ilustrasi

FILM TV YANG MENYESATKAN GENERASI

 

(Telaah Film India di ANTV)

 

Oleh: La Ndolo Conary

 

 

Perfilman merupakan salah satu dunia kesenian yang sangat digemari oleh masyarakat. Film bukan sekedar hiburan bagi masyarakat, tetapi mampu menyajikan berbagai hal. Dalam film mampu menyajikan berbagi nilai, diantaranya nilai agama,adat istiadat, politik, sosial budaya, fashion. Nilai tersebut mampu mempengaruhi masyarakat (penonton) dengan cepat karena media visual sangat muda ditiru.

 

Jika dilihat sejenak, dunia film hanya menghibur penontonya. Setiap waktu penonton hanya melihat peran yang menghibur (komedi) dan peran yang menyedihkan, tiba-tiba tertawa kemudian menunjukan wajah yang sedih. Banyak penonton yang ikut terhipnotis saat menikmati ceritanya, namun hal itu tidak terlalu lama terjadi. Peristiwa yang dihadapi penonton itu, jika kita ikut pandangan Antoni Gramsci sebagai kesadaran naif. Kesadaran yang pura-pura saja, mereka sejenak keluar dari realitas kehidupannya sementara. Setelah film selesai maka penonton kembali pada kehidupanya yang normal, kehidupan yang benar-benar nyata.

 

Kini perkembangan film TV selain hiburan, film juga sangat potensial untuk merusak pola pikir para generasi. Lebih-lebih untuk generasi yang masih berumur 7-12 tahun anak sekolah dasar, pada umur tersebut manusia masih berperilaku sesuai dengan yang mereka lihat , memiliki kemampuan untuk menirukan sesuatu dengan waktu singkat, anak-anak usia tersebut belum bisa menganalisa lebih panjang nilai baik-buruknya terhadap yang mereka tonton. Film di zaman sekarang lebih banyak menonjolkan gaya pakaian dan mempertontonkan bentuk tubuh dibandingkan nilai yang dikisahkan dalam alur ceritanya.

 

Salah satu dasar analisa penulis yakni film di ANTV, menurut penulis beberapa film di ANTV mempunyai misi untuk menjauhkan nilai agama islam dan kebudayaan terhadap cara berpikir generasi, sebut saja misalanya film Krisna, Asoka, Putra Mahkota dan Jhoda Akbar yang berkisah tentang ksatria dari kerajaan india. Film tersebut jika direnungi secara mendalam memiliki sisi negatif bagi perkembangan generasi, Pertama; mampu rusak nilai keyakinanya, film yang berasal dari india tentu menceritakan cara-cara penyembahan sesuai dengan agama mayoritas di negerinya. Secara agama mereka akan menanamkan nilai agama yang dianutnya dan tentu mempunyai misi untuk agama mereka, dewa-dewa yang menjadi Tuhan mereka memberikan contoh yang praktis dalam menjawab persoalan yang dihadapi oleh penganutnya.

 

Hal ini jika ditonton terus menerus justru akan mempengaruhi pola pikir generasi, mereka akan mengikuti cara penyembahan agama yang diperankan dalam film itu dan keyakinan mereka tentang Allah SWT bisa pudar, kebiasaan tokoh menyembah akan tersimpan dalam memori generasi. Mereka akan mengikuti bahwa meminta tolong sangat muda serta bisa prantara patung. Kedua; kebudayaan, aspek kebudayaan daerah dan nasional tidak akan diminati oleh generasi. Mereka tidak akan bangga untuk memakai sesuatu yang dihasilkan oleh orang di daerahnya atau di negerinya. Generasi kedepannya selalu menganggap jenis kesenian dan kreatifitas dalam negerinya tidak bermutu, karena mereka dari kecil diperhadapkan tontonan yang sengaja menjauh dari realitas kehidupanya. Bagi mereka semua yang telah ditonton sejak kecil itu lebih unggul. Rendahnya minat generasi terhadap hasil karya dalam negeri akan terjadi.

 

Ketiga; keteladanan terhadap tokoh, minimnya film yang menceritakan tokoh-tokoh nasional di stasiun TV akan mempengaruhi idola generasi pada ketokohan dalam negeri. Tayangan film india di ANTV seakan-akan menjadi solusi bagi generasi yang mulai kehilangan keteladanan terhadap tokoh, mereka tidak mengenal tentang Soekarno, Muh.Hatta, Jend.Sudirman sebagai tokoh nasional yang berjasa dan lebih gigih perjuanganya.

 

Belum lagi jika kita bicara tokoh islam yang memang rentang waktunya sangat jauh dari generasi sekarang, misalnya kita bica tokoh sejak jaman Rasulullah SAW samapi tokoh islam di Indonesia. Keteladanan bagi generasi tergantung sering dilihat dan sering diceritakan, ketika mereka sering melihat maka akan mempraktekannya. Keempat; model pakaian (fashion), apabila rasa kagum menjadi idola (fans) maka segala sesuatu akan diikuti, termasuk model pakaian mereka. Dulu ketika film Batman ditayangkan di TV, maka banyak generasi yang mengidolakan mereka.

 

Jadi dunia fashion (pakaian) banyak bermunculan seperti baju, celana dan topeng yang sering dipakai pemeran Batman dalam filnya, sehingga dipasaran pakaian itu diserbu oleh pengagum Batman. Kini film india sedang digemari oleh masyarakat, bisa saja nanti pakaian (fashion) yang dipakai oleh tokoh dalam film akan bermunculan dipasaran dan digemari oleh para generasi. Pakaian mereka yang sangat jauh dari ajaran islam, model pakaian yang tidak mencerminkan etika dan estetika keislaman.

 

Beberapa film yang ditayangkan di TV terkesan menyelesaikan masalah dengan bantuan supranatural dari makluk aneh, tetapi tidak mencerminkan nilai islam. Masalah pengaruh film yang bisa menjauhkan generasi dari nilai islam memang sulit ditemukan solusinya kalau kita berpikir bersaing dengan saham pembuat film.

 

Tetapi kalau kita mau menyadari secara mendalam, maka banyak solusi yang harus dilakukan oleh masyarakat demi kebaikan generasi masa depan. Menurut pandangan penulis, jalan keluar sebagai antisipasi lebih awal terhadap kesesatan film untuk generasi kita. Pertama; Masyarakat harus punya inisiatif untuk mengaktifkan tempat belajar bagi generasi, baik tempat belajar agama maupun tempat belajar untuk pelajaran di sekolahnya. Seharusnya juga tempat belajar agama seperti Tempat Pelajaran AlQur’an (TPA) tidak hanya belajar mengenal huruf hijayah dan membaca Al-Qur’an, tetapi harus dimanfaatkan untuk menceritakan tokoh-tokoh islam.

 

Kedua; orang tua harus sejak dini disiplin mendidik anak, selain membiasakan mereka belajar di tempat lembaga yang ada, maka perlu menyiapkan sarana permainan sesuai dengan perkembangan anak. Setelah anak sudah selesai belajar, maka perlu memilihkan film yang sedikit pengaruh buruknya. Sebenarnya dunia hiburan bagi anak bisa diarahkan oleh orang tuanya, baik di TV maupun di luarnya. Ketiga; sekolah berkewajiban membuat aktivitas ekstrakulikuler bagi siswa untuk menjadi penyeimbang “hasutan” film yang ditayangkan di TV.

 

Kegiatan tersebut tentu yang berbentuk kreatifitas dan bersifat membina karakter siswa, hal-hal yang bermutu dan baru di sekolah mampu membiasakan anak sampai mereka pulang kerumahnya. Keempat; para pemimpin bertanggung jawab menjauhkan generasi dari pengaruh luar yang buruk dari dunia perfilman di TV. Pemimpin juga harus memikirkan cara agar stasiun TV tidak menayangkan film yang tidak sesuai sosial budaya masyarakat indonesia.

 

Pengaruh film di TV terhadap cara hidup masyarakat dan generasi sangat besar. Peran tokoh-tokoh dalam film menjadi contoh bagi masyarakat serta cara pakaiannya sudah menjadi gaya (style) kehidupan masyarakat, bahkan telah menjamur di pelosok desa. Walau demikian sebagai masyarakat yang memiliki akar budaya yang kuat dan nilai agama yang kental kita harus mengambil sikap demi menyelamatkan generasinnya. Sesunggunya akan selalu ada solusi pada urutan masalah yang terjadi. Semua masalah yang terjadi dan merugikan tentu menjadi kewajiban bagi kita yang menyebut diri sebagai pemimpin, ulama, guru, orang tua, dan tokoh-tokoh lain yang dihatinya masih tunduk pada ke-Esaan-Nya.***