IDP Dikalungi Bunga Oleh Warganya di Arena Kungker di Salah Satu Wilayah di Kabupaten Bima

Visioner Berita Kabupaten Bima-Kunjungan Kerja (Kungker) Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE (IDP) di sejumlah wilayah akhir-akhir ini, diakui disambut oleh beragam fenomena di tengah-tengah masyarakatnya. Yakni mulai dari disambut dengan meriah hingga apresiasi nyata dalam bentuk lain oleh masyarakatnya di wilayah Kungker.

Sementara berbagai isu yang berkembang tentang adanya dugaan “hal berbeda” dalam menyambutnya di berbagai wilayah Kungker, justeru tak ditemukan oleh IDP. Kecuali, masyarakat berloma-lomba menyambutnya dengan canda-tawa, keramahan, kesantunan dan nuansa kemanusiaan lainya hingga berfoto bersama. Sementara berbagai bentuk kritikan, hujatan dan sejenisnya justeru dijadikan sebagai ajang pembuktian sekaligus jawaban dari pertanyaan soal rasa cinta masyarakat terhadap dirinya.

Dan pada setiap Kungker yang sudah dilakukanya di sejumlah wilayah di Kabupaten Bima tersebut IDP menegaskan bahwa dirinya benar-benar melaksanakan kegiatan Pemerintahan alias jauh dari ranah perpolitikan. Dan melalui moment itu pula, ia tak pernah mengajak apalagi memaksa masyarakat yang berkaitan dengan kontestasi Pilkada Kabupaten Bima periode 2020-2025. Namun, IDP tidak menafikan adanya riak-riak dari masyarakat yang menyambutnya di wilayah Kungker dalam bentuk mengharapkanya untuk kembali menjadi Bupati Bima periode 2020-2025.

Kebaikan masyarakat di berbagai wilayah Kungker dimaksud, tentu saja menjadi “catatan penting” bagi IDP. Sementara Kungker di berbagai wilayah itu, ditegaskanya sebagai tugas dan tanggungjawabnya yang sampai detik ini masih menjabat sebagai Bupati Bima. Sebab, lewat Kungker ini pula IDP menjadi tahu program yang sudah dilaksanakan dan bentuk-bentuk kebutuhan lain masyarakat di bidang pembangunan yang mesti ditindaklanjuti oleh Pemerintah.

Hal ini dikemukana oleh IDP di sela-sela pleno Partai Golkar di Hotel Mutmainah, Kamis (13/2/2020). Berikut IDP berkisah mulai dari arena Kungker hingga sempat menangis ketika melihat warganya yang sakit di RSUP Mataram-NTB.

Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri SE, berkisah saat dirinya melakukan kunjungan kerja (Kunker) di Kecamatan Lambu, Wera, Sape, Bolo, Madapangga, Woha dan Donggo belum lama ini. Ibu dua anak ini mengungkapkan, saat melakukan Kunker, dia disambut meriah dan antusias oleh masyarakat. Bahkan sambutan masyarakat ditunjukkan dengan beragam cara. “Misalnya saat Kunker di Sape kemarin, pemuda dan warga langsung menyambut meriah di perbatasan Sape-Lambu, tanpa kami ketahui sebelumnya,” ucapnya.

Selama melakukan kunjungan kerja, IDP mengaku tidak pernah membicarakan soal Pilkada 2020 dihadapan masyarakat atau bahkan meminta mereka menggunakan dan menunjukkan atribut berbaur Pilkada 2020. “Soal salam dua jari dan lanjutkan itu murni ekspresi masyarakat. Keinginan masyarakat sendiri, kami sendiri tidak mampu menahannya,” katanya.

Menurutnya, persoalan Pilkada ada waktu dan tahapannya tersendiri. Hal tersebut, Ia serahkan sepenuhnya dari lubuk hati terdalam masyarakat dalam menentukan pilihanya. Beda pilihan juga tidak menjadi soal, yang terpenting kondisi daerah tetap aman dan kondusif. “Kami rasa masyarakat kita sudah cerdas dalam menentukan pilihannya dalam Pilkada nanti. Jangan karena Pilkada kita bertengkar, saling menjelekkan satu sama lain,” katanya.

Selain memberikan bantuan kepada masyarakat yang telah diakomodir dalam APBD, Kunker yang dilakukannya selama ini, bertujuan menyerap aspirasi dan meningkatkan tali silahturahmi dengan masyarakat. “Sebelum dan sesudah menjadi Bupati pun kami melakukan hal yang sama. Tapi karena ini Tahun politik, Kunker kami dianggap politis. Bagi kami itu lumrah dan wajar-wajar saja,” katanya.

Bantuan yang diserahkan juga sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Bantuan tersebut merupakan permintaan dan aspirasi masyarakat yang diakomodir dalam dalam postur APBD dan APBN tahun sebelumnya. “Mau tidak mau kita harus serahkan kepada penerima manfaat karena sangat diperlukan masyarakat. Kalaupun tidak diberikan justru akan menjadi temuan,” katanya.

Tidak hanya itu, bantuan yang diserahkan juga tidak semuanya bersumber dalam APBD dan APBN. Ia mengaku sumber bantuan dari kantong pribadi, walaupun jumlahnya sedikit. “Tidak mungkin juga kami menolak permintaan masyarakat. Sepanjang ada yang bisa dibantu dan diberikan tidak harus harus melalui APBD yang ribet,” pungkasnya.

Lepas dari itu, IDP kemudian berkisah tentang fakta kemanusiaan yang ditemukanya di Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB beberapa waktu lalu. Pada moment tersebut, IDP mengaku sempat menangis ketika melihat adanya warganya yang menderita kangker dengan kondisi memprihatinkan. “Kondisi kehidupanya sangat miskin. Karena itu, tentu saja mereka tak memiliki biaya. Oleh karenanya, mereka membutuhkan sentuhan kemanusiaan dari kita semua. Jujur, saya sempat meneteskan air mata ketika menyaksikan kondisi yang dialaminya,” ungkap IDP.

Atas nama pribadi, IDP mengaku tak tega melihat mereka dengan begitu saja. Sentuhan kemanusiaan melalui bantuan pribadi seadanya pun diberikan kepada mereka. “Dari sebuah kondisi kemanusiaan itu, kita tentu saja terpanggil untuk menyentuhnya dengan bantuan pribadi. Dan dari kondisi itu pula, kita banyak belajar tentang betapa pentingnya makna perhatian terhadap sesama manusia. Pun dari hal itu pula, saya sangat meyakini bahwa niilai berkahnya sangatlah besar. Serta dari hal itu pula, kita bisa membandingkan tentang kondisi kehidupan kita dengan sitausi yang sedang mereka hadapi. Sekali lagi, sungguh ada berkahnya yang saya rasakan sendiri karena membantu mereka,” tandas Politis yang dikenal kaya akan kesolehan sosial ini.

Tanpa bermaksud ria, IDP mengaku lebih mengedepankan mengorbankan uang pribadinya dalam untuk membantu warganya yang menderita sakit. Sebab, menunggu bantuan dari pemerintah membutuhkan waktu lama yang disebabkan oleh pengurusan syarat administrasinya serba jelimet. “Kondisi mereka membutuhkan bantuan segera. Sementara kalau kita menunggu bantuan dari Pemerintah, tentu saja membutuhkan proses dan tahapan administrasi yang lumayan panjang. Oleh karenanya, saya memilih membantu mereka dengan anggaran pribadi. Hal itu, dilakukan karena sifatnya mendesak dan saya marasa masih bisa membantu mereka,” pungkas IDP. (TIM VISIONER)