Damar Damhuji

Sosok yang paling menyita perhatian saya menjelang PILKADA Kota Bima adalah seorang H.M.Irfan. Bagi saya, HMI adalah sosok ‘out of the box’ dalam budaya politik di Kota Bima. Dia adalah sosok yang berpikir diluar dari yang umumnya dan berpikir berbeda dari orang kebanyakan.

Jika Umumnya, para kandidat dalam Pilkada Kota Bima adalah para politisi, Birokrat, Pengusaha, dan atau Pendidik yang sedang berjuang meningkatkan karir politiknya untuk mencapai jabatan politik yang lebih tinggi dari sebelumnya. Maka, sosok HMI rela meninggalkan jabatan yang lebih tinggi sebagai Kepala LPMP Provinsi NTB demi jabatan Wakil Wali Kota Bima untuk sebuah misi Pelayanan dan Pengabdian bagi tanah kelahirannya, imbuhnya.

Sayapun bertanya-tanya, apa yang ingin HMI cari dalam hidupnya? Bukankah jabatan sebagai Kepala LPMP Provinsi jauh lebih prestisius dari jabatan sebagai Wakil Wali Kota Bima? Padahal bagi orang Bima pada umumnya, jabatan Wakil itu adalah jabatan Apabila. Benar-benar jabatan yang tidak enak. Oleh karena itu, pilihan HMI untuk menjadi Wakil Wali Kota Bima susah dinalar oleh orang-orang biasa seperti kita kebanyakan.

Pada level nasionalpun jarang sekali kita temukan sosok ‘out of the box’ seperti ini, sebut saja Nurdin Abdullah Bupati Bantaeng yang meninggalkan jabatan sebagai pimpinan perusahaan Internasional dengan gaji 4 Milyar perbulan demi sebuah pengabdian untuk tanah kelahirannya; Ridwan Kamil yang rela meninggalkan profesi Arsitektur kelas dunia dengan gaji puluhan Milyar Pertahun demi tanah kelahirannya.

Untuk ukuran jabatan Kepala LPMP Provinsi paling tidak sebanding dengan Wali Kota atau Kepala Daerah bukan sebagai Wakil Wali Kota Bima. Mestinya beliau harus mengejar posisi sebagai Wali Kota Bima. Setelah menelusuri sepak terjang HMI akhir-akhir ini, Akhirnya kita memahami alasannya kenapa dia memilih untuk menjadi Wakil Wali Kota. HMI menjelaskan bahwa salah satu alasannya adalah ingin melanjutkan hal-hal baik dari pemerintah sebelumnya; dan sosok yang sangat memahami kondisi Pemerintahan Kota Bima baginya adalah Haji MAN. Pilihannya hanya satu yaitu menjadi Wakil dari Haji MAN.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya tentang pemikiran dan konsep yang dilontarkan oleh HMI akhir-akhir ini dalam membangun Kota Bima, antara lain: Pertama, membangun Kota Bima menuju Kota yang Smart, berbudaya dan berdaya saing," "Kita harus terus menjaga dan merawat nilai-nilai luhur yang dimiliki masyarakat Bima, seperti yang termaktub dalam Nggusu Waru. Untuk terwujudnya sebuah kota yang Smart, berbudaya, dan berdaya saing adalah dengan menghargai orang yang punya ilmu, karya, dan berakhlak mulia.

Kedua, Membangun sistem pendidikan yang sehat, bermutu, dinamis, modern dan berkemajuan. Untuk mewujudkannya adalah harus dimulai dari pengelolaan guru agar menjadi guru yang berkualitas yang dapat melahirkan generasi yang cerdas dan berkarakter sesuai agama yang dianutnya. Beliau punya Tagline, “Karakter Hari ini, Budaya Masa Depan Bangsa. Setelah kualitas guru sudah kita bereskan, maka selanjutnya kita kembangkan standar pendidikan yang lainnya, seperti Kurikulum, sarana prasarana (ruang kelas dan perpustakaan), pembiayaan, dll.

Ketiga, Beliau berkomitmen untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai lokomotif perubahan dan pemberdayaan masyarakat serta membentuk ekosistim pendidikan yang pada akhirnya menumbuhkan sektor real bagi kehidupan masyarakat. Untuk itu, kita harus melakukan pembenahan pada infrastruktur dan SDM di tingkat Perguruan Tinggi. Selain itu, kita terus berupaya agar siswa lulusan SMA/SMK yang tidak mampu untuk kuliah di luar daerah, dilindungi dengan cara mengintervensi melalui program pemerintah dalam bentuk pemberian beasiswa.

Keempat, "Keberadaan guru Non PNS, harus mulai diperhatikan kesejahteraannya dan mendapat kelayakan anggaran dalam APBD. Guru PNS dan Guru Non PNS sesungguhnya memiliki peran yang sama dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa. Oleh karena itu, kedua-duanya harus mendapatkan kesejahteraan dan penghargaan yang tidak jauh berbeda. Beliau sangat berkomitmen bahwa Kesejahteraan dan penghargaan terhadap guru Non PNS harus diperjuangkan semaksimal mungkin. Minimal gaji Guru Non PNS harus di atas UMR.

Kelima, Membangun rumah karakter di tengah Kota Bima sebagai rule model rumah karakter di setiap Kecamatan atau di beberapa Kelurahan. Rumah Karakter di Pusat Kota merupakan museum pusat pendidikan Karakter di Kota Bima. Di sini menjadi central pengembangan karakter dan budaya masyarakat Bima; mulai dari urusan politik, kepemimpinan, seni, jasa, hingga urusan wirausaha.

Bagi kita, dengan melihat gagasan dan konsepnya di atas terkait membangun Kota Bima, terutama dalam aspek pendidikan bukanlah sesuatu yang mengagetkan kita, karena HMI sangat berpengalaman mengurus aspek pendidikan. Lebih kurang satu dekade HMI menjadi Kepala LPMP Provinsi NTB, yakni waktu yang terbilang cukup lama untuk ukuran menjabat posisi prestisius semacam ini. Jika bukan karena kompetensi dan profesionalimenya, saya pikir tidak selama itu. Semoga Ngahi Rawi Pahu. Amin.