Inilah adegan ciuman waria Vs remaja dibawah umur itu

Visioner Berita Bima-Jumlah waria (banci) di Bima baik Kota maupun Kabupaten, lumayan banyak. Rata-rata, mereka beraktivitas sebagai pemilik dan pekerja di sejumlah salon kecantikan. Catatan penting nmedia massa menyebutkan, dugaan waria di Bima terlibat dalam kasus mengejar remaja pria“sebagai sarana pelampiasan”, terus bergulir di atas permukaan. Hanya saja, kasus itu ditengarai berlangsung secara sembunyi-sembunyi. Bahkan yang tak kalah hebohnya, ada juga oknum waria yang menyebarkan obar keras seperti tramadol terhadap oknum remaja.

            Bukan itu saja, ada juga oknum waria yang diduga sebagai germo. Lagi-lagi, kasus ini tak satupun yang terungkap oleh aparat terkait. Jum’at (14/7/2017), Bima digemparkan oleh sebuah peristiwa tabu alias tak lazim. Yakni, adanya adegan ciuman mesra antara seorang waria dengan seorang remaja dibawah umur. Waria tersebut, diduga berinisial PRM alias MG yang konon sebagai pemilik salon di Kecamatan Woha-Kabupaten bima.

            Namun remaja dibawah umur tersebut, hingga detik ini belum diketahui identitasnya. Publik mengetyahui adanya peristiwa tersebut, yakni melalui foto yangdisebarkan oleh salah seorangh pemilik akun Facebook (FB) bernama Aris Munandar. Masalah yang satu ini, praktis menjadi viral di media sosial (Medsos).

            Seorang sumber terpercaya menduga, PRM alias MG ini ditengarai sebagai pemicu terjadinya kasus pembantaian yangt menyebabkan dua orang warga Desa Cenggu, Kecamatan Palibelo-Kabupaten Bima terluka akibat dibacok oleh tiga pelaku di Pantai Kalaki, beberapa bulan silam. Hanya saja, PRM alias MG ini hingga sekarang masih lolos dari jeratan hukum. Sumber ini juga mengungkap, dugaan praktek waria di Woha yang bersenggamah dengan remaja pria dibawah umur, bukanlah barang tabu.

            Tetapi, ditengarai sebagai masalah yang lazim yang hingga detik ini tak disikapi oleh berbagai pihak penting. “Ada yang pernah melakukan penggerebekan hingga penggeledahan sebuah salon kecantikan di Woha. Hasilnya, ditemukan adanya kondom. Dan diduga, ada oknum waria di Woha yang bertindak sebagai penyebar tramadol di kalangan remaja pria dibawah umur,” ungkap sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, Jum’at (14/7/2017).

            Atas kasus itu, sumber mendesak pihak terkait agar segera mengambil sikap. Sebaliknya, akan menambah deretan remaja yang ditengarai akan dieksploitasi oleh oknum waria di Kecamatan Woha. “Saya kira, operasi gabungan harus segera dilakukan untuk menyikapi secara tegas persoalan ini. Sebaliknya, kita tidak tahu lagi akan berapa banyak jumlah remaja pria dibawah umur yang jadi korbannya. Sekali lagi, selamatkan generasi kita dari oknum waria,” desaknya.

            Peristiw heboh ini, sukses menggelitik perasaan Ketua LPA Kota Bima, Juhriati SH, MH. Tokoh wanita penting yang dikenal tegas dan blak-blakan ini, menuding bahwa hal tersebut merupakan perilaku menyimpang yang harus segera disikapi. “Jika tak tak disikapi, masalah ini akan menjadi tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat,” desaknya, Jum’at (14/7/2017). 

            Untuk menyikapi peristiwea yang disebutnya sebagai virus ditengah masyarakat dimaksud, dapat dilakukan dengan berbagai bentuk pendekatan. Dan pendekatan-pendekatan tersebut, bukan semata-mata untuk memberikan pandangan negatif terhadap mereka.

 “Terhadap kasus notabene melibatkan anak ini, maka anak tersebut harus dilindungi dari tumbuh dan berkembangnya terutama ketika sudah ada dan nampak perilaku-perilaku yang menyimpang dari arah. Ketika anak ini dibiarkan dengan perilaku menyimpang, maka kedepannya akan menjadi bom waktu. Oleh sebab itu, harus ada sikap dari kita semua. Bukan hanya sikap domestik dari orang tua, tetapi juga lingkungan. Diantaranya lingkungan sosial maupun Pemerintah, dengan tujuan agar perilaku peyimpangan ini tidak berkembang sebuah komunitas yang nantinya akan tumbuh dan berkembang pula,” imbuhnya.

            Perlunya sikap segera terhadap kasus ini, diakuinya lebih kepada mengantisipasi agar masalah tersebut tidak berkembang menjadi sebuah legalitas terhadap komunitas alias penikmat perilku menyimpang itu.

“Peristiwa dimana waria bisa berlaku seperti itu, juga dikarenakan oleh orang baik-baik cenderung diam dan bahkan terkesan bertindak sebagai penonton. Maksud saya, ada sikap pembiaran yang dilakukan oleh sosial terhadap perilaku ini. Sehingga, perilaku ini menjadi sesuatu yang mengarah kepada kelaziman yang pun harus dihargai oleh masyarakat,” tandasnya.

            Oleh sebab itu, harus ada upaya maksimal dan bersinergi yang bukan hanya berdasarkan sosial semata-tetapi sikap tegas untuk melakukan pencegahan terhadap kasus ini dengan tujuan agar tidak menyebarluas di tengah-tengah masyarakat. “Upaya tegas ini, tak hanya dilihat dengan kacamata sosial. Tetapi, juga harus dipandang sebagai sebuah problem sosial yang memang harus ditangani secara komprehensif,” harapnya.

            Dia kemudian menegaskan, Polisi agar mengambil sikap terkait kasus ini ketika ada laporan dari masyarakat. Sebaliknya, Polisi diakuinya tidak dapat menanganinya secara hukum. “Maka tuntutannya, ya harus ada yang melapor. Masalah ini, merupakan realitas yang mengarah kepada virus sosial. Dan jika ini dibiarkan, tentu akan menjadi wabah yang mengarah kepada komunitas tertentu-sebut saja HIV AIDS,” terangnya.

            Sikap diamnya berbagai kalangan terhadap perilaku menyimpang ini, lama-kelamaan akan menjadi kwajaran bagi penikmatnya. Dan ketika ini dianggap sebagai sebuah kewajaran, tentu saja akan menjadi ancaman bagi egenerasi. “Sebagai orang Bima, kami tidak rela ketika kalau perilaku menyimpang itu terus tumbuh dan berkembang. Oleh sebab itu, kita semua harus tegas dan keras untuk menuntaskannya,” pungkasnya.

            Secara terpisah, Kapolres Bima Kabupaten AKBP M. Eka Fatur Rahman SH, Sik yang diminta tanggapannya mengaku, pihaknya belum tahu tentang foto mesra antara oknum waria dengan seorang remaja pria dibawah umur itu. Menjawab pertanyaan sikap Polisi terkait kasus ini, Eka menegaskan bahwa pihaknya tidak akan bisa menanganinya secara hukum jika tidak ada yang melaporkannya secara resmi.

            “Jika ada yang melaporkan secara resmi, tentu saja kasus ini agar segera kami tangani. Oleh karena itu, dibutuhkan segera ada pihak yang melaporkannya,” tegas Eka dengan nada singkat, Jum’at (14/7/2017) (TIM VISIONER)