Iskandar dan potret buram pelayanan

Visioner Berita Kota Bima-Sekitar empat bulan silam, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bima dibawah pimpinan Zainudin SH (Kadis), praktis dihebohkan oleh kisah nyata. Yakni, seorang oknum pegawainya berinisial E, terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) dari tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Polres Bima Kota. E sempat dilakukan penahanan dalam waktu beberapa hari dan kemudian diberikan kesempatan wajib lapor. Namun, kasusnya masih terus berjalan hingga sekarang.

            Peristiwa memalukan itu, hingga kini masih menjadi buah bibir publik. Potret buram pelayanan Disdukcapil Kabupaten Bima, belum berhenti sampai di situ. Tetapi, peritiwa yang tak kalah hebohnya, terjadi pada Senin (20/6/2017). Yakni, seorang warga asal Desa O’o, Kecamatan Donggo Kabupaten Bima yakni Iskandar, bersimbah darah setelah dihantam dengan batu oleh oknum PNS-sebut saja Mus Muliadin pada bagian wajahnya di halaman instansi tersebut.

            Tak hanya itu, anak kandung pelaku yang juga pegawai honorer pada Disdukcapil yakni Awan. Ayah dan anak ini, diduga keras sebagai pemicu awal, dugaan sejumlah oknum lainpun ikut melakukan pengeroyokan terhadap kiorban. Kasus dugaan pengeroyokan terhadap korban, juga disaksikan oleh banyak orang. Dan, bahkan sempat menghambat proses pelayanan dalam wajktu beberapa saat.

            Aparat Polres Bima Kota, tampaknya terlambat datang ke lokasi. Demikian pula halnya dengan aparat Sat Pol PP Kabupaten Bima. Sementara saat penganiayaan terjadi, Iskandar hanya bisa diselamatkan oleh sejumlah rekannya. Namun atas kondisinya yang agak memburuk dimana wajahnya bersimbah darah, Iskandar pun dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan medis.   

             Hingga berita ini ditulis, kondisi Iskandar yang kini dirawat di salah satu klinik di Kelurahan Tanjung-Kota Bima, terlihat makin memburuk. Kendati demikian, tim medis setempat masih terus berusaha memulihkan kondisi korban yang kini masih terbaring lemas. Pada sesi yang lain, kasus ini sudah dilaporkan secara resmi oleh Iskandar ke Mapolres Bima Kota. Sejumlah saksi, juga disertakan untuk memberikan keterangan peristiwa yang terjadi di tengah umat Islam menjalankan Ibadah Puasa ini (Ramadhan 1438 H).

            Atas kejadian yang menimpa Iskandar, sejumlah keluarganya sempat mendatangi Disdukcapil Kabpaten Bima. Pihak keluarga korban, pun berhasil bertemu dengan Kadis Dukcapil Kabupaten Bima Zainudin SH di ruang kerjanya. Pada moment tersebut, pelaku bernama Awan pun dihadirkan di ruangan itu.

            Saat itu juga, Awan sempat bercerita bercerita tentang pemicu awal kejadian. “Dia datang mengurus Akta. Saat itu dia marah-marah di ruang pelayanan. Sayapun menegurnya agar dia tidak marah. Namun, dia tetap saja marah dengan menghujat pegawai pelayanan dengan kata-kata kasar. Diapun mengancam akan menunggu saya di luar karena ditegur,” kata Awan.

            Masih menurut Awan, saat hendak pulang ke rumahnya di Lingkungan Penatoi-kota Bima, ia melihat Iskandar sedang berada di luar. Hal tersebut, dianggapnya bahwa Iskandar menunggunya dan dikhawatirkan akan dianiaya oleh korban.

“Karena khawatir, sayapun menelephone orang tua saya. Ayah kandung saya  (Mus Mulyadin) pun datang, dan kemudian terjadilah peristiwa itu. Ayah saya bukan pegawai di Disdukcapil ini. Tetapi, sebagai PNS pada Inspektorat Kabupaten Bima,” paparnya.

         Pada moment tersebut, Kadis Dukcapil Kabupaten Bima Zainudin SH,l berjanji akan memberikan pembinaan terhadap Awan. Namun, ia mengaku bahwa Mus Mulyadin bukanlah menjadi tanggungjawab pihaknya. Sebab, yang bersangkutan adalah PNS pada Inspektorat Kabupaten Bima. “Saya benar-benar tidak tahu kejadian ini. Sebab, saya baru datangf. Saat saya datang di kantor, kejadiaqn sudah berakhir. Dan awlnya, saya juga tidak tahu siapa saja pelakunya,” ujar Zainudin.

            Bagaimana Iskandar membeberkan kejadian yang sesungguhnya?. Kepada sejumlah awak media yang menemuinya di ruang SPKT Polres Bima Kota, Iskandar mjengungkap,  kejadian bermula ketika dirinya hendak membuat akta kelahiran. Namun ia mengaku, dipersulit oleh para pegawai setempat.

        “Padahal, saya sudah melewati prosedur. Saya juga sudah mengisi formulir, semua berkas juga lengkap. Tapi saya dipingpong ke sana ke mari. Bahkan, saya disuruh antar berkas ke meja verifikasi, padahal itu tugas mereka. Makanya saya jengkel,” kata Iskandar kepada wartawan.

         Atas pelayanan yang demikian, korban pun memprotesnya. Namun tiba-tiba salah seorang pegawai bernawa Awan menanggapinya dengan nada tinggi. Bahkan Iskandar dituduh membuat keributan dalam ruangan. Percekcokan keduanya, pun tak terrhindari. Akibatnya, suasana Disdukcapil pun menjadi jadi gaduh. Namun saat itu, tidak sampai terjadi bentrokan fisik. Karena, sejumlah pegawai berhasil mendinginkan suasana.

          Untuk menghindari sesuatu yang tak diinginkan, Iskandar kemudian digiring dari dalam menuju halaman depan kantor. “Awalnya, saya hanya memprotes soal pelayanan mereka. Tetapi, pegawai itu menuduh saya membuat keributan. Kemudian datang beberapa pegawai lain dan menyeret saya ke luar,” tandasnya.

       Saat digiring keluar, korban kemudian memanggil temannya di salah satu warnet.Sementara itu, Awan langsung mengadu kepada orangtuanya melalui telephone. Sekitar 20 menit kemudian, Iskandar bersama rekannya kembali datang ke kantor Disdukcapil untuk menanyakan pengurusan dokumen yang diajukannya.

         Namun setiba di kantor itu, ia bersama temannya justru diteriaki dan diserang oleh sekelompok pegawai berpakaian dinas. Para pelaku langsung menyeret korban sambil memukul dengan batu. Korban terus dipukuli hingga babak belur. Sementara rekannya berhasil menyelamatkan diri. “Saya dipukul dari belakang sampai jatuh. Ada yang menggunakan tangan kosong, ada juga yang menggunakan batu,” terangnya.

          Dalam ingatanya, pelaku dalam kasus ini lebih dari dua orang. “Pelakunya memang lebih dari dua orang. Tapi yang saya kenali hanya dua orang. Yakni, ayah dan anaknya itu. Keduanya ini, adalah yang pertama menyerang saya,” bebernya.

         Secara terpisah, pihak SPKT Polres Bima Kota, membenarkan telah menerima pengaduan korban. Namun, korban belum dimintai keterangannya karena kondisinya yang terlihat lemas dan bersimbah darah. “Pengaduan korban, sudah kami terima. Maka langkah selanjutnya akan kami teruskan ke Unit Reskrim. Oleh karenanya, silahkan konfirmasi lebih lanjut ke Kasat Reskrim,” jelas seorang petugas KSPK, Brigadir Muh Supriyadi.

         Lepas dari itu, kini keluarga korban tak tinggal diam. Untuk mengantisipasi agar kasus ini tak melebar, keluarga korban mendesak pihak Polres Bima agar segera menangkap sekaligus menahan pelakunya.

      “Kasus ini tak boleh dibiarkan begitu saja. Oknum PNS asal Inspektorat itu harus segera ditangkap dan kemudian dikerangkeng. Demikian pula halnya dengan anak kandungnya (Awan). Sementara sejumlah oknum lain yang diduga terlibat menganiaya korban, juga harus segera diusut tuntas,” desak keluarga korban. (Rizal/Must/Buyung/Wildan)