Inilah keduanya

Visioner Berita Kota Bima-Beberapa bulan silam tepatnya tahun 2017, Kota Bima digegerkan oleh kasus amoral. Yakni, terungkapnya kasus adanya adegan esek-esek antara isteri orang berinisial ERN (warga asal Kelurahan Jatibaru-Kota Bima) dengan duda anak satu asal Desa Hu’u, Kecamatan Hu’u-Kabupaten Dompu berinisial JND alias Moske alias Dae Ifan Tulus.

Peristiwa tak senononoh dimaksud, sejak saat itu sudah dilaporkan secara resmi oleh Adrian (klarifikasi berita sebelumnya yang menulisd nama Ardian) sebagai suami dari ERN yang didampingi oleh Pengacaranya yakni Bambang Purwanto SH, MH di Mapolsek Asakota-Polres Bima Kota. Atas laporan tersebut, Polisi telah melewati sejumlah tahapan proses sesuaid engan mekanisme yang berlaku.

Diantaranya, Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap pelapor dan sejumlah saksi yang diajukannya. Oleh karenanya, Polisi juga telah menyatakan bahwa pemeriksaan terhadap pihak pelapor dinyatakan sudah lengkap. Dan dalam kasus ini, Polisi juga tekah mencita sejumlah barang bukti (BB), salah satunya adalah video esek-esek keduanya dengan nurasi sekitar 45 menit lebih.

Kapolsek Asakota, Iptu Ahmad Lutfi, SH juga membenarkan hal tersebut. Setelah berkas pemeriksaan terhadap pelapor dan sejumlah saksi yang diajukannya, pihaknya melakukan pemanggilan terhadap kedua pelaku. Selama dalam menangani kasus ini, pihaknya sudah tiga kali melayangkan surat panggilan terhadap kedua pelaku.

Sayangnya, tiga kali panggilan yang sudah dilayangkan secara resmi tersebut sama sekali tidak diindahkan oleh kedua pelaku. Karenanya, pihaknya sudah menetapkan keduanya kedalam Daftar Pencarian Orang (DPO). “Ya, secara resmi kami telah menyatakan keduanya sebagai DPO.  Atas status keduanya sebagai DPO, maka ruang semua orang untuk menginformasikan kedua pelaku kepada Polisi itu terbuka lebar. Jika masyarakat di manapun yang menemukan kedua pelaku, segera laporkan kepada Polisi untuk kemudian ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Lutfi.

Lutfi mengingatkan, semakin kedua pelaku kabur dari proses hukum,  justeru akan mempersulit dirinya sendiri. Oleh karenanya, Lutfi menghimbau agar kedua pelaku itu sesegera mungkin melarikan diri.

“Kemanapun keduanya pergi, maka selama itu pula akan terus dikejar. Soal kapan mereka akan ditangkap oleh Polisi, kita tinggal menunggu waktunya saja. Begitu masyarakat memastikan keberadaan keduanya, makaa saat itu pula Polisi akan menangkapnya. Ingat, proses terus berjalan, maka cepat atau lambat mereka pasti ditangkap karena sudah resmi dinyatakan sebagai DPO,” terang Lutfi.

Selain itu, Lutfi berharap agar masing-masing keluarga pelaku dapat bersikap kooperatif. Maksudnya, memberitahukan dan atau segera menyerahkan kedua pelaku kepada pihaknya agar diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. “Itu akan lebih elok dari pada beban kedua pelaku semakin berat. Sekali lagi, kami sarankan agar keluarga kedua pelaku bersikap kooperatif untuk menyerahkan kedua pelaku jika mengetahui di mana keberadaanya,” imbuhnya.

Dalam kasus ini, pihaknya sudah memberikan ruang toleransi bagi kedua pelaku datang ke Mapolsek Asakota agar diperiksa sebagai terlapor oleh pihak pemnyidik. Yakni melayangkan surat panggilan pertama, kedua dan ketiga. “Sayangnya, ketiga kali panggilan resmi tersebut justeru diabaikan oleh kedua pelaku. Oleh karenanya, menyatakan keduanya sebagai DPO jelas memiliki landasan yang jelas dan kongkriet. Maka pilihan selanjutnya, keduanya segera menyerahkan diri atau hidup dengan beban yang semakin berat. Untuk itu, keduanya mau memilih yang mana,” tanyanya.

Lutfi kembali menegaskan, keseriusan pihaknya dalam menangani kasus ini tak perlu dipertanyakan lagi. Semua proses dan tahapan penanganannya, pun sudah dilewati. Diantaranya melengkapi berkas pemeriksaan terhadap pelapor dan sejumlah saksi yang diajukannya, mengamankan sejumlah BB dan melakukan pemanggilan secara resmi terhadap kedua pelaku kendati sampai dengan detik ini masih diabaikannya. “Penegakkan supremasi hukum dalam kasus ini, jelas bersifat mutlak. Itu artinya, kita tidak main-main dalam menanganinya,” urainya.

Secara terpisah, Pengacara pelapor, Bambang Purwanto, SH, MH yang dimintai komentarnya membenarkan bahwa kedua pelaku sudah resmi dinyatakan sebagai DPO oleh Polisi. Dengan telah ditetapkan sebagai DPO, maka dengan sendirinya bahwa kedua pelaku sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Polisi (mengaku pada ketentuan UU Hukum Acara Pidana). “Kemanapun mereka berlari, maka selama itu pula akan dikejar oleh hukum. Sebab, tak ada isitilah bagi kami untuk mencabut perkara dalam kasus tergolong biadab ini,” tegas Bambang, Kamis (25/2018).

Bambang menyatakan, sampai dengan detik ini ERN masih menjadi isteri sahnya kliennya (Adrian). Menjawab pertanyaan apakah atas kasus ini Adrian akan segera menceraikan isterinya tersebut, Bambang justeru menegaskankan sebaliknya (tidak). “Kasusnya akan terus berjalan dan perkaranya tidak akan kami cabut. Selama kasus ini masih terus berjalan, maka selama itu Ardrian tidak boleh menceraikan ERN. Sekali lagi, kami tetap pada komitmen awal, yakni akan menceraikan ERN ketika dia sudah dikrangkeng ke dalam penjara,” timpal Bambang.

Bambang mengungkap, tipis kemungkinan bagi ERN untuk kabur ke luar negeri untuk kembali berprofesi sebagai TKI. Sebab, Paspor dan KTPnya, sampai detik ini sudah dipegang oleh Adrian. “Dari pada hidup menanggung beban yang semakin berat, sebaiknya kedua pelaku segera menyerahkan diri ke Polisi, sehingga proses hukum bagi keduanya bisa berjalan secara aman dan lancar. Dan kami percaya, dengan telah resmi ditetapkan sebagai DPO maka kehidupan bagi keduanya akan semakin tidak nyaman,” pungkas Bambang. (TIM VISIONER)