dr. Adi Winarko

            Sejumlah peristiwa menarik dan mengangetkana publik, bukan saja pada RSUD Bima pasca statusnya ditingkatkan menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Tetapi, juga terjadi di RSU Persiapan (RSP) Sondosia-Kabupaten Bima.  

            Di RSP Sondisia misalnya, terjadi kasus dugaan penggelapan anggaranyang dilakukan oleh Kepala institusi tersebut-sebut saja dr. Adi Winarko. Adi diduga menggelapkan anggaran Rp75 juta. Kejadian tersebut terungkap belum lama ini. Modus operandinya, Adi sebelumnya disinyalir mengajukan permohonan permintaan uang untuk keperluan pembelian obat kepada Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Bima.

            Pihak Instalasi Farmasi Kesehatan (IFK) Kabupaten Bima mengungkap persoalan tersebut. Setelah permohonan Adi direstui oleh Dinas, Bendahara RSP Sondosia langsung datang mengambil uang puluhan juta rupiah tersebut ke Dinas. Uniknya, setelah uang tersebut dicairkan, disinyalir kuat Adi memerintahkan bendahara untuk memasukan ke dalam rekening pribadinya, bukan ke rekening RSP Sondosia.

            Anehnya, uang tersebut diduga tidak digunakan oleh Adi untuk belanja obat. Tetapi, diduga digunakan untuk kepentingan pribadi. Kwitansi pembelian obat yang menggunakan anggaran tersebut juga diduga fiktif. Masalahnya, setelah pihak IFK melakukan pemeriksaan terhadap obat yang mengaku dibeli dengan uang tersebut, ternyata fisik obatnya tidak ada. Pengakuan bahwa sebahagian uang tersebut telah dipergunakan untuk membeloiradiologi, juga disinyalir fiktif.

            Kasus tersebut, akhirnya digiring oleh pihak IFK ke Inspektorat Kabupaten Bima. Sayangnya, hingga detik ini pihak Inspektorat belum juga melakukan pemeriksaan terhadap Adi. Kepala Inspektorat Kabupaten Bima, Drs. H. Arifudin mengaku belum melakukan pengecekan terhadap laporan terkait Adi itu. “Jujur, saya belum tahu. Karena, belum mengecek laporan tersebut. Tapi, akan saya usahakan mengeceknya dalam waktu dekat,” ujar Arifudin, belum lama ini.

            Sementara itu, Kepala RSP Sondosia-Kabupaten Bima Adi Winarko, membenarkan adanya pengambilan uang dari Dikes senilai Rp75 juta tersebut. Uang tersebut diperintahkannya untuk dimasukannya ke dalam rekening pribadi karena alasan bahwa RSP Sondosia tidak memiliki tempat kas untuk penyimpanan uang. “Ya, itu alasan sehingga saya memerintahkan uang tersebut dimasukan ke rekening pribadi saya,” kilah Adi, beberapa hari lalu.

            Tetapi, uang tersebut katanya sudah dikeluarkan dari rekening pribadinya dan sudah dibelanjakan untuk obat-obatan yang dibutuhkan. “Yang sudah dibelanjakan ke gudang obat dan diterima, sekitar Rp16 juta. Yang dipergunakan untuk keperluan lain di RSP ini sekitar Rp24 juta. Uang yang diterima dari Dikes tersebut, bukan saja dipergunakan untuk keperluan pembelian obat. Tetapi, juga digunakan untuk beli oksigen, dan kebutuhan pada unit radiologi. Sedangkan yang masih tersisa Rp20 juta, sedang kita rencanakan untuk beli obat ke IFK,” katanya.

            Tentang temuan IFK yang kemudian dilaporkan ke Inspektorat tersebut, Adi menyatakan akan dijadikan sebagai pengalaman baru. Dan, Adi juga mengaku telah bertemu dengan Kepala IFK, Nurkasna Wahyuni. “Obat yang sudah kami belanjakan dengan uang tersebut, pengadaannya bukan lewat IFK. Karena, saya sendiri gak tahu prosedur pengadaannya. Jadi sisa uang yang belum dibelanjakan ini akan kami serahkan untuk diadakan melalui IFK saja. Dan, selanjutnya juga akan melakukan hal yang sama. Jujur saja, sebelumnya saya tidak tahu kalau pengadaan obat harus melalui IFK,” paparnya.

            Atas temuan IFK hingga dilaporkan ke Inspektorat tersebut, Ady menyatakan sangat berterima kasih sekali. Dan, administrasi pembelanjaan obat dan lainnya di luar IFK tersebut katanya sudah diperbaiki. “Saya sempat membuka rekening atas nama RSP Sondosia, dan yang satunya lagi saya membuka rekening khusus Rumah Sakit tetapi atas nama saya. Tetapi, rekening atas nama saya tersebut akan segera diganti dengan nama RSP Sondosia,” janjinya.

 

            Dari anggaran Rp75 juta tersebut, kendati sudah sebahagiannya sudah dibelanjakan untukkeperluan obat dan lainnya, tetapi masih ada sisanya. “Selain yang sudah dibelanjakan, masih tersisa sekitar Rp20 juta. Sisa anggaran tersebut, rencananya juga akan dipergunakan untuk beli obat bagi kebutuhan pasien,” pungkasnya. (Rizal)