Farhan (kiri)

Visioner Berita Kota Bima-Peristiwa pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Farhan terhadap sahabatnya sendiri yakni Mu’amar Ramdhan warga asal Kelurahan Sarae Kecamatan Rasanae Barat-Kota Bima sekitar tiga bulan silam, bukan saja menyisakan duka dan air mata berkepanjangan bagi keluarga korban. Tetapi, peristiwa ini juga tercatat sebagai yang terheboh di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Berbagai spekulasi-asumsi menduga, kasus ini diduga erat kaitannya bermotifkan dendam dimana korban sempat memergoki Farhan “sedang anu” dengan sesama jenis. Dan dugaan tersebut disinyalir sebagai bahan-olok oleh korban bersama rekan-rekannya terhadap Farhan hingga memicu lahirnya dendam hingga pada akhirnya Mu’amar dibunuh secara sadis.

Atas kejadian itu pula, suasana Kota Bima sempat tegang karena keluarga korban mengamuk saat melakukan aksi demontsrasi mendesak Polisi segera mengungjkap pelakunya. Pada saat yang bersamaan (ketegangan) Farhanpun sempat melarikan diri namun pada akhirnya berhasil dibekuk oleh Tim Jatanras Polres Bima. Karena saat itu diakui sempat melawan petugas, kaki farhanpun dibobol dengan timah panas dan selanjutnya dibawa ke Mapolres Bima Kota untuk dilakukan penahanan.

Hingga Mei 2019, penanganan kasus pembunuhan terhadap korban diakui masih belum rampung oleh Penyidik Sat Reskrim Polres Bima Kota. Buktinya, hingga sekarang kasusnya belum dilimpahkan kepada pihak Kejaksaan. Akibat berkasnya dinyatakan belum rampung, akhirnya masa tahanan Farhan diperpanjang selama 20 hari kedepan.

Selasa (30/4/2019), dengan tak sengaja Visioner bertemu dengan Farhan di ruang Reskrim Polres Bima Kota. Pada moment tersebut, Farhan tampil dengan celanda pendek dengan baju kaos tanpa lengan berwarna hitam. Perubahan warna kulitnya pun terlihat nyata, selama berada di sel tahanan hingga sampai saat ini Ferhan terlihat putih-bersih. “Alhamdulillah saya masih baik-baik saja disini. Keluarga juga sering menjenguk saya di sini. Pelayanan di sinipun sangat baik,” papar Farhan dengan nada pelan.

Remaja yang dikenal pendiam namun diketahui ternyata sadis setelah membunuh sahabatnya sendiri (Mu’amar) ini, mengaku sel tahanan mengajarkanya untuk mengenal Tuhan (Allah SWT). Di dalam sel tahanan Polres Bima Kota sejak di ditahan hingga saat ini, dia mengaku tak pernah meninggalkan Sholat. “Di sel tahanan ini, setiap hari saya mengaji dan Sholat lima waktu sehari-semalam. Saya bertaubat, menyesal dan memohon maaf kepada publik terutama kepada seluruh keluarga saya dan keluarga korban. Tetapi, saya belum memohon maaf secara langsung kepada keluarga koban. Namun lewat kesempatan ini, saya mohon agar mereka memaafkan saya,” pintanya sembari menundukan kepala. 

Pada moment yang juga disaksikan oleh sejumlah personil Penyidik Reskrim Polres Bima Kota tersebut, mengungkap sesuatu yang sangat mengejutkan. Yakni di sel tahanan itu sering didatangi oleh almarhum Mu’amar yakni pada malam hari. “Di sel tahanan ini, saya sering menemukan dia. Dia datang hanya berdiri dan melihat saya tanpa berbicara apa-apa. Bukan hanya sekali dia datang, tetapi berkali-kali,” ungkapnya.

Lepas dari itu, Farhan mengaku bahwa hubungan bersahabatannya dengan Mu’amar dimulai sejak kecil hingga jauh sebelum peristiwa pembunuhan itu dilakukannya. Tetapi, Farhan mengakui bahwa persahabatan keduanya berakhir tragis. “Saya membunuhnya karena dendam. Maksudnya sebelum kasus pembunuhan itu terjadi, dia sering mengolok-olok saya,” katanya.

Benarkah anda diolok-olok oleh korban karena kedapatan berhubungan intin dengan sesama jenis dengan seseorang?. Pertanyan itu pun dibantahnya. “Tudingan itu adalah tidak benar. Saya membunuhnya karena dendam karena sering diolok-olok oleh dia,” bantahnya.

Farhan mengaku membunuh sendiri korban pada malam itu itu di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Dia kembali mengaku, menggorok leher korban dengan menggunakan kater seharga Rp2 ribu. “Saat itu korban sedang tidur dan selanjutnya saya menggorok lehernya dengan kater. Namun sebelum menggoroknya, terlebih dahulu saya menindidis di sekitar lehernya agar tidak bisa bergerak. Karena posisinya sudah dikunci (ditindis dengan kuat menggunakan kaki), selanjutnya saya menggoroknya. Usai digorok, korban sempat bergerak. Namun selanjutnya, saya kembali membuatnya tidak berdaya dan kemudian meninggalkan TKP,” terangnya.

Namun sebelum membunuh korban, Farhan mengaku masuk melalui pintu depan dalam keadaan setengah terbuka. Saat itu, korban sedang tidur bersama Fadil di kamar tamu di rumah itu (TKP). “Saya membunuhnya seorang orang diri alias tidak melibatkan siapapun. Dan pada malam itu, saya datang sendiri di TKP. Saat saya membunuh korban, Fadil sedang tidur dengan sangat nyenyak. Karena tidurnya sangat nyenyak, Fadil tidak mendengar dan tidak pula melihat saat saya masuk ke rumah itu hingga berhasil membunuh korban. Usai membunuh korban, saya langsung meninggalkan TKP,” tutur Farhan.   

Resiko terberat atas kasus pembunuhan sadis tersebut, pun harus ia terima. Namun dia mengaku tidak tahu berapa lama dirinya harus mendekam di dalam penjara. Tetapi dia sadar membunuh korban karena tak mampu menahan amarah lantara sering diolok-olok. “Saya lupa segalanya karena dikuasai amarah. Yang saya bunuh adalah sabat saya sendiri. Persahabatan itu dibangun sejak kecil sampai kami dewasa. Sekali lagi, saya khilaf dan sangat berdosa. Oleh karena itu, maafkanlah saya,” pungkas Farhan. (TIM VISIONER)