Hartoyo SE., M.Ak

Visioner Berita Kota Bima-kasus dugaan penghinaan terhadap suku Donggo-Kabupaten Bima oleh akun Facebbok (FB) bernama Lafi Firman beberapa waktu lalu, hingga kini masih ditangani oleh pihak Polres Bima Kota. Firmansnyah alias Firman yang juga lulusan terbaik nomor urut ke depalan pada Prody Ekonomi STKIP Bima, tercatat sudah tiga hari dengan sekarang mengamankan diri di Unit Tipiter Sat Reskrim Polres Bima Kota.

Lepas dari itu, Dosen Prody Ekonnomi Hartoyo SE, M.Ak sekaligus Dosen Pembina Firman yang beberapa hari tak muncul di permukaan, kini akhirnya datang ke Redaksi visioner.co.id di lantai III Central Muslim Group yang berlokasi di pusat pertokoan Jln Flores-Kota Bima, Selasa malam (24/10/2017). “Firman adalah mahasisswa binaan saya. Anak itu diduga ahli soal ITE. Dia dekat dengan seorang warga Donggo bernama Edy Haryanto. Sebab, Edy punya rental komputer dan Firmanlah sebagai tenaga teknisinya,” jelas Hartoyo.

Pada puncak kemarahan warga suku Donggo melalui Media Sosial (Medsos), selaku Dosen Pembina, Toyo pernah memanggil Firman. “Dua hari berturut-turu terhitung dari tanggal 18/19 Oktober 2017, saya memanggil Firman untuk melakukan klarifikasi terkait dengan status FB bernama Lafi Firman yang diduga kuat menghina suku Donggo. Pada saat itu, Firman tidak mengakuinya. Kecuali, dia menuding bahwa pemilik akun itu adalah bernama Nur Eka Rahmawati S.Pd. Tudingannya tersebut menurutnya, disertai dengan bukti hasil WA Eka ke Firman. Begitu pengakuan Firman, tetapi dia tindak menujukan bukti Wanya Eka  itu kepada saya. Kecuali, bukti yang ditunjukannya saat itu adalah fotonya Eka,” beber Toyo.

Langkah selanjutnya, Toyo mengaku pernah mengarahkan Firman untuk melaporkan aku FB bernama Lafi Firman yang diakui telah mencatut namanya melalui Medsos. Dan atas arahan tersebut, Toyo menjelaskan, Firmanpun melaporkannya. “Setelah melapor, akhirnya dia kembali bertemu dengan saya yakni pada (20/10/2017),” ungkapnya.

Tertangga 20 oktober 2017, Toyo mengajak Firman untuk ke berangka ke rumahnya Ketua Paguyuban Donggo, Drs. H. Mustahid H. Kako, MM. Tujuannya, untuk melakukan klarifikasi terkait dengan postingan penghinaan suku Donggo oleh akun FB bernama Lafi Firman.

“Saat malam malamnya (masih tanggal 20 Oktober 2017), Sekdes Rabakodo Kecamatan Woha menelephone saya. Sekdes menyatakan, bahwa rencana berangka ke rumah H. Mustahid ditunda dulu karena menyangkut keselamatan Firman. Tetapi menurut H. Mustahid, sore itu ada orang yang ke sana. Tetapi, tidak sempat masuk ke rumah H. Mustahid. Menurut H. Mustahid, seorang putrinya mengaku pernah menemukan ada orang yang kerumahnya,” tutur Toyo.

Sebelum rencana ke rumah H. Mustahid, Toyo mengaku  ditelephone oleh Firman terkait kapan waktunya untuk menghadap H. Mustahid. Toyon kemudian menjawab, pertemuan itu akan dilakukan pada malam hari. Sebab, sore harinya H. Mustahid kemungkinan besar tidak ada di rumahnya.

“Tetapi yang mengherankan, kok akun FB bernama Lafi Firman tahu rencana saya besarta Firman untuk menghadap ke rumahnya H. Mustahid. Karenananya, saya bertanya melalui telephone ke Firman tentang adanya status yang diposting oleh akun FB La Firman tentang rencana keberangkatan ke sana. Namun, Firman mengaku tidak tahu soal postingan dimaksud. Pada saat itu, Firman sedang bersama Edy Haryanto di rental komputer yang berlokasi di sekitar Kampus STKIP Bima,” tandasnya.

Toyo kembali membeberkan, akun bernama lafi Firman pernah mengaku khilaf kepadanya. Pengakuan tersebut, berlangsung melalui inboknya. “Mada minta Maaf (saya minta maaf), Pak Dosen. Mada waura khilaf poda akana (saya sudah tadinya). Begitu pengakuan akun FB bernama lafi Firman itu melalui inboknya ke akun FB saya,” ujar Toyo.

Jika pada pemberitaan sebelumnya, Firman mengaku tidak pernah berpacaran dengan seorang perempuan asal Donggo, tepatnya di Dusun Langgentu, Desa O’o. Namun, Toyo juster membeberakan, Firman pernah menjalin hubungan kekasih dengan seorang wanita asal Dusun Langgentu.

“Dia mengaku pernah berpacaran dengan perempuan asal Dusun Langgentu kepada saya. Pengakuan itu, berlangsung di Kampus STKIP, tepatnya setelah dua hari adanya postingan penghinaan suku Donggo oleh akun FB bernama Lafi Firman. Hanya saja, Fiirman tidak menjelaskan identitas perempuan asal Dusun Langgentu itu. Tetapi, Firman mengaku sudah putus dengan wanita asal Langgentu itu,” papar Toyo.

Hal lain yang membuat Toyo terkejut, yakni pencatutannya namanya sebagai saksi atas laporan Firman soal penghinaan terhadap suku Donggo melalui Medsos oleh akun FB bernama Lafi Firman. Pasalnya, pencatutan nama Toyo tersebut tidak dikofirmasikan lebih awal sebelum laporan itu dilakukannya di Mapolres Bima Kota.

“Sesaat setelah mereka melaporkannya ke Polisi, informasi tersebut kemudian di posting ke Medsos lewan akun salah seorang yang juga dekat dengan Firman. Saya tahu menjadi saksi bagi laporan Firman, yakni ketika membaca postingan di Medsos. Yang jelas, saya keberatan dengan hal itu. Akibat pencatutan tersebut, keluarga dan saudara sayapun marah sampai sekarang. Kendati demikian, saya sudah memberikan kesaksian atas laporan Firman ke Unit Tipiter Polres Bima Kota, Selasa siang (24/10/2017),” ucapnya.

Toyo mengaku, dimintai keterangan sebagai saksi atas laporan Firman oleh penyidik Tipiter, berlangsung sekitar satu jam lebih. “Sekitar 10 pertanyaan yang diarahkan oleh penyidik kepada saya. Dan semuanya, telah saya jawab. Karenanya, saya sudah di BAP oleh penyidik atas laporan Firman. Namun atas laporan suku Donggo terkait kasus penghinaan suku dimaksud, saya juga sangat siap untuk tampil sebagai saksi di Penyidik,” pungkasnya. (TIM VISIONER)