Keluarga Besar Apotik SBY Farma Kota Bima

Visioner Berita Kota Bima-Terjaringnya SNH alias ID (49) dalam Operasi tangkap Tangan (OTT) terkait kasus tramadol sebanyak 5000 butir di Kabupaten Dompu oleh Tim Reserse Brimob (Resmob) setempat pada Selasa (28/3/2017), sempat terkuak hal menarik. Yakni, kepada penyidik Resmob, SNH menyeret nama Apotik SBY Farma yang berada di Kota Bima pada peristiwa dimaksud..

Pengakuan SNH alias ID tersebut, spontan saja membuat penilik Apotik SBY Farma di Kota Bima dan keluarga besarnya-marah besar. Kemarahan tersebut, muncul ketika Visioner diundang untuk mengklarifikasi berita yang sudah tersebar di sejumlah media massa termasuk Online, Rabu (29/3/2017).

“Pengakuan pelaku yang tertangkap itu, adalah sarat kaitannya  dengan upaya menutup matarantai mafia dan jaringan tramadol yang beredar luas baik di Bima maupun di Dompu. Oleh karenanya, kami keluarga besar Apotik SBY Farma Bima mendesak Polisi agar jeli mengungkap kasus ini,” desak salah seorang delegasi keluarga besar Apotik SBY Farman Kota Bima H. Rasyid Herman.

Sebab, sejak Pemerintah menarik izin edar tramadol dan menutup Perusahaan yang memproduksinya pada beberapa tahun silam hingga sekarang, Apotik SBY Farma di Kota Bima sudah tidak lagi menjual tramadol.

“Izin edar tramadol itu sudah ditarik oleh Pemerintah karena pertimbangan tertentu. Sedangkan Perusahaan yang memproduksinya, juga sudah resmi ditutup oleh Pemerintah. Izin edar dan Perusahaan yang memproduksi tramadol tersebut, jelas-jelas sudah ditutup secara resmi oleh Pemerintah sejak beberapa tahun silam, kok. Dan sejak saat sampai sekarang, Apotik SBY farman Kota Bima tidak pernah lagi menjual tramadol. Sementara pengakuan SNH alias ID yang menyeret nama Apotik SBY farma Kota Bima dalam kasus tersebut, adalah fitnah dan semata-mata rekayasa. Untuk itu, yang bersangkutan harus mempertanggungjawabkannya secara hokum,” tegas Rasyid.

Atas rekayasa dan fitnah yang dilakukan oleh SNH alias ID tersebut, maka pihaknya akan mengambil langkah dan sikap tegas. Bentuknya, pihaknya akan membangun kesepakatan bersama untuk menyeret yang bersengkutan ke lembaga hokum, baik secara Pidana maupun Perdata. “Sebab, kami sangat dirugikan baik secara fisik maupun prikologis oleh oknum yang tak bertanggungjawab itu (SNH alias ID),” ancamnya.

            Pada moment klarifikasi berita dengan Visioner dikediamannya di Jalan Soekarno-Hatta itu, Rasyid kemudian menyampaikan surat pernyataan terbuka. Isinya, dengan adanya pencatutan dan atau mengatasnamakan Apotik SBY Farma oleh SNH alias ID maupun oknum-oknum lainnya dalam kasus penedaran maupun obat-obat lainnya baik di Bima maupun Dompu, maka tidak ada kaitannya dengan Apotik SBY Farma Kota Bima.

“Yang dilakukan oleh SNH alias ID tersebut, kami tegaskan sama sekali tidak ada kaitannya dengan Apotik SBY Farma Kota Bima. Sebab, pengakuan SNH alias ID adalah sarat dengan kebohongan besar,” timpalnya.

            Kedua, jika ditemukan adanya oknum-oknum yang mengatasnamakan Apotik SBY Farma Kota Bima dalam kasus tramadol maupun obat-obat lainnya yang dilarang keras oleh Pemerintah, maka pihaknya akan mengambil langkah dan sikap tegas. Yakni, akan menuntutnya sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.

“Selain itu, dalam waktu kami juga berencana akan ke Dompu untuk memberikan klarifikasi kepada pihak Polres Dompu terkait pengakuan SNH alias alias ID. Upaya klarifikasi itu bersifat harus. Sebab, Apotik SBY Farma Kota Bima sudah difitnah dan dirugikan oleh yang bersangkutan,” ujarnya.

            Apoteker Pengelola Apotik SBY Farma Kota Bima Drs.H. Hefdin Umar, A.Pt, juga mengutarakan ketegasan yang sama. “Sejak izin edar tramadol ditarik secara resmi dan ditutup oleh Pemerintah, hingga sekarang Apotik SBY Farma Kota Bima tidak lagi menjual tramadol. Sebagai Apoteker Pengelola Apotik SBY Farma Kota Bima, saya juga sudah menanyakan kepada seluruh karyawan di sana.

“Mereka juga menegaskan tidak lagi menjual tramadol. Oleh sebab itu, pengakuan SNH alias ID tersebut adalah fitnah, rekayasa dan telah membohongi publik. Dan, dia harus mempertanggungjawabkan kebohongannya tersebut. Kami jelas tersinggung, sebab Apotik SBY Farma Kota Bima ikut diseret oleh yang bersangkutan dalam kasus tersebut, padahal sesungguhnya tak memiliki kaitan sama sekali,” tegasnya.  

            Mantan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Bima yang kini menjabat sebagai tim akselerator di wilayah setempat ini, juga mengaku heran atas pengakuan SNH alias ID yang menyebutkan memesan tramadol sejak tiga bulan silam melalui Apotik SBY Farma Kota Bima dan kemudian baru kemanri diambilnya (28/3/2017).

“Izin edar tramadol saja ditarik rfesmi oleh Pemerintah sekitar tahun 2015. Pada sekitar tahun itu pula, Pemerintah menutup secara resmi Perusahaan yang memproduksinya. Sedangkan yang bersangkutan mengaku, memesan tramadol melalui Apotik SBY Kota Bima pada pada tiga bulan silam, dan baru diambilnya kemarin. Nah, disinilah letak kebohongan besar yang bersangkutan. Kami jelas tersinggung, karena dalam kasus tersebut yang bersangkutan telah menyeret Apotik SBY Farma yang sama sekali tidak kaitannya dengan hal itu,”timpalnya.

            Sejak pemberitaan tersebut terkuak dipermukaan dan dibaca oleh banyak orang, Hefdin mengaku talh berkoordinasi, berkomunikasi dan berkonsultasi dengan pihak BPOM Mataram-NTB. Pihak BPOM Mataram-NTB, juga mengaku heran atas pengakuan SNH alias ID tersebut.

 “Jangankan kami, BPOM Mataram NTB juga sangat kaget ketika SNH alias ID menyeret Apotik SBY Farma Kota Bima dalam kasus tersebut. Padahal, beberapa bulan silam BPOM telah melakukan pemeriksaan terhadap Apotik SBY Farma Kota Bima. Hasilnya, BPOM Mataram-NTB tidak menemukan adanya tramadol di Apotik itu. Sekali lagi, SNH ini telah merekayasa pengakuan (fitnah). Dan tidak tertutup kemungkinan adanya unsure lain dibalik pengakuan SNH alias ID itu,” tegasnya.

            Pemilik Apotik SBY Farma Kota Bima Hj. Devi Susanti juga menegaskan, pengakuan SNH alias ID tersebut adalah mengada-ada dan sarat dengan fitnah serta kebohongan publik. “Kami tidak lagi menjual tramadol setelah Pemerintah menarik izin edarnya dan menutup Perusahaan yang memproduksinya secara resmi. Kami sangat tidak kenal dengan SNH alias ID, pun tidak pula mengenal wajah dan bagaimana orangnya. Oleh karenanya, dalam kasus itu kami telah difitnah oleh yang bersangkutan. Untuk itu, dia harus mempertanggungjawabkannya,” tegas Devi.

            Setiap pelanggan yang membeli obat-obatan resmi dalam jumlah besar dengan harga nominal bervariatif mulai Jutaan Rupih hingga Belasan Juta Rupiah, diakuinya sangat mengenalnya. “Dalam hal itu, kami sangat mengenal orangnya dan alamat lengkapnya. Sementara si SNH alias ID, sama sekali tidak kami kenal. Jangankan melihat langsung mukanya, berhubungan lewat telephone dengan kami pun tidak pernah. Setelah melihat langsung fotonya, malah kami bertanya siapa sesungguhnya orang ini,” Tanya Devi.  

            Salah seorang keluarga besar Apotik SBY farma Kota Bima Muhtar SH menegaskan, pengakuan SNH alias ID yang dianggap rekayasa serta mengandung unsur fitnah yang besar, sangat layak untuk diseret ke lembaga hukum baik Pidana maupun Perdata. “Selain mengambil langkah klarifikasi melalui media massa yang memuat kasus itu, kita juga harus menempuh jalur hukum. Sebab, fitnah tersebut dapat merugikan Apotik SBY Farma baik secara fisik maupun psikologis. Untuk itu, jalur hukum atas kasus tersebut akan kami tempuh,” tegasnya singkat. (TIM VISIONER)