Diskusi Ilmiah Membendung Gerakan LGBT

Perilaku menyimpang seperti Lesbian-Gay-Biseksual-Transgender (LGBT), bukan sesuatu yang baru terjadi dimana-mana termasuk di Indonesia. Masalah serius yang dianggap melabrak nilai-nilai penting bagi kehidupan beragama dan bernegara ini, pun terungkan sudah merambah hingga ke tingkat daerah.

Penyakit yang satu ini, tercatat sudah berusia sangat lama. Hingga sekarang pertumbuhannya bertambah. LGBT juga memiliki istilah lain. Yakni, ACDC (berhubungan dengan wanita bisa dan sesama pria juga ok). Perilaku dan tindakan LGBT di Bima misalnya, diduga keras ada. Hanya saja, masalah yang satu ini tak banyak yang tahu. Karena, belum diungkap secara jelas dan nyata adanya.

Kasus dugaan adanya LGBT di Bima, hingga sekarang belum pernah disentuh. Sementara pertumbuhan banci (transgender) kian banyak dan diakui adanya. Sasarannya, diduga anak-anak dibawah umur atau yang trend disebut brondong. Wilayah operasional kelompok tersebut, sesungguhnya sudah lama terdeteksi baik di Kota maupun di Kabupaten Bima.

Fenomena tersebut, kini mulai disikapi di Kota Bima. Modelnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bima pada Minggu (6/3/2016) menggelar diskusi ilmiah yang melibatkan sejumlah pihak penting di aula Yayasan Islam Bima.

Pada moment tersebut, Wakil Walikota (Wawali) Bima H. A. Rahman H. Abidin, SE menimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan peduli terhadap bahaya penyebaran gerakan ini di tengah-tengah publik. “Masalah yang satu ini harus diantisipasi secara dini. Karena, resistensinya sangat berbahaya bagi kehidupan umat dan generasi kita,” tegasnya dalam acara yang diprakarsai oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Cabang Bima ini.

Liputan langsung sejumlah awak media menjelaskan, diskusi ilmiah tersebut mengangkat tema “Membendung Bahaya Gerakan LGBT. Moment tersebut juga menghadirkan Dandim 1608 Bima, Letkol. ARH Edi Nugraha S Sos.

"Saat ini sedang terjadi kampanye yang masif, terstruktur dan sistematis agar masyarakat menerima gerakan LGBT ini sebagai hal yang biasa dan wajar. Pola yang sedang dimainkan dalam kaitan itu, jelas akan menjadi ancaman besar bagi nilai-nilai penting dalam kehidupan umat khususnya di Bima baik Kota maupun Kabupaten. Karenanya, wajib hukumnya kita semua melakukan antisipasi,” imbuhnya.

Menurutnya, LGBT merupakan cara hidup yang tidak dibenarkan dalam agama apa pun. Karenanya, adalah sesuatu yang sangat aneh jika Indonesia sebagai negara berketuhanan jika menerima gerakan ini dengan sikap permisif. “LGBT adalah noda yang harus ditentang keras. Khususnya Bima, LGBT adalah sesuatu yang kontradiktif dengan nilai budaya, moral maupun agama. Oleh sebab itu, saya percaya dan yakin bahwa masyarakat Bima tidak setuju dengan LGBT,” ujarnya.

 

Untuk meniadakan LGBT,  salah satu kuncinya tetap berpulang kepada kepedulian masyarakat untuk memahami dampak negatifnya secara jangka panjang. “Kita tidak memusuhi saudara-saudara kita pelaku LGBT. Kita ingin mengajak mereka untuk kembali ke fitrahnya-sekaligus membangun kesadaran umat untuk membendung penyebaran gerakan ini,” pungkasnya. (Rizal)