AKBP M. Eka Fatur Rahman (Kiri) dan EB (kanan)

 

Visioner Berita Bima-Tramadol tercatat sebagai obat keras yang merusakan perkembangan dan keberlangsungan hidup anak bangsa. Sejumlah Dokter khususnya di Bima menyebutkan, tramadol memang tidak mengandung unsur psikotropika. Namun, tingkat ketergantungannya justeru jauh lebih hebat dari Narkoba.

            Dampak buruk dari tramadol, telah merusak sejumlah orang khususnya di Bima baik Kota maupun Kabupaten. Komunitas Babuju dibawa kendali Rangga Babuju dan LKSA dibawah kendali Muhtar Mbojo misalnya, telah menemukan sejumlah anak-muda yang mengalami penderitaan fisik sangat parah akibat tramadol.

            Di Kelurahan Nae, Kecamatan Rasanae Barat-Kota Bima, terdapat dua naak muda yang kini masih berbaring lesu akibat mengkonsumsi tramadol. Tak hanya itu, kasus terakhir yakni anak membunuh ayah di Kelurahan Dara-Kota Bima dua bulan silam, juga ditengarai karena efek menkonsumsi tramadol.

                        Anehnya, kendati Pemerintah telah menutup resmi perusahaan yang memproduksi tramadol, tetapi peredarannya khususnya di Bima, masih tergolong marak. Harga per papan tramadoil itu bervariatif. Yakni mulai dari Rp40 ribu hingga Rp53 ribu. Sementara harga dasar per papannya yang dibeli oleh pihak bandar di Surabaya, menurut berbabagai sumber dari Kepelosian menyebutkan, berkisar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu.

            Karenanya, tak salah ketika sejumlah oknum bandar tramadol yang berhasil dibekuk, diduga mengambil keuntungan paling dahsyat dari hasil penjualan obat terlarang yang jauh lebih ganas dari narkoba baik jenis sabu maupunj ekstasi itu. Setelah Keputusan kemenkes RI dengan andaman hukuman 15 tahun penjara dengan denda Rp1 M bagi bandar maupun pengedar tramadol diberlakukan tahun 2015, aparat Kepolisian terus bergerak menyisir baik pengedar maupun bandar tramadol.

            Di Bima misalnya, terduga cukong besar tramadol berinisial IA-berhasil diringkus setelah pihak Resmob Brimob Pelopor Den A Bima. Kini IA masih diproses lebih lanjut di wilayah hukum Polda NTB. IA juga diduga sebagai pengendali peredaran tramadol di NTB bahkan di Indonesia timur.

            Karenananya, polisi bukan saja mengenakan IA dengan aturan Kemenkes RI, tetapi juga terjerat dengan aturan tentang money Laundry (pencucian uang). Oleh sebab itu, hampir seluruh harta IA berhasil disita oleh negara. Kini IA tinggal menunggu nasibnya diujung palu pengadilan.

            Masih soal IA, jauh sebelum dibekuk, apotik miliknya yang berlokasi di lingkungan Salama-kota Bima, aparat menemukan beberapa kardus tramadol dengan jumlah ratusan ribu butir. Akibatnya, negarapun bertindak keras, yakni menutup apotik bernama CTR itu., Belkum kapok-kapok juga, IA masih terus beroperasi berbisnis hal yang sama. Lagi-lagi Resmob Brimob Pelopor Den A Bima kembali menyita tramadol milik IA yang dimuat dengan mobil mewah Honda CRV warna hitam di sebelah timur lapangan Sera Suba Kota Bima. Polisi menemukan puluhan ribu butir tramadol milik IA pula.

            Setelah menangkap IA, pihak Resmo Bromop Pelopor Den A Bima juga berhasil membekuk dua orang sebagai bandar tramadol yang sebelumnya mengakui bekerjasama dengan IA. Keduanya, kini masih diproses secara hukum di wilayah Polres Bima Kota. Kini kedua warga asal Melayu Kota Bima dan warga asal Kambilo Kecamatan Wawo-Kabupaten Bima tersebut, juga masih menunggu keputusan Pengadilan Negeri (PN) Raba Bima.

            Polres Bima Kabupaten dibawah kendali AKBP M. Eka Fatur Rahman SH, S.IK, pun tak tinggal dia menyikapi peredaran obat keras ini di wilayah hukumnya. Sebulan silam, Eka berhasil menggulung dua pengedar dan seorang bandar tramadol di Kecamatan Woha-Kabupaten Bima. Ribuan butri tramadol berhasil disita dan diamankan dari tangan bandar maupun terhadap kedua pengedar tersebut.

            Perang melawan tramadol, tak kenal kata akhir oleh jajaran Polres Bima Kabupaten. Rabu malam (8/2/2017) sekitar pukul 21.15 Wita, Eka langsung terjun ke lapangan tepatnya di Desa Rasabou Kecamatan Bolo-Kabupaten Bima bersama anggotanya untuk menangkap seorang warga belrinisil EB (25). EB digaruk polisi karena kedapatan memiliki 74 papan tramadol dan uang tunai sebesar Rp35 eibu yang diduga diperoleh dari hasil penjualan obat keras tersebut. “EB dibekuk di sekitar Desa Kananga Kecamatan Bolo,” ungkap Eka..

            Menariknya, Eka langsung terjun  sendiri bersama sejumlah anggotanya untuk menangkap pelaku. Kini EB tengah m,enikmati ruang tahanan Polres Bima Kabupaten karena perbuatannya.     EB ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka dengan melanggar UU Kesehatan nomor 35 tahun 2009.

            “Kami sedang menyelesaikan berkas perkara EB dan kemudian akan dilanjutkan penanganannya di tingkat Kejaksaan. Yang pasti, perang melawan tramadol maupun narkoba berjenis apapun akan tetap kami kibarkan. Untuk itu, kerjasama masyarakat untuk memberikan informasi kepada kami untuk menuntaskan hal itu, mutlak dibutuhkan,” tegas Eka. (Rizal/Must/Buyung/Wildan)