AKBP M. Eka Fatur Rahman SH, S.IK

Visioner Berita Bima-Perang antar warga di dua Desa yakni Dadibou Vs Penapali, Kecamatan Woha-Kabupaten Bima, kini sudah tak terdengar lagi. Namun, aparat baik TNI maupun Polri, terlihat masih terus berjaga-jaga di pertengahan dua Desa itu, tepatnya di halaman kantor Bupati Bima persiapan. Aktivitas warga di sejumlah Desa di wilayah Woha termasuk di dadibou maupun Penapali, kini terlihat berjalan sebagaimana biasanya.

            Jalan yang diblokir oleh warga di 10 titik mulai dari di depan STKIP Taman Siswa (Tamsis) hingga ke Penapali, sejak kemarin (29/5/2017) sudah dibuka secara paksa oleh aparat gabungan TNI-Polri. Sejak jalan negara yang sempat macet selama dua hari tersebut dibuka, aktivitas kendaraan kini ramai dan lancar.

             Sementara dugaan riak-riak kecil yang ditengarai dilakukan oleh oknum tertentu, hingga detik ini masih  saja terjadi. Indikasi itu, ditemukan pada Minggu malam (28/5/2017) yang menyebutkan adanya upaya sweeping yang dilakukan oleh aparat keamanan di Talabiu. Padahal, Polisi secara tegas menyatakan bahwa hal tersebut merupakan isu yang sengaja dihembuskan oleh oknum tak bertanggungjawab.

           Kapolres Bima Kabupaten AKBP M. Eka Fatur Rahman SH, S.IK-membenarkan bahwa suasana pasca perang antar dua Desa tersebut, kini mulai sangat kondusif. Kendati demikian, aparat keamanan telah melakukan siaga ketat di sejumlah lokasi. “Benar, kini suasana keamanan di Kecamatan Woha sudah bisa dikendalikan. Maksudnya, dalam keadaan relatif kondusif. Kendati demikian, aparat keamanan masih terus melakukan penjagaan di sejumlah lokasi. Hal ini, bertujuan untuk mnjaga-jaga situasi agar tidak terjadi kemungkinan-kemungkinan diluar harapan kita semua,” jelas Eka, Senin (29/5/2017).

           Eka kemudian menyatakan, untuk aparat Kepolisian masih disiagakan di tiga lokasi, Pos I di Polsub Sektor Uma Leme. Pos II di siagakan di Polsek Woha, dan Pos III disiagakan di Perkatoran Bupati Bima. “Ini semua dilakukan, sebagai upaya untuk mengantisipasi agar tak terjadi perang antar kampung,” ujar darah asli Bima kelahiran Desa Maria Kecamatan Wawon ini.

        Siaga ketat ini, juga berkaitan dengan isu adanya penyerangan yang dilakukan oleh lima Desa terhadap Dadibou. Untuk mempertajam keamanan dan pengamanan situasi di sana, pihaknya melakukan patroli di seputaran Kecamatan yang sedang berkonflik. “Seluruh rangkaian kegiatan, akan dihentikan setelah situasi benar-benar kondusif,” paparnya.

          Minggu-minggu terakhir ini terutama sejak perang antar Desa itu meletus, Eka terlihat jarang sekali istirahat. Eka yang baru sembuh dari penyakit Thipus (tipes) ini, harus bekerja keras mengamankan situasi di Kecamatan Woha dan sekitarnya. Kendati demikian, tak tampak adanya keluhan diraut wajahnya.

        “Sekarang, jarang sekali istirahat. Tidur pun hanya beberapa saat saja. Sebab, kami harus bekerjakeras mengamankan daerah dan masyarakat Bima. Hanya satu yang kami harapkan, mari bergandengan tangan, bersama-sama menciptakan suasana Bima yang aman dan kondusif. Kesadaran dan rasa malu yang kuat, kita harus buktikan kepada dunia. Dan, buktikan bahwa kita orang Bima mampu menampikan yanjg terbaik buat bangsa dan tanah kelahiran ini di mata daerah lain,” sarannya.

      Keamanan-kenyamjanan daerah dan masyarakat, disadarinya bukan saja menjadi tugas serta tanggungjawab aparat keamanan baik TNI dan Polri. Tetapi, hal itu juga melekat dalam diri seluruh elemen bangsa ini, khususnya di Bima.

       “Mari secara bersama-sama menterjemahkan pertanyaan tentang apa yang telah kita sumbangsikan untuk masyarakat dan daerah ini. Tak ada gunanya saling membantai satu sama lain. Hal itu, justeru akan merugikan diri kita dan jelas akan menyeret daerah ini kepada kemunduran. Saya yakin dan percaya, orang Bima mampu menjawab tantangan itu,” tuturnya.

     Proses penegakan hukum, diakuinya adalah buah dari peristiwa. Karenanya, berbagai pihak harus sadar untuk menghindarinya.

     “Kita tahu, setiap pelanggaran itu ada konsekuensinya. Untuk itu, sebaiknya berpikir keras untuk masuk dalam wilayah pelanggaran itu sendiri. Sebaliknya, justeru akan merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Oleh sebab itu, sekali lagi kami berharap, semua pertikaian yang dapat menimbulkan kerugian besar itu harus dihentikan dan harus dupayakan secara keras bersama-sama untuk tidak muncul di kemudian hari,” tegas Eka.

      Pembuktian kehebatan sebagai orang Bima, harus diterjemahkan dalam bentuk sikap, perilaku dan tindakan nyata. Semua elemen masyarakat, pun berkewajiban untuk menterjemahkannya sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing.

      “Polisi, Pemerintah Daerah, Ulama, Aktivis, Akademisi, Wartawan, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemudan dan seluruh elemen lainnya-tentu saja memiliki tanggungjawab sesuai ranahnya. Sekali lagi, mari kita sepakati bahwa konflik harus dihentikan secara bersama-sama. Dan, kedamaian sebagai sarana kemajuan bangsa dan negeri ini, juga menjadi harapan, mimpi sekaligus cita-cta bersama pula,” pungkas Eka. (Rizal/Must/Buyung/Wildan)