Masa MANTAP Rumah NTB, saat Mimbar Bebas

Mataram, Visioner

Sebanyak 150-an massa yang menamakan dirinya Forum Pendamping & Penerima Bantuan Perbaikan (MANTAP) Rumah NTB, menggelar aksi Mimbar Bebas di Lapangan Sangkareang Mataram, Kamis(19/8). Hal itu dilakukan untuk megungkapkan dukungan dan terima kasih kepada Pemerintah Pusat, Pemprov NTB, TNI-Polri, dan Pemerintah Kota/Kabupaten, yang selama ini dinilai telah serius mendukung proses rehab rekon di NTB.

“Kami sangat berterima kasih pada Pemerintah atas dukungan percepatan rehab rekon di NTB. Namun kami juga menyayangkan dari berbagai forum dan aksi demonstrasi, diskusi, bahkan berita di media sosial, justru cenderung mendiskreditkan dan mempersoalkan Proses Rehab Rekon. Padahal hasil kerja Rehab Rekon Pasca Gempa Bumi NTB selama ini, telah mendapatkan predikat terbaik Nasional, dari Presiden, Wapres, dan Kepala BNPB,” ujar Koordinator Lapangan, Asjad, SE.

Asjad menjelaskan, bahwa rencana awalnya, aksi damai dukungan atas rehab rekon NTB akan dilakukan dengan cara long march dari Lapangan Sangkareang ke gedung DPRD Provinsi NTB. Namun, karena berbagai pertimbangan akhirnya aksi diganti dengan Mimbar Bebas.

“Kami terpaksa batalkan long march. Mengingat belum adanya STTP dari POLDA NTB. Termasuk kekhawatiran benturan dengan aksi kelompok demonstran lain, yang kebetulan demo di hari yang sama. Termasuk pertimbangan dari Wakil Ketua TPK, Pak Ir. Hadi Santoso, ST, MM,” jelas Asjad.

Pihaknya menjeaskan, bahwa meski jumlah fasilitator saat ini sangat terbatas. Dimana Rasio fasilitator terhadap rumah dampingan terlalu timpang. Yaitu rata-rata 1:173. Namun, fasilitator memiliki semangat kemanusiaan tinggi, agar program rehab rekon berjalan dengan baik.

“Kadang orang melihat secara kasat mata saja, bahwa gaji kita di atas UMP. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa gaji kita justru telah menurun, disaat beban kerja justru naik saat ini, dengan dikuranginya secara signifikan jumlah fasilitator oleh BNPB. Untungnya, kami semua telah berkomitmen bekerja hampir 24 jam sehari.” imbuh Asjad.

Menurut Asjad, Fasilitator dan Pokmas rela datang berbondng-bondong dari berbagai pelosok dusun dan desa se-pulau Lombok ke Lapangan Sangkareang.  Juga wujud kerisauan terhadap berbagai isu negative yang dihembuskan pihak tertentu terkait rehab rekon.

“Dari mulai isu kualitas RTG (Rumah Tahan Gempa), keterlambatan pembangunan, sampai isu fasilitator tidak pernah di wilayah dampingannya.  Seolah Fasilitator dianggap mangkir dari kerjaannya. Hal inilah yang membuat sebagian fasilitator turun gunung hari ini. Andai kita tidak bagi tugas, menjaga agar pendampingan Pokmas tidak terganggu. Insya Allah, bisa ribuan fasilitator dan Pokmas yang hadiri mimbar bebas ini,” imbuh Asjad.

Bahkan fasilitator yang bertugas di kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara yang berada di kawasan perbukitan pun rela turun dan datang ke lapangan sangkareang untuk menyuarakan eksistensi  fasilitator yang selama ini cenderung diremehkan oleh pihak tertentu.

“Padahal, faktanya justru fasilitator selama ini telah bekerja siang dan malam, meningalkan anak-istri. Bahkan banyak yang tinggal di daerah terpencil agar. Tapi masih ada saja yang bilang bahwa kami tak pernah di lapangan,” ujar Koordinator Kecamatan Bayan, Syafriadi

Sementara itu, Wakil Ketua TPK, Ir. Hadi Santoso, ST, MM, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Gubernur NTB dan Kalak BPBD Provinsi NTB, dan Fasilitator yang telah terbukti serius dalam mendukung proses rehab rekon di NTB. Sehingga berhasil memperoleh predikat terbaik se-Indonesia ini.

“Saatnya, kita membeberkan data progress kita. Harus mulai divirakan data, kegiatan, bahkan Videonya bukti kinerja fasilitator. Coba lihat Rehab Rekon di Kota Bima, yang dilanda bencana Banjir sejak tiga tahun lalu, sejak 23 Desember 2016. Sampai detik ini, baru 435 rumah selesai dan on progress. Sementara, kita di Rehab Rekon Pasca Gempa NTB, hanya dalam tempo setahun telah mencapai 174.781 rumah selesai dan on progress,” ujar Wakil Ketua TPK, Ir. Hadi Santoso, ST, MM

Dian Bune Canaya, SE, fasilitator wanita, yang telah lama terlibat dalam rehab rekon di Indonesia. Juga mengakui bahwa fakta pencapaian Rehab Rekon NTB merupakan yang terbaik. jika dibandingkan dengan penanganan rumah korban pasca gempa DI Yogyakarta.

“DIY yang hanya 15.000 rumah butuh waktu selama tiga tahun untuk menuntaskan proses rehab rekonnya. Jadi memang faktanya Rehab Rekon di NTB yang terbaik sesuai yang disampaikan oleh Pak Presiden, Wapres, dan Kepala BNPB. Saya siap adu data diforum-forum diskusi public dengan siapapun,” tandas Dian.