Dari arena wisata Tanah Lot-Bali

Dibalik acara Musyawarah Koordinasi Wilayah (Muskorwil) IV Asosisi Pemerintah Kota se Indonesia (APEKSI) ke 12 tahun 2016, Visioner menemukan sejumlah catatan penting yang memecut kemajuan Bali pada semua sisi. Yakni, mulai dari kekuatan budaya hingga pencipataan rasa aman-nyaman bagi geliat ekonomi dan pariwisatanya. Berikut sekelumit catatannya.

Bali adalah rumah kedua, itulah stigma yang sudah terbangun sejak lama sampai sekarang oleh wisatawan baik nasional mapun internasional. Sisi keamanan maupun kenyamanan bagi wisatawan, tercipta karena menyatunya keinginan pemerintah dengan kesadaran masyarakat Bali maupun pihak lain yang berdomisli di Pulau Dewata itu.

            Kebersihan dan keindahan Bali, bukan sekedar wacana. Jalan-jalan raya hingga rindangnya pepohonan yang kemudian didukung oleh pembangunan infrastruktur baik pemerintah, swasta dan masyarakat biasa nampak jelas di depan mata. Masyarakat asli Bali disibukkan dengan beragam aktivitas yang menunjang keberlangsungan nasib dan masa depannya.            

            Hal yang sama juga dilakukan oleh pendatang yang berdomilisi di Bali. Seluruh tempat wisata, antara lain Sanur, Kuta, Nusa Dua, Tanah Lot dan lainnya disesakki oleh wisatawan. Ritual keagamaan di wilayah bermayoritas Hindu itu pun terlihat di sepanjang jalan. Kehebatan di berbagai aspek mulai dari keamanan, kesejahteraan, kedamaian hingga kenyamanan investasi diakui terus mendorong tumbuh dan berkembangnya geliat ekonomi di Bali.

            Masyarakat Bali pada umumnya memiliki cara pandang dan keramahan yang berbeda dalam memperakukan daerahnya sehingga tetap menjadi yang nomor wahid (utama) di Indonesia bahkan di mata dunia. Kendati terjadi Bom Bali satu dan dua, namun tak membuat Bali surut dalam perspektif perkembangan dan kemajuannya dari berbagai sisi.

“Kami terus berpacu untuk mempertahankan Bali agar tetap aman, nyaman dan damai di mata siapapun. Anda jelas merasakan sesuatu yang beda ketika berada di Bali,” jelas salah seorang anak Muda Bali, Nyoman Karta saat berbicang singkat dengan Visioner di sebuah warung kecil di jalan Tuban, Denpasar-Bali, Jum’at (3/6/2015).

            Kemananan dan kenyamana Bali diwujudkan melalaui perpadua dua kesadaran yang utuh. Yakni antara pemerintah dengan kekuatan regulasinya dan masyarakat yang menempatkan adat dan budaya sebagai payungnya. “Siapapun harus nunut pada regulasi dan kekuatan adat di Bali. Itu yang harus anda lakukan di Bali. Keamanan dan kenyamanan tercipta mulai dari jalan raya hingga ke tempat hiburan. Ini nyata dan silahkan anda saksikan sendiri,” tandasnya.

            Bali tak pernah sepi dalam waktu 24 jam setiap harinya. Mulai dari super market hingga warung-warung kecil dibuka dari pagi sampai pagi. Semua sisi tersebut tak pernah sepi dari pengjunjung. “Itulah salah satunya yang mendorong geliat ekonomi di Bali. Kalau rasa aman dan kenyamanan dapat dicpitakan di semua sisi, tentu saja daerah dan masyarakatnya akan menikmati kesejahteraan dan kemajuan. Bali mampu menciptakan itu sebagai sipul utama yang mendorong kemajuan dan perkembangannya di semua sisi,” ujarnya.

            Atas keamanan dan kenyamanan yang dimiliki oleh Bali, setiap hari tak pernah ditemukan adanya peristiwa dahyat seperti pencurian, penyambretan, perampokkan hingga perkelahian. “Pengaruh ada dan penagakkan hukum menjadi motor yang mampu menjami sehingga Bali jauh dari peristiwa yang mengganggu laju investasi di berbagai bidang. Kendaraan anda diparkir dalam keadaan hidup sampaikapanpun, dijamin tak akan hilang. Di tempat wisata dan hibuna malam sekalipun anda merasakan keamanan dan kenyamanan. Orang Bali maupun masyarakat lain yang berdomisili di sini semuanya patuh dan taat terhadappenegakkan hukum dan pengaruh adat,” ulasnya.

            Bali tak pernah keluar dari akar budayanya. Itulah yang membuat Bali dan masyarakatnya tetap tampil dengan kekhasannya di sepanjang sejarah. “Mulai dari perilaku masyarakatnya hingga pembangunan infrastruktur yang ada semuanya seragam. Itu coba anda liat atap bangunan mulai dari rumah warga hingga bangunan besar seperti hotel, kantor pemerintah dan lainnya-semuanya sama. Itulah salahsatu ciri dari Bali. Ciri itulah yang memastikan bahwa Bali dan masyarakatnya tak pernah jauh dari akar budayanya,” katanya.

            Seiring dengan kemajuan dan perkembangannya di semua sisi, maka “pertumbuhan lain” juga tak bisa dinafikkan di Bali. “Bagi orang Bima ketika melihat orang seksi yang jalan di sejumlah tempat adalah sesuatu yang tabu karena kekuatan agama dan budayanya. Tetapi di Bali, itu biasa saja. Pun demikian halnya ketika melihat orang bertato. Di sini kebebasan memang dijamin, tetapi tidak pada konten yang bersifat kebablasan,” tuturnya.

            “Yang bablas juga ada, tetapi tidak terang-terangan. Mereka bablas pada tempat-tempat tertentu, bukan dipinggir-pinggirjalan. Itu bukan orang asli Bali, tetapi mereka yang diluar Bali. Tidak etis disebut dari mana asal mereka. Kalau warga asli Bali jelas taat beragama dengan tetap mempertahankan adat-istiadatnya,” jelasnya lagi.

            Karena cirinya, Bali tak bisa disamakan dengan daerah manapun di Indonesia termasuk Bima. Masing-masing daerah memiliki ciri khas yang berbeda. Pria muda tanpa Tato ini (Nyoman Karta) menegaskan, harga makanan dan pakaian di Bali masih sangat banyak yang bisa dijangkau oleh masyarakat ekonomi lemah sekalipun.

“Di pinggir jalan, anda masih bisa menemukan makanan dengan harga belasan ribu. Harga minumanpun masih banyak yang sangat murah. Soal pakaian, di sejumlah toko anda masih bisa menemukan harga barang dengan nilai puluhan ribu pula. Kalau di super market memang mahal-mahal, tetapi ada juga yang relatif murah,” tandasnya lagi.

Soal kemajuan dan perkembangan dunia pendidikkan di Bima juga diakuinya, hingga detik ini masih berjalan dengan baik. Sarana pendidikkan dengan fasilitas yang sangat memadai bagi tenaga pendidik dan terdidik di Bali, juga masih diakui adanya.

“Karena hal itu, semua potensi di Bali bergerak secara signifikkan. Yakni mulai dari persoalan besar hingga yang paling kecil sekalipun. Hampir semua kreasi ada di Bali. Semuanya belajar dari hal yang kecil hingga yang besar. Orang Bali masih kental dengan bahasa balinya. Tetapi, hampir semua orang Bali bisa berbahasa inggris. Ini salah sau contoh kecil dari perkembangan dunia pendidikkan di Bali,” terangnya.

            “Beberapa tahun silam, Saya pernah jalan-jalan ke Bima. Orang Bima juga ramah-ramah dan cepat akrab dengan orang manapun. Orang Bima tegas dan agamaanya masih sangat kuat. Harga makanan di Bima, lumayan bedalah dengan yang di Bali. Saya sering baca juga tentang perkembangan Bima melalui media online maupun media elektronik. Saya juga punya banyak teman di Bima. Kalau boleh usul, bagusnya berita-berita yang bersifat mengganggu keamanan dan kenyamanan investasi jangan di ekspose dong. Kan kasihan Bima di mata orang luar sana.,” sarannya.

            Bagaimana dengan Bima?. Potensi sumber daya alam (SDA) di Bima sangat berlimpah. Lokasi wisata di Bima jumlahnya sangat banyak. Namun, terlihat masih minim sentuhan. Geliat ekonomi di Bima juga masih sangat lemah. Pemicunya, salah satunya karena faktor kelatahan dan “kemiskinan kreativitas”.

            Nilai ketokohan di Bima terkesan telah bergeser jauh. Angka kriminalitas yang belum muncul di atas permukaan, hingga kini belum mampu dielminiasi. Keamanan dan kenyamanan bagi investasi di Bima pun masih sangat jauh dari harapan. Itu karena dipicu oleh “kemiskinan kesadaran dan hingnya partisipasi”.

            Berbagai kasus luar biasa, akhir-akhir ini kembali terjadi di Bima. Hal itu mencerminkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai termasuk nilai kebersamaan belum merata di Bima. Untuk meminimalisirnya membutuhkan kekuatan kebersamaan dan kembalinya nilai-ketokohan yang terkesan mulai terkikis oleh perilaku dan tindakan “anak zaman”.

            Semangat kegotong-royongan di Bima dalam berbagai segi harus kembali ditumbuh-kembangkan. Tujuannya, agar ciri Bima dan masyarakatnya tidak termakan zaman. Ketalnya nilai budaya dan agama orang Bima yang masih diakui pun harus berjalan seiring sisi lain seperti penciptaan rasa aman dan nyaman bagi siapapun.

            Sebab, Bima dan masyarakatnya membutuhkan kemajuan dan perkembangan di semua sisi seperti yang terjadi di wilayah lain termasuk Bali. Sistim pelayanan termasuk penegakkan supremasi hukum di Bima adalah mutlak untuk dilakukan, pun demikian halnya dengan tingkat kesadaran menerima dari masyarakat sebagai pihak yang dilayani.

            Sejumlah point penting dan nyata di Bali sebagai pemicu kemajuan dan perkembangan di semua sisi sangat layak untuk dipetik dan diberlakukan di daerah ini untuk tujuan menatap masa depan yang lebih baik dan bermartabat dari sebelummya. Stigma tentang kentalnya nilai agama dan kebersamaan di Bima, setidaknya dapat dijadikan sebagai modal dasar untuk menata sisi-sisi lain yang masih dianggap lemah sekaligus penghambat bagi pertumbuhan dan perkembangannya.

 

            Daya kritisnya orang Bima, sebaiknya dimanfaatkan pada sejumlah konteks pembangunan yang masih minim sentuhan seperti pariwisata, kelautan dan perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, pertanian tanaman pangan dan holtikultura. Pun, daya kritis tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk melawan persoalan “brutal” yang sebelumnya mempertaruhkan nama Bima di mata daerah lain khususnya di Indonesia.  Sejumlah sisi sebaiknya “berguru” pada Bali. Karena, kemajuan adalah tujuan-keterkukungkungan adalah kebencian. (Rizal/dikutip dari perkembangan Bali dengan sejumlah fakta yang terjadi di Bima)