Inilah potret bendungan rusak yang menyengsarakan petani itu

Terdapat sebuah pemandangan kurang menarik di salah satu lokasi di Desa Rade, Kecamatan Madapangga-Kabupaten Bima. Hal tersebut, terkemas menjadi sebuah peristiwa besar yang diamati akan semakin membuka ruang penderitaan para petani. Yakni, sebuah bendungan yang semestinya dijadikan sarana penampungan air yang bisa mengairi sawah warga, kini tak berfungsi.

Yang lebih fatal lagi, bangunan irigasi juga patah karena diterjang banjir. Akibatnya, kondisi pertanian warga tumbuh secara tak normal. Karenanya, pemerintah didesak segera membuka mata. Menariknya, kondisi tersebut terjadi sejak puluhan tahun silam. Celakanya, pemerintah dinilai hanya berpangku tangan. Berikut catatannya.

So Tolo Kara, diakui sebagai salah satu lahan pertanian produktif milik sebagian besar masyarakat Desa Rade, Kecamatan Madapangga-Kabupaten Bima. lahan tersebut dimanfaatkan untuk pertanian padi, kacangkedelai, kacang ijo, jagung dan sejumlah model tanaman lainya.

Luas lahan di So Tolo Kara itu sekitar kurang ratusan hetar dengan model penanaman hingga 3 kali panen dalam. kini keadaan dialami ratusan para petani yang memiliki lahan pertanian di lokasi tersebut sudah jauh berubah ketimbang tahun sebelumnya. Sumber air yang biasanya lancar, kini semakin sulit untuk diperoleh akibat sarana penampungan air seperti bendungan yang ada mengalami kerusakan yang sangat parah. 

Salah seorang tokoh masyarakat juga petani setempat, H. Muhtar Muhammad mengungkap, bendungan cabang empat merupakan salah salah satu harapan petani di So Tolo Kara. Lebar bendungan tersebut sekitar 30 meter lebih. Mestinya bendungan tersebut berfungsi sebagai sarana penampungan air yang bersumber dari sungai Kasa dan Madafeli untuk menghidupkan pertanian warga di So Tolo Kara. Mirisnmya, kini kondisi bendungan sudah tidak bisa berfungsi. Pasalnya, sudah dipenuhi oleh batu dan pasir.

  “Dulu disaat bendungan masih aktif, petani di So Tolo Kara tidak pernah mengalami kesulitan air untuk mengairi tanamanya. Karenanya, dalam setahun petani bisa melakukan 3 kali panen. Sayangnya, hampir puluhan tahun keadaan bendungan tersebut tidak berfungsi. Puluhan tahun sudah petani mengeluh. Karena, hasil yang duiperolehnya sangat memprihatinkan. Pasalnya, air yang diharapkan untuk mengairi lahan pertanian mereka semakin sulit untuk didapat,” keluhnya kepada tabloid Visioner-Visioner Online, belum lama ini.

Tahun lalu bendungan tersebut pernah dilakuan pekerjaan lante belakang dan sayap kiri-kanan oleh Kepala Urusan (KAUR) Desa setermpat dengan anggaran sekitar Rp100 juta. Namun, klonstruksinya tak bertahan lama. “Baru dihajar oleh banjir sdatu kali, konstruksi yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp100 juta itu langsung rubuh. “Memang awal mulai pekerjaan, banyak masyarakat yang menilai bahwa hasilnya tidak akan bertahan lama. Sebab, model pelaksanaannya dinilai tak mengedepankan kualitas,” tandasnya.

Akibat bendungan mengalami kerusakan yang sangat fatal, kondisi yang dihadapi oleh petani di So Tolokara, diakuinya kian beragam. Tak sekedar persoalan bendungan yang sudah tidak berfungsi, tetapi juga petani sedang dihadapkan dengan kondisi banguinan irigasi yang sudah patah karena diterjang banjir.

“Akibatnya, saat ini air tidak bisa mengairi sawah. Akibat lainnya, pertumbuhan tanaman padi milik petani tidak ada yang bisa hidup normal. Yang paling fatal lagi, kondisi tersebut akan membuat warga kian sengsara akibat gagal panen. Untuk itu, warga mendesak agar irigasi tersebut segera diperbaiki. Untuk mengantisipasi gagal panen, warga melakukan upaya sendiri. Yakni, mengunakan air bor untuk mengairi sawah. Sekali lagi, pemerintah diharapkan mendengar jeritan petani ini,” pintanya. 

Pemerintah Desa Rade melalui Sekretaris Amirudin, SPd membenarkan kondisi bendungan dan nasib yang dialami oleh para petani tersebut. “Kami sudah memantau langsung keadaan bendungan tersebut. Memang mengalami rusak parah hingga saluran irigasi tidak bisa dilalui oleh air,” akunya belum lama ini.

Mantan pengurus Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) ini menjelaskan, soal bendungan dimaksud Pemerintah Desa Rade telah mengerjakan lebih dahulu lewat alokasikan anggaran ADD tahun 2016. Tujuanya untuk menanggulangi kondisi tersebut guna meminimalisir keluhan warga (agar air bisa mengairi sawah warga di So Tolo Kara). “Antisipasi itu dilakukan karena bangunan irigasinya patah akibat diterjang banjir.  Namun karna kondisi alam dimusim hujan, akhirnya pekerjaan dilakukan itu kembali rusak karena dihantam banjir. Mirisnya, para petani kembali mengeluh,” tandasnya.

Kepala Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kecamatan Madapangga, Akhyar Anis S.Pt mengungkap, kondisi pertanian masyarakat Desa Rade di So Tolo Kara saat ini dalam keadaan terancam. Hal itu diakibatkan oleh saluran air yang biasa diperguanakan untuk mengairi sawah, sudah putus dan rusak parah akibat diterpa banjir. “Akibatnya, tanda-tanda kerusakan padi sudah terlihat,” sahutnya. 
 “Keadaan itu telah dipantau secara langsung. Memang benar tanaman padi masyarakat, semunya tidak ada yang normal semenjak bendungan dan saluran irigasi itu rusak,” tandasnya. (Must)