Alam (Mantan Aktivis HMI)

Oleh: Alam (Mantan Aktivis HMI)

Medsos saat ini begitu meriah dan ramai oleh postingan yang menunjukan kemesraan antara petahana bersama Hj. Ferra Amelia SE, MM dalam beberapa moment meskipun dalam berbagai postingan tersebut tidak dijelaskan kapasitas hadirnya Hj. Ferra dalam beberapa moment kunjungan wakil walikota ditengah tegah warganya.

 Meski demikian lepas dari soal kejelasan kapasitas tersebut adalah dalam moment tersebut sangat terlihat harmonis dan menunjukan bagaimana keakraban serta kedekatan diantara kedua tokoh tersebut. Tidak mengherankan terutama para loyalis Hj. Ferra memberikan kesimpulan yang bersifat harapan bahwa pasangan Man-Ferra sebagai pasangan ideal untuk melanjutkan kepemimpinan di Kota Bima

Pada saat bersamaan ada fakta menarik yang hampir saja terabaikan oleh para loyalis Hj.Ferra yang hari ini berbunga bunga dan penuh harap kepada petahana untuk menjadikan Hj. Ferra sebagai pendampingnya pada pilkada 2018 ini.

Pertama, sebagai seorang calon yang akan diusung oleh partai koalisi, petahana tidak bisa serta merta bisa mendikte partai pengusungnya karena memang setiap partai memiliki mekanisme dan tata cara normatif yang harus diikuti oleh siapapun yamg hendak diusung oleh partai politik atau gabungan partai politik. Kedua, salah satu partai politik yang digadang gadang sebagai pengusung petahana adalah PDIP.

Partai tersebut telah menyelesaikan berbagai tahapan penjaringan baik untuk calon walikota maupun calon wakil walikota. Dari hasil penjaringan tersebut didapatilah dua nama untuk kemudian dikirim berkas atau dokument kedua figur tersebut dalam satu paket pasangan yaitu H. Arrahman dan HM. Irfan. Hal tersebut sudah sampai pada tahapan fit dan propertes langsung oleh DPP PDIP kepada kedua figur tersebut pada minggu lalu di Jakarta.

Tidak ada dokument dan berkas atas nama Hj. Ferra yang dikirim oleh DPC PDIP Kota Bima sebagai calon wakil walikota ke DPP PDIP karena memang Hj. Ferra pada saat itu tidak mengikuti proses dan mekanisme penjaringan yang di lakukan oleh PDIP mengingat pada saat itu Hj. Ferra masih bersikukuh tetap maju sebagai calon walikota dan bukan calon wakil walikota.

Ketiga, konsistensi sikap dan beberapa pernyataan HM. Irfan soal keinginanya untuk ambil bagian dalam pesta demokrasi Kota Bima hanya sebagai calon wakil walikota dari H. Arrahman dan bukan dengan calon manapun. Sikap tegas ini dilanjutkan dengan satu pernyataan bahwa HM. Irfan tidak akan bertindak sampai harus melengkapi seluruh dokument tanpa perintah atau permintaan petahana dan hal itu telah dilakukan secara baik oleh HM. Irfan.

Keempat, sangat tidak logis jika pada fit dan propertes yang dilakukan oleh DPP PDIP seorang petahana mengajak serta HM. Irfan jika memang HM.Irfan tidak diharapkan oleh petahana untuk menjadi pendampingnya. Karena segala proses di tubuh PDIP telah dilakukan oleh HM. Irfan sesuai dengan harapan dan tuntunan dari petahana agar kemudian bisa menjadi wakil dari petahana.

Kelima, petahana yang telah mendapatkan surat tugas dari partai Demokrat yang juga di gadang gadang bakal sebagai partai yang mengusung dirinya telah memandatkan kepada petahana untuk melakukan dua hal sekaligus yaitu memastikan partai yang akan berkoalisi dengan Demokrat sekaligus memastikam bakal calon wakilnya.

Implementasi dari surat mandat tersebut dilakukan dengan baik oleh petahana dengan membawa serta HM. Irfan untuk mengikuti fit n propertes di DPP PDIP sebagai calon pasangan dirinya. Hadirnya pak Irfan dalam fit n propertes tersebut menegaskan sebagaimana yang telah ditegaskan oleh HM. Irfan bahwa dirinya hanya akan melakukan serangkain mekanisme partai politik atas saran dan permintaan petahana karena memang sejak awal hingga kini HM.Irfan hanya mau menjadi calon wakil walikota bersama petahana.

Keenam, secara logis pastinya petahana telah menyampaikan kepada Demokrat sebagaimana yang dimandatkan kepada petahana bahwa partai yang akan mengusungnya dan akan berkoalisi dengan demokrat adalah PDIP dengan calon wakil yang telah memenuhi mekanisme PDIP adalah HM. Irfan.

Enam point tersebut mengkonfirmasi bahwa calon pendamping petahana audah sangat jelas dan fakta ini juga dikuatkan oleh keputusan rapat keluarga petahana yang terlanjur menjadi konsumsi public.

Kembali kepada soal hubungan mesra yang ditunjukan oleh petahana bersama Hj. Ferra belakangan, jika mengacu pada fakta fakta lain maka jalinan hubungan kedua figur tersebut dapat dipahami sebagai upaya petahana memberikan isyarat nyata kepada public bahwa petahana didukung penuh oleh Hj. Ferra dan bukan tengah ingin menjadikan Hj. Ferra sebagai pendamping yang mungkin karena momentum dan waktunya yang sudah terlambat karena semua proses untuk menjadi pendamping petahana telah diselesaikan oleh partai pengusung.

Pun jika opini yang terlanjut menyatakan bahwa pasangan Arrahman-Ferra sangat kuat tentu saja ini hanyalah klaim yang tidak ilmiah dan pastinya petahana tidak akan mendasarkan pilihannya pada klaim semacam ini. Bukan rahasia lagi bahwa petahan juga telah melakukan survei opini public sejak bulan lalu. Carta Politica menjadi lembaga survei yang ditunjuk oleh petahana. Hasil survei tersebut salah satu bagiannya juga untuk mengukur siapa figur yang pantas untuk mendampingi petahana.

Lagi lagi survei itu dilakukan jauh hari sebelum petahana mengajak HM.Irfan untuk bersama melakukan fit and propertes paket calon walikota dan walon wakil walikota di DPP PDIP. Adapun upaya untuk menyatukan petahana dengan Hj. Ferra rasanya upaya ini pastilah akan berbenturan dengan mekanisme koalisi parpol yang terlanjur menyelesaikan tahapan tahapan sebagaimana mestinya