Alam

Oleh: Alam (Mantan Aktivis HMI)

Belakangan klaim dukungan Partai Gerindra di kubu H. Sutarman semakin luar biasa bahkan dikatakan hal tersebut 100%. Tetapi klaim ini kemudian terbantahkan sendiri oleh Sutarman sebagai mana yang dilansir salah satu media online.

Dalam pernyataannya di media tersebut, Sutarman secara terang mengakui bahwa sekarang proses masih di godok oleh DPP. Artinya klaim okeh kubu Sutarman hanyalah isapan jempol belaka.

Disisi yang lain klaim politik ini terlampau jauh bahkan melampaui fakta politik yang sebenarnya. Sebut saja kesepakatan koalisi diantara Gerindra dan PAN. Karena kedua partai ini memiliki kader terbaiknya yang sama sama maju pada pilkada serentak maka disepakati untuk saling mendukung atau dalam istilah kerennya adalah barter dukungan politik. PAN tentu saja tidak akan mendukung koalisi Ahyar Mori jika Gerindra tidak mendukung koalisi Lutfi Feri dan sebaliknyapun demikian.

Tentu saja setiap partai selalu ingin hadirnya dukungan yang besar bahkan dari banyak parpol dukungan itu diharapkan mengalir deras. Artinya bagi Gerindra hadirnya PAN yang mendukung pasangan Ahyar Mori yang nota bene Mori Hanafi adalah salah satu kader terbaik Gerindra tentu saja menjadi hal yang sangat sangat mengembirakan dan menjadi energi positif untuk memenangkan pasangan Ahyar Mori dimana memang PAN merupakan partai terbaik saat ini untuk pulau sumbawa yang dibuktikan dengan keberhasilan PAN merebut 4 kursi ketua DPRD di berbagai Kabupaten Kota yang ada di pulau sumbawa.

Hal ini selaras dengan target Ahyar Mori untuk bisa mendulang suara maksimal di pulau sumbawa. Karena besarnya energi positif koalisi kedua partai ini tentu saja akan selalu dijaga oleh kedua partau tersebut agar jangan sampai terjadi perpecahan dan penarikan dukungan dari salah satu diantara kedua partai tersebut. Salah satu cara Gerindra untuk tetap menjaga dukungan PAN di tingkat provinsi adalah dengan mendukung kader PAN yang maju dalam pilkada Kota Bima.

Karena jika Gerindra tidak mendukung kader PAN di kota bima maka bisa di pastikan PAN pun akan menarik dukungan dari mendukung kader Gerindra di provinsi. Tentu saja DPP dari kedua partai ini tidak akan melakukan tindakan yang bisa membuat pecahnya koalisi dan kesepakatan yang telah terbangun dengan baik. Fakta lain yang juga menjadi referensi yang terkadang sering diabaikan adalah tradisi politik Gerindra untuk di wilayah Bima.

Partai Gerindra dalam sejarah sepanjang pilkada langsung di Bima tidak pernah mengusung figur yang tidak memiliki latar belakang berpengalaman di dunia eksekutif maupun di dunia legislatif. Tiga fakta politik tersebut sebenarnya menegaskan bahwa posisi atau arah dukungan Gerindra sangat jelas. Pertama, akan selalu bersama PAN. Kedua, mengusung figur yang berpengalaman di bidang legislative atau eksekutive. Dan ketiga, menjaga sinergisitas dan harmonisasi koalisi mulai Provinsi hingga Kota..