Ipung di RSUD Bima, tampak ibunya yang sedang berdiri di sampingnya

 

Visioner Berita Kota Bima-Kondisi korban terluka Ipung (pelajar kelas II UPW pada SMK I Kota Bima) Ipung akibat ditikam oleh oknum pelajar berinisial WW pada peristiwa yang terjadi pada Jum’at Minggu lalu di sebelah barat SMK I Kota Bima, kini terlihat membaik di RSUD Bima-tepatnya di VIP A ruangan Sakura.

            Senin (20/2/2017), Visioner berhasil menemui Ipung yang didampingi oleh ibunya yakni Insana (49), beberapa rekan sekolah dan keluarganya di ruangan Sakuran tersebut. Sekitar satu menit, Visioner sempat menyapa Ipung dengan kata-kata yang menyemangatinya. “Sehat Ipung, semoga lekas normal agar bisa menjalani rutinitas sebagaimana biasanya (sekolah). Kamu harus hidup seribu tahun lagi,” sapa Visioner.  

            Sapaan itu, pun dijawab oleh Ipung, kendati mulut dan hidungnya terpasang oksigen. Namun, dia sudah bisa berbicara, baik kepada Visioner maupun terhadap rekan dan keluarganya. Menariknya, saat disapa oleh Visioner, Ipung juga sempat mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. “Ya, Insya Allah saya sehat dan masih semangat, Pak. Terimakasih telah mengunjungi saya,” sahutnya singkat.

            Paman kandung Ipung yang sejak awal menjaga Ipung di RSUD Bima, kamsin juga membenarkan bahwa kondisi yang bersangkutan juga sudah berangsur-angsur membaik. “Alhamdulillah kondisinya makin membaik. Ipung juga sudah bisa makan bubur. Dan memang dianjukan untuk makan bubur oleh Dokter yang menanganinya (Dokter Nyoman). Ibunya juga sudah datang ke sini bersama Ipung. Dan ada juga rekan-rekan dan keluarganya yang datang dari Pulau Messa,” tandas Kamsin.

            Hanya saja, ada kendala soal penanganan untuk mempercepat proses penyebuhan lukanya Ipung. Berdasarkan pengakuan Dokter yang menanganinya yang diterima oleh pihaknya menjelaskan, drainase (selang) untuk mengeluarkan darah dari tubuhnya Ipung yang mengucur kedalam itu, tidak berjalan secara normal.

            “Kata Dokternya, akibat tikaman tersebut, darahnya Ipung mengucur kedalam-bukan keluar. Sementara selang dimaksud hanya ada di Mataram-NTB. Dan mesin untuk mendorong kelancarana darah itu agar bisa mengalir secara normal melalui selang dimaksud, juga ada di Mataram. Kedua alat itu tidaka da di Bima. Oleh karenanya, kata Dokternya, sepertinya Ipung harus dirujuk ke Mataram atau ke Bali,” ungkap Kamsin.

            Untuk memastikan Ipung akan dirujuk ke Mataram atau Bali, pihaknya masih menunggu keputusan Doker yang menanganinya. “Kami juga sangat kekurangan biaya, pak. Sudah empat hari dengan sekarang, Ipung dirawat di sini. Kami tidak tahu berapa biaya yang harus kami keluarkan. Untuk biaya makan minum dan kebutuhan lain termasuk transportasi, kami juga kekurangan. Jadi, mohon kami dibantu, Pak,” harap Tamsin.

            Sementara itu, Dokter Nyoman yang menangani Ipung, juga membenarkan bahwa adanya kekurangan alat yang dimiliki oleh RSUD Bima. Salah satunya adalah mesin USD. “Sebagai Dokter yang menanganinya, saya harus sampaikan apa adanya. Kondisinya, membaik ya. Keluarganya bertanya ke kita, apakah tidak sebaiknya Ipung dirujuk ke Mataram. Saya katakan, kalau bawa ke Mataram ya silahkan. Karena, kita disini tidak memiliki mesin USD,” sahut Nyoman kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (20/2/2017).

            Akibat terkena benda tajam, menurutnya ada dua luka pada diri Ipung. Yakni, punggung kiri bagian atasnya dan secara otomatis paru-parunya kenda dan rongga paru-parunya berisi darah. “Untuk mengalirkan darah dari tubuhnya Ipung, sudah kita pasangkan selang. Cuman harus ada mesin (USD) yang mampu menyedotnya keluar. Tidak bisa dengan tekanan pasif. Untuk membuat darah itu keluar lebih lancar, ya harus disedot dengan menggunakan mesin. Ya, alternatifnya harus ada mesin itu. Sementara di kita ini (RSUD) Bima, tidak memiliki mesin itu,” jelasnya.

            Nyoman kemudian menyarankan, karena kekurangan yang dihadapinya terkait penanganan terhadap Ipung, semakin cepat dirujuk ke Mataram atau Bali, itu justeru lebih baik. “Ada sich selang yang dipasang khusus untuk di bagian dadanya. Tapi kalau soal udara, selang yang kecil yang terpenting darahnya bisa tersedot itu juga bisa. Cuman sekarang zaktionnya, hanya mengalir pasif begitu saja. Jadi, selangnya ditaroh di bawah, kita hanya mengandalkan grafitasi bumi saja. Itu semua dilakukan karena tidak ada sedotan yang aktif,” terangnya.  

            Ditanya apakan Ioung bersifat emergency untuk dirujuk ke Mataram atau Bali, Nyoman mengaku bahwa pertanyaan tersebut kadang-kadang susah untuk dijawab. “Karena kondisi pasien seperti Ipung ini, kita kadang-kadang tidak bisa memprediksinya. Yang pasti, dia ditusuk dan paru-parunya kena. Intinya, kami akan terus menanganinya. Soal apakah Ipung akan dirujuk ke Mataram atau Bali karena kekurangan alat yang dibutuhkan, tunggu saja informasi selanjutnya,” harapnya.

            Soal kekurangan biaya yang dihadapi oleh Ipung, Kepala LPMP NTB DR. H. Irfan sudah menghubungi UPT Dinas Dikpora NTB melalui Telephone agar segera mengkroscek kondisi yang bersangkutan di RSUD Bima. “UPT itu harus melaporkan secara lengkap kondisi dan bagaimana tindakan selanjutnya terhadap anak kita itu (Ipung) ke Kepala Dinas (Kadis) Dikpora NTB. Jadi, sekarang kami masih menunggu informasi lanjutan dari UPT Dikpora NTB yang ada di Bima,” jelasnya, Senin (20/2/2017).

            Sementara itu, Walikota Bima HM. Qurais H. Abidin, saat ini sedang menjalankan Ibadah Umroh ke Mekkah. Sedangkan Wakil Walikota Bima H. A.Rahman H. Abidin, SE juga mengaku sedang mengikuti kegiatan rapat di luar Kota. “Maaf, saya masih di luar Kota. Nanti, saya akan mengutus Hj. Hajrah (isterinya) untuk menjenguk Ipung di RSUD Bima. Dan, akan saya perintahkan Sekda Kota Bima untuk menjenguk Ipung,” sahut Wakil Walikota melalui saluran WA-nya kepada Visioner (20/2/2017).

            Bupati Bima HJ. Indah Dhamayanti Putri, juga berjanji akan ikut berpartisipasi membantu Ipung. Namun, sebelumnya Bupati menyatakan akan melakukan konfirmasi terlebih dahulu dengan drg. H. Ikhsan selaku Dirut RSUD Bima. “Tunggu ya, saya akan cek terlebih dahulu ke Dirut RSUD Bima,” ujarnya (20/2/2017).

            Masalah kekuranga biaya terkait penanganan Ipung, juga ditanggapi oleh Humas RSUD Bima, Heru Joko Setioyono. “Kalau mereka kekurangan biaya, tentu saja akan ada diskon 25 porsen. Kalau benar-benar tidak memiliki biaya, juga akan akan didiskon sampai 50 porsen. Tapi kalau korban ini benar-benar miskin, tentu saja akan dibebaskan dari biaya. Tapi sebelumnya, kita tunggu pengakuan Dokter yang menanganinya, serta proses dan tahapan selanjutnya,” janjinya. (Rizal/Buyung/Must/Wildan)