Ipda Junaidi (kiri) saat menerima piagam penghargaan dari Kapolda NTB

 

Visioner Berita Kobi-Junaidi adalah seorang Polisi berpangkat Ipda. Ia tugas di Polres Bima Kota dibawah kendali AKBP Ahmad Nurman Ismail SH, S.IK. Wajahnya terlihat penuh cahaya. Pertanda bahwa pria ini rajin beribadah dan beramal. Polisi yang satu ini, tak pernah jauh pernah lepas dari peci haji. Kisahnya, praktis mengegerkan NTB. Hingga Kapolda NTB Brigjend Pol. Drs. H. Umar Septono pun ikut ‘turun tangan”. Kapolda turun tangan, maksudnya hadir langsung pada sebuah Pondok pesantren (Ponpes) Al Fathu’Alim yang dipimpinnya (Junaidi sebagai pemiliknya). Berikut sekelumit kisah singkatnya.

            Ponpes ini berlokasi di tengah gunung di So Nggela Kelurahan Kolo-Kota Bima. Lokasinya berada disebelah kiri kalan menuju Kelurahan Kolo. Terlihat ada jalan lyang sudah diaspal menuju Ponpes yang jaraknya sekitar 500 M dari pinggir jalan. Kondisi bangunan Ponpes itu, terlihat seperti bangunan Masjid. Beratapkan seng, belum memiliki plaforn.

            Maklum, Ponpes ini didirikan dengan uang gajinya selama menjadi Polisi hingga sekarang. Jumlah muridnya mencapai ratusan orang. Dahsyatnya, sejak Ponpes ini berdiri, sudah berhasil mencetus beberapa orang Sarjana di berbagai Perguruan Tinggi. Jaminan untuk biaya siswa, adalah semata-mata dari dirinya. Selain itu, hasil yang dicapainya selama ini dari rezeki yang diperolehnya, juga digunakan untuk membeli lahan yang ditanami jagung. Hasilnya juga untuk membiayai kehidupan siswa yang ada di Ponpes itu pula.

             “Hanya seng ini saja yang dibantu oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bima. Selain itu, tidak ada,” jelas Junaidi dengan nada lembut saat ditanya singkat oleh Visioner dalam acara kunjungan kerja (Kungker) kapolda NTB pada Ponpes itu, Selasa (7/2/2017).

            Uang gajinya selama ini, disipkan hanya untuk membiayai dan membangun Ponpes ini. Semua Ponpes ini terbuat dari bambu. Namun atas perjuangan keras dan doanya, kini bangunan tersebut mulai tampak, walau belum sempurna. Masih sekitar 70 porsen lebih, fisik bangunan tersebut harus ditutaskan untuk menampilkan kondisi layaknya dunia pendidikan lainnya.

            “Alhamdulillah, mulanya dari bambu, kini sudah mulai terlihat agak permanen. Ini semua berkat perjuangan dan doa yang saya selalu panjatkan kepada Allah. Alhamdullah, rezeki terus mengalir. Kini kapoda NTB, datang membawa rezeki untuk kelanjutan pembangunan Ponpes ini. Terimakasih tak terhingga, Pak Kapolda NTB,” tuturnya.

            Sebelumnya, Kapolda NTB Brigjen Pol Drs. H. Umar Septono pernah berjanji akan hadir di Bima untuk mengunjungi Ponpes tersebut, sekaligus memberikan bantuan. Alhasil, sebelum berpindah tugas ke Jakarta menempati jabatan baru (Job bintang dua), Selasa (7/2/2017) kapolda dan rombongannya bergegas ke Ponpes itu. Sejumlah wartawan termasuk Visioner,. Pun ikut meliput ;langsung kegiatan tersebut.

            Moment kedatangan Kapolda NTB itu, disambut dengan wajah ceriah oleh warga Ponpes. Pada Kungker tersebut, juga didampingi oleh Camat Asakota-Kota Bima Is Fahmi S.IP, Danramil Asakota, Kapolsek Asakota, Kapolres Bima Kota AKBP Ahmad Nurman Ismail SH, S.IK, Eapolres Bima Kabupaten AKBP M. Eka Fatur Rahman SH, S.IK,delegasi dari Dandim 1608 Bima, sejumlah Babinsa dan beberapa pihak penting lainnya.

            Pada moment tersebut, Kapolda NTB memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp50 juta untuk kelanjutan pembangunan fisik Ponpes itu. Bantuan tersebut, diterima langsung oleh Ipda Junaidi. Tak hanya itu, kapolda NTb juga memberikan sesuatu yang bersifat spektakuler kepada Junaidi. Yakni, piagam penghargaan atas perstasinya membangun Ponpes dan siswa yang ada di dalamnya dengan uang gajinya sendiri.

             “Sesat lagi saya akan pindah ke Jakarta. Ini kehadiran sekaligus perpisahan saya di Ponpes ini. Saya hadir di Ponpes ini adalah memenuhi janji yang sebelumnya pernah saya ikrarkan. Saya tidak bisa tidur kalau saya belum memenuhi janji ini. Saya sangat apresiatif terhadap Polisi seperti ini. Ini luar biasa. Dan inilah sebuah prfestasi yang patut untuk dibanggakan., Sekali lagi, saya sangat aprfesiatif.

            Kapolda yang dikenal berhati emas ini juga menegaskan, bantuan yang diberikannya itu adalah rezeki yang diperolehnya dari Allah SWT. Hal itu diperolehnya melalui ikhtiar dan doanya kepada Allah selama ini. Polisi harus rajin beribadah. “Ketika kita rajin dan beribadah, Insya Allah kita tidak memiliki beban. Artinya, dimana-mana kita bisa diterima oleh semua pihak. Polisi harus rendah hati, bekerja secara profesional, melayani rakyat dan yang paling penting adalah bekerja karena Allah SWT pula,” imbuhnya.

            Jabatan diakuinya, bukan ukuran kemuliaan bagi setiap manusia. Tetapi, kemuliaan itu terukur kepada bagaimana setiap orang mampu berbuat baik dan membantu sesama, beribadah dan menjalankan amanah sebagaimana perintah Allah pula.

            “Jangan bangga dengan pangkat dan jabatan dengan yang dimiliki. Tetapi, berbanggalah dengan perbuatan baik terhadap sesama mulai dari membantu, saling menghargai dan mengajak sesama untuk berbuat baik pula. Posisikan Allah SWT sebagai tempat untuk kita takuti. Oleh karenanya, rajin rajinlah beramal dan beribadah kepada Allah,” sarannya.

            Di Ponpes itu, Kapolda NTB mengharapkan agar para santri dan Santriawan agar terus belajar dan memperdalam ilmu Alqur’an. Karena, pada umur-umur yang masih kecil itu akan lebih mudah dan cerdas membaca hingga menghafal Alqur’an. “Kepada Ipda Junaidi, saya harapkan agar terus mengembangkan apa yang sudah dilakukannya ini. Ini sebuah kemuliaan yang tentu saja akan mendapatkan imbalan setimpal da;ri Allah SWT. Kalau kita terus berbuat baik, beribadah dan beralam tentu saja rezeki akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Insya Allah, saya akan datang ;lagi di sini denga rezeki yang berlipatganda dari Allah SWT. Karenanya, doakan saja agar saya kembali lagi ke tempat ini,” harapnya.

            Kapolda juga menyatakan, dirinya memang sangat mencintai NTB dan seluruh masyarakatnya. Karenanya, Kapolda mengakui bahwa dirinya boleh saja berada di jakarta dengan tugas yang baru. Namun hatinya, masih tertancap di NTB. “Jujur, hati saya masih sangat melekat dengan warga NTB. Karenanya, kendati saya berada di Jakarta, Insya Allah saya akan tetap mengunjungi NTB,” janjinya.

            Kapolda juga menjelaskan, berbuat baik bukan saja kepada orang di luar lembaga Kepolisian. Tetapi, anggota Kepolisian di manapun khususnya di NTB juga harus diperhatikan. Polisi-polisi berprestasi seperti Junaidi dan beberapa personil di Mataram di NTB, telah mampu mencetak prestasi yang mulai.

            “Saya sering mengunjungi anggota yang sakit di rumah sakit Bhayangkara-Mataram. Tak satupun anggota yang sakit yang tak pernah saya kunjungi. Kalau saya berhalangan, saya berjanji akan datang menjenguknya. Dan janji itu saya tepati. Ada kisah nyata lain lagi, ada anggota yang berprestasi menangkap pelaku kejahatan hingga jatuh 30 meter dari atas jurang. Anggota itu sempat koma dan diopname, anggota tersebut saya memberikan piagam penghargaan di jurang tempat ia jatuh. Dan saya sat itu ikut turun ke jurang. Maksudnya, adalah merasakan bagaimana susahnya anggota menjalankan tugas demi bangsa dan negara,” tandasnya.

            Pemimpin harus selalu menjadi cerminan bagi bawahannya. Melayani siapapun tidak boleh pandang buluh. Jangan karena pangkat dan jabatan tingkat kehidupannya lalu diutamakan dalam setiap pelayanan oleh pihak Kepolisian.

            “Jika ada warga yang menggunakan sndal jepit yang minta dilayani, maka dahulukan mereka. Ketika itu dilaksanakan, maka derajat anda akan semakin tinggi baik di mata manusia maupun di mata Allah SWT.  Jangan karena kehidupan mereka seperti itu lalu polisi cuek. Itu tidak boleh. Kita harus ingat sumpah, yakni digaji dengan uang rakyat, melayani rakyat dan bekerja untuk rakyat. Sekali lagi, atas nama Kapolda NTB-saya salut terhadap Ipda Junaidi ini,” pungkasnya. (Rizal)