, normalisasi sungai, pembangunan rumah warga yang hanyut dan rusak berat, pembenahan drainase dan lainnya.

Peristiwa nyata terpahit yang dialami oleh ratusan ribu warga Kota Bima berlebelkan banjir bandang tersebut, memang telah berlalu. Namun kekhawatiran hingga traumatika warga Kota Bima akan terulang kembalinya musibah besar tersebut, kini-pun masih dirasakan adanya kendatipun pasca bencana tersebut hingga kini-warga Kota Bima sudah bisa tersenyum dan beraktivitas kembali seperti biasanya.

Musim hujan sudah dua bulan berlangsung di Bima, pertanyaan demi pertanyaan tentang akan kembali hadirnya bencana banjir bandang di Kota Bima, hingga kini masih terus mewarnai, pertanyan demi pertanyaan tersebut, terdengar keras di dunia nyata hingga memenuhi beranda Media Sosial (Medsos) layaknya Facebook. Pertanyaan dan kekhawatiran itu, muncul ketika setiap kali hujan lebat melanda Kota Bima sejak Oktober-desember di tahun 2017 ini.

Dalam catatan media massa di penghujung 2017 ini melaporkan, sudah beberapa kali sejumlah pemukiman warga yang digenangi oleh air dengan ketinggian puluhan centi meter (CM) akibat luapan air dari sungai. Hal tersebut, juga tercatat membuat warga traumatik. Hanya saja, dalam kaitan itu tak ditemukan adanya kerugian warga karena debit air yang sangat kecil, serta genangan air segera surut.

Tertanggal 23 Desember 2017, sejumlah pemukiman warga di beberapa Kelurahan di tiga Kecamatan di Kota Bima, kembali digenangi oleh air akibat luapan banjir dari sungai. Diantaranya di RT 01/01 Kelurahan Nae, Kecamatan Rasanae Barat-Kota Bima, luapan air setinggi mata kaki orang dewasa. Namunn, dilokasi juga itu terlihat ada pekarangan warga yang hingga kini masih digenangi air. Lupan air tersebut, berasal dari aliran air dari sungai yang berlokasi di Jembatan Ranggo.

Masih di Kelurahan Nae-Kota Bima, luapan air yang praktis menggenangi rumah warga terjadi di RT 07/02. Puluhan rumah warga di lingkungan tersebut, digenangi air dengan ketinggian sekitar 60 CM. Debit air setinggi sekitar 60 CM tersebut, juga berhasil masuk kedalam puluhan rumah warga. Sementara jumlah Kepala Keluarga (KK) di lingkungan tersebut adalah 127.  

Masih dalam liputan langsung media ini (visioner) di Kelurahan Nae-Kota Bima. Genangan air yang sama, juga terjadi di lingkungan RT 07/12. Ketika media ini berada di lapangan, warga terlihat sedang berada di pinggiran jalan, dan ada pula yang sedang melakukan pembersihan rumahnya yang digenangi oleh air. Sumber luapan air yang menggenangi rumah warga tersebut, diakui warga yakni datang dari sungai Ranggo.

“Air menggenangi pemukiman warga di tiga RT di Kelurahan Nae tersebut, yakni sekitar pukul 15.20 Wita. Tak ada kerugian nyang cukup berarti dialami oleh warga, kecuali sejumlah perabot rumah tangganya yang basah karena genangan air. Rata-rata genangan air yang menimpa pemukiman warga tersebut, adalah yang berdomili di sekitar bantaran sungai. Sejak genangan air mulai menimpa pemukiman warga tersebut hingga debit air surut, tak satupun orang BPBD Kota Bima yang datang ke sini. Kecuali, ada satu dua orang dari TAGANA  saja,” beber warga Na’e.

Genangan air dari luapan air sunga yang menimpa warga, juga terjadi di lingkungan Salama-Kota Bima. Luapan air di wilayah tepatnya di sebelah timurnya Pekuburan Nae tersebut, terjadi di jalan raya di depan Masjid Hasanudin-Salama. Debit airnya, yakni sekitar puluhan CM alias nyaris sampai betis orang dewasa. Namun, sekitar pukul 17.15 Wita genangan air tersebut kem,bali surut dan kini nyaris tak terlihat lagi.

Masih dalam liputan langsung sejumlah awak media (23/12/2017), genangan air yang lumayan hebat juga terjadi di dua RT di Kelurahan rabangodu Utara-Kota Bima. Semula, luapan air tinggi betis orang dewasa terlihat nyata di depan SMAN I Kota Bima. Luapan air yang menggenangi rumah warga, juga terjadi di RT 07 dan RT 08 Rabangodu Utara. Puluhan rumah warga di dua RT tersebut, juga ikut digenangi air. Di Kelurahan Rite-Kota Bima, puluhan rumah warga di 6 RT juga digenangi air. Yakni, di RT 01, 03, 06, 07, 09, dan 10

Tak hanya itu, genangan air juga terjadi di SDN 05 sampai di belakang STM 45 Kota Bima. “Rumah kami digenangi air setinggi betis orang dewasa. Namun, sekarang sudah dibersihkan. Genangan air yang parah adalah di ruang tamu. Intinya di dua RT di belakang Sentral Muslim Raba, banyak rumah warga yang digenangi air,” ungkap salah seorang warga setempat yakni giring Malingi.

Bergeser di Kelurahan Matakando, Kecamatan Asakota-Kota Bima. Puluhan rumah warga setempat di beberapa RT termasuk rumah milik Ceo Sentral Muslim Bima, Hadi Santoso ST, MT juga tak lepas dari genangan air yang bersumber dari banjir gunung. Banjir yang datang dari gunung, berhasil meluap hingga ke persawahan hingga menggenangi sejumlah warga di wilayah itu.

“Pekarangan dan di dalam rumah juga di genangi air hampir setinggi betis orang dewasa. Bukan saja rumah saya yang digeangi air, tetapi juga ada bdeberapa rumah warga di lingkungan ini. Perabot rumah juga basah, salah satunya kursi yang berada di ruang tamu,” beber Hadi Santoso.

Masih di Kelurahan Matakando-Kota Bima, genangan air juga menimpa puluhan rumjah warga di tiga RT. Yakni, RT 06, 07 dan 08, ketinggian airn yang berasa dari gunung, kata Irawan warga sekiitar adalah mencapai selutut orang dewasa.  “Persawahan dan puluhan rumah warga di Matakando dan Soncolela digenangi air yang bersumber dari banjir gunung dalam durasi waktu sekitar dua jam lebih lamanya. Intinya, banyak rumah warga yang digenangi air pada akibat hujan yang terjadi hari ini,” terang Irawan.

Luapan air bukan saja menimpa rumah warga di Matakando-Kota Bima, tetapi salah satu SD sekitar juga tak lepas dari genangan air. “Hampir setip hujan, banjir yang datang dari gunung praktis emnggenangi puluhan rumah warga setempat. Kalau sebelumnya genangan airnya tidak terlalu besar, namun hari ini tergolong lumayan parah,” terang Irawan.

Beralih ke Kecamatan Asakota-Kota Bima. Hujan deras yang terjadi pada Sabtu (23/12/2017) juga berhasil menggenagi puluhan rumah warga du RT di Lewi Jambu, Kelurahan Melayu-Kecamatan Asakota. Yakni di RT 016 dan RT 017/07. Luapan air dari kali setempat hingga menggenangi rumah warga tersebut, diakui oleh Anas Syafrudin sekitar 70 CM.

“Air yang menggenangi puluhan rumah warga di dua RT ini adalah akibat luapan dari kali setempat. Banjir hingga meluap di rumah warga di dua RT ini, juga datang dari kali di sebelah timurnya. Tak ada kerugian berarti yang dialami oleh warga, kecualio banyak perabot rumah tangga yang basah,” ungkap Anas.

Yang tak kalah menariknya, di beberapa wilayah Kota Bima disaat terjadinya hujan deras (23/12/2017), banyak warga yang melakukan siaran langsung kemudian posting di FB terkait banjir yang ada di beberapa sungai dan menggenangi rumah warga. Salah satunya, yakni di jembatan Ranggo, lingkungan Salama, Matakando, Rabangodu Utara dan lainnya. Jalan raya juga terlihat sempat macet, karena warga sedang melihat secara langsung tentang kondisi air di sungai dimaksud.

Hingga berita ini di tulis, Kepala BPBD Kota Bima Ir. H. Syarafudin belum berhasil dikonfirmasi. Nomor HP yang biasa digunakan oleh yang bersangkutan sebelumnya, beberapakali dihubungi, terdengar nada off (mati alias tidak aktif). Saat ini ini hujan sudah berhenti, dan genangan air yang menimpa pemukiman wargta di sejumlah di Kota Bima terlihat sudah tidak ada lagi. Tetapi kekhawatiran warga akan adanya luapan air susulan, kini masih terlihat adanya.

Salah seorang warga Kota Bima, Muhammad Arifudin S. Sos menuding, luapan air yang menggenangi pemukiman warga di sejumlah dilayah di Kota Bima, salah satunya disebabkan oleh wilayah laut yang ditimbun oleh oknum tertentu. Akibat timbunan tersebut katanya, aliran air tidak lancar lancar ke hilir. Akibatnya, banjir meluap hinga ke pemukiman warga khususnya yang berdomilisi di bantaran sungai dan sekitarnya. “Faktanya memang seperti itu, silahkan tulis beritanya dan saya siap mempertanggungjawabkannya,” timpal Muhammad Aruifudin S.Sos, Sabtu (23/12/2017). (TIM VISIONER)