SDM dan surat pernyataan damai resmi

Visioner Berita Kota Bima-Kasus dugaan percobaan pemerkosaan oleh oknum warga mande 1-Kota Bima berinisial SDM terhadap Bunga (nama samarannya) yang terjadi pada tiga hari sebelum Idul Ftirih 1438 H (2017), praktis melahirkan ketegangan dalam kategori luar biasa. Pun kasus ini, dinilai belum hilang dalam ingatan publik. Betapa tidak, ratusan warga asal salah satu Desa di Kecamatan Sape, sempat menyasar lingkungan Mande 1. Hanya saja saat itu, tak ada korban jiwa karena kesigapan aparat Polres Bima Kota yang diback-up oleh ratusan personil dari Sat Brimob Pelopor Den A Bima.

            Sementara SDM yang diburu oleh warga asal Sape tersebut, tak berhasil ditemukan. Sebab, yang bersangkutan lebih awal mengamankan diri di Mapolres Bima Kota, tepatnya sekitar satu setengah jam sebelum ratusan warga tersebut menyasar Mande 1. Fenomena itu, tak berakhir sampai di situ. Kasus tersebut, dilaporkan secara resmi ke Polres Bima Kota. Pihak Unit PPA Sat Reskrim Polres Bima Kota, pun sudah melakukan pemeriksaan secara resmi terhadap Bunga.

            Sayangnya, saksi pelapor yang harus dimintai keterangannya oleh penyidik PPA, tak kunjung hadir. Padahal, penyidik PPA sudah menunggu terlalu lama. Begitu kata Kanit PPA Bripka Syaiful. Sementara sejak usai kejadian berlangsung hingga beberapa hari lalu, SDM masih berstatus mengamankan diri di Mapolres Bima Kota, bukan diamankan dan bukan pula berstatus sebagai tersangka.

            Pertanyaan demi pertanyaan publik tentang kesan lambannya penuntasan kasus tersebut, pun akhirnya terjawab. Usut-punya usut, ternyata antara korban dengan terduga pelaku, masih melakukan upaya perdamaian. Atas dasar itu, Polisi harus menunggu hasil kesepakatan kedua belah pihak guna memastikan kasus tersebut akan ditangani lebih lanjut atau sebaliknya.

“Kedua belah pihak, katanya sedang berupaya untuk menempuh jalur damai. Dalam kasus ini, pihak pelapor sudah kami periksa. Sementara saksi pelapor yakni kami tunggu-tunggu untuk dimintai keterangannya, sampai sekarang tak kunjung datang,” jelas Kasat Reskrim Polres Bima Kota melalui Kanit PPA Bripka Syaiful, Minggu lalu kepada visioner.co.id.

            Tentang adanya upaya perdamaian atas permintaan keluarga terlapor dalam kasus ini, juga dibenarkan oleh paman korban-sebut saja Abdul Hafid yang akrab disapa Hefos. Pernyataan Hefos tersebut, disampaikannya kepada visioner.co.id melalui saluran selulernya, beberapa hari lalu.

“Beberapa kali pihak terlapor melalui keluarganya baik yang ada di Sape maupun di Kota Bima, memohon kepada kami agar berdamai. Dan kepada kami, pihak terlapor dan keluarganya mengakui kesalahannya. Oleh karenanya, upaya perdamaian sedang dibicarakan,” jelas Hefos.

            Semula kata Hefos, pihaknya telah menutup ruang perdamaian. Sebab, pihak terlapor tetap bertahan dengan pendidiannya. Yakni, tidak mengakui kesalahannya. “Kami hanya meminta, mereka mengakui perbuatannya. Jika tidak, maka kasusnya harus dituntaskan ke meja Pengadilan. Tetapi belakangan hari, mereka akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maafh kepada korban dan seluruh keluarganya di Sape,” tandasnya.

            Tetapi sebelumnya jelasnya, pihak keluarga terlapor membujuknya untuk mengamini permohonan perdamaian dimaksud. Dan selanjutnya, tercipta momentum rapat keluarga tentang penyelesaian persoalan ini. “Rapat keluarga, hanya berlangsung sekali. Hal itu, dilaksanakan di Sape,” terangnya.

            Dan jauh-jauh hari sebelum rapat keluarga tersebut dilaksanakan, Hefos mengungkap pernah datang ke Mande 1 untuk memenuhi permohonan damai dari pihak keluarga terlapor. Saat itu ujar Hefos, keluarga terlapor memohon kepadanya agar membukakan pintu hati mengamini masalah perdamaian.

“Saat itu, saya tegaskan bahwa masalah damai bukanlah sesuatu yang sulit. Namun kepada mereka, juga saya sampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh SDM terhadap Bunga adalah penyakit. Dan saat itu pula saya tegaskan, ketika SDM dibebaskan-maka penyakit itu akan terulang kembali,” tandasnya Hefos.

            Masih pada moment di Mande itu, Hefos mempertanyakan sekaligus meminta tentang adanya jaminan bahwa penyakit tersebut tidak terulang kembali dalam diri SDM dari pihak keluarga yang bersangkutan pula.

          “Pada pertemuan yang juga melibatkan Ketua RT setempat, mereka berjanji akan membina SDM secara bersama-sama. Untuk membicarakan masalah perdamaian, mereka tidak berani melakukannya di Sape. Alasannya, karena mereka takut. Sakit takutnya, mereka memohon dan ingin bersujud di kaki saya. Intinya, mereka memohon kepada kami untuk damai. Tak hanya itu, SDM mengakui kesalahannya, pun demikian halnya dengan SDM. Dan atas dasar pengakuan tentang kesalahan SDM dan keluarganya, akhirnya keluarga baik yang ada di Sape maupun di Kota Bima pun mengamini permohonan perdamaian,” bebernya.

            Singkatnya, setelah melewati proses dan upaya yang lumayan panjang, akhirnya kedua belah pihak menempuh jalur damai. Perdamaian keduanya, dilaksanakan di Unit PPA dan disaksikan oleh beberapa pihak termasuk penyidik-tepatnya pada Jum’at (28/7/2017).

“Mereka sudah damai secara resmi di ruang PPA. Berita acara perdamaian kedua belah pihak, juga ada di tangan kami. Setelah sepakat berdamai, pihak pelapor pun mencabut laporannya secara resmi. Berita acara pencabutan laporannya, pun ada di tangan penyidik,” jelas seorang penyidik PPA, Senin (31/7/2017).

            Soal perdamaian dalam kasus itu, juga diakui oleh SDM. Saat berbicang singkat dengan visioner.co.id di salah satu kantin di Mapolres Bima Kota, SDM menjelaskan bahwa perdamaian tersebut dilaksanakan pada Jum’at sore (28/7/2017). “Bukti perdamaian berupa surat yang ditandatangani oleh kedua belah pihak dan saksi-saksi termasuk Ketua Karang Taruna Mande dan lainnya, juga ada ditangan saya. Sebelum perdamaian resmi berlangsung, diawali dengan saya mengakui kesalahan dan memohon maaf kepada korban dan seluruh keluarganya di manapun berada,” sahut SDM, Senin (31/7/2017).

            Dalam berita acara perdamaian tersebut, juga tertuang sejumlah point. Salah satunya, setelah damai SDM maupun keluarganya tidak boleh merasa benar. “Saya mengakui telah melakukan kesalahan. Oleh kareanya, saya memohon maaf sedalam-dalamnya kepada korban dan seluruh keluargannya. Harapannya saya, semoga pengakuan kesalahan dan permohonan maaf ini dapat diterima oleh korban dan seluruh keluarganya,” pintanya.

            Pada point lain dari berita acara perdamaian tersebut, juga tertuang kalimat yang menegaskan agar SDM menjaga korban sebagaimana saudara dan keluarganya sendiri. Dan jika SDM bertemu dengan korban pasca damai, disarankan agar bisa menyapanya dengan sewajarnya. Dan point penting lainnya dalam berita acara perdamaian tersebut, jika SDM melanggar kesepakatan yang tertuang didalamnya, tentu saja akan siap berhadapan dengan ketentuan hukum yang berlaku dan sanksi dari masyarakat.

            “Saya sudah mengakui kesalahan dan memohon maaaf kepada korban dan seluruh keluarganya. Namun yang saya khawatirkan di kemudian hari, yakni adanya isu-isu lain pasca saya keluar dari Mako Polres Bima Kota. Sementara keluarga saya, juga sudah mengakui kesalahannya. Intinya, saya berjanji akan menjalani semua kesepakatan ini. Oleh karena itu, terimalah pengakuan kesalahan dan permohonan maaf ini. Sekali lagi, saya mohon,” pintanya dengan nada haru.

            Hingga pada moment perdamaian resmi itu dilaksanakan, tercatat 38 hari SDM berada di Mapolres Bima Kota. Dan dia mengakui sangat senang bahkan bahagian ketika permohonan perdamaian itu diamini oleh korban dan seluruh keluarganya. Pascanya, SDM mengakui bahwa komunikasinya dengan keluarga korban masih baik-baik saja. “Ahmadulillah, saya sudah dikasihani oleh warga Sape. Oleh karenanya, saya menyampaikan ucapan banyak-banyak terimakasih,” tuturnya.

            Lepas dari itu, cara bicaranya pria yang satu ini terlihat sangat polos. Nada bicaranya pun terdengar cukup pelan. Selama 38 hari di Mapolres Bima Kota, dia mengaku tidak dalam sel tahanan. Setiap hari, dia hanya memanfaatkan waktunya untuk membantu anggota Polres setempat untuk membeli makanan dan minuman serta kebutuhan lainnya.

“Ada satu utang besar yang belum dilakukan oleh saya terhadap korban dan seluruh keluarganya. Yakni, ingin datang ke Sape untuk bersujud di telapak kaki mereka sebagai bentuk penyeesalan sekaligus pengakuan tentang kesalahan yang saya lakukan terhadap korban serta keluarganya. Tetapi, sampai sekarang saya belum berani ke Sape untuk mewujudkan keinginan itu,” paparnya.

            Catatan lain tentag SDM ini, ternyata sejak kecil hingga saat ini, ia mengaku dibesarkan oleh orangtua angkatnya di Mande 1. Dan sejak saat itu hingga detik ini, dia juga menyatakan belum pernah bertemu dengan kedua orang tua yang melahirkannya. “Dari informasi yang saya terima, orang tua kandung saya berdomisili di Kelurahan Pane-Kota Bima. Juga ingin rasanya, saya bertemu dengan orang kandung saya. Dan, banyak pula orang yang mengharapkan agar saya bisa bertemu dengan orang tua di Pane,” pungkas SDM. (Rizal/Must/Buyung/Wildan)