Inilah Fani Afnan Jannatun dengan Postingannya

Visioner Berita Bima-Sekelumit tentang Kecamatan Donggo dan masyarakatnya. Donggo terletak pada wilayah paling barat di Kabupaten Bima. Wilayah itu dikelilingi oleh bukti dan gunung. Warga Dongggo, rata-rata hidup di rumah panggung yang terbuat dari kayu rimba kelas satu. Bangunan rumah panggung, merupakan sebuah tradisi leluhur yang terwariskan sampai sepanjang sejarag di Donggo. Seiring dengan perkembangan zaman, terdapat juga adanya rumah batu permanen di Donggo, walau jumlahnya tak begitu banyak.

            Kehidupan rata-rata warga Donggo adalah bertani. Mulai dari sawah, kebuh hingga perladangan. Pada sebuah kondisi dengan letak geografis penuh tantangan dan rintangan, warga Donggo masih mampu bertahan dengan prinsip leluhurnya. Yakni, sebagai bangsa yang patuh, ramah, santun, agamais hingga penuh toleransi.

            Warga Donggo yang terbalut dalam sebuah suku bernama Dou Donggo, bukan saja berdomisili di Kecamatan Donggo dan Soromandi. Tetapi, suku Donggo menyebar di berbagai penjuru di Idnonesia dan bahkan di Dunia. Dalam catatan sejarah, Donggo juga “diklaim sebagai warga Bima pertama” di Bima. Nama Donggo, bukan saja tersohor di Bima dan di Indonesia. Tetapi, juga menggema di Dunia, salah satunya di negeri Belanda bahkan di Mekkah (cari story tentang Donggo di berbagai situs website).

            Hidup pada sebuah wilayah dengan letak geografis dan iklim yang tak menentu, Dou Donggo telah mampu membuktikan sebagai bangsa yang “heroik”. Indikasi ini tercermin pada Sumber Daya Manusia (SDM) Dou Donggo yang minimal tamatan SMA, banyak pula yang S1 hingga ke Doktor. Haltersebut, membuka mata Nusantara bahwa Dou Donggo lebih mementingkan dunia pendidikan, agama, budaya dan lainnya pada urutan pertama.

            Ingat Donggo ingat kesejukan dan kesahajaan pelayanan masyarakatnya, itulah pengakuan berbagai pihak yang ikut merasakan model pelayana Dou Donggo. Bicara soal aktivitas, Dou Donggo tak semuanya bertani. Tetapi, juga ada yang berkapasitas sebagai PNS, Guru, Politisi, Polisi, TNI, Dosen, Wartawan, LSM, Ulama hingga ke buruh terhormat. Sementara jumlah terbesar Dou Donggo berada di tiga wilayah di NTB. Yakni, di Kabupaten Dompu, Kecamatan Donggo dan di Kecamatan Soromandi.

            Masih soal Donggo, Dou Donggo dikenal sebagai masyarakat yang tiak mudah marah. Kecuali, nilai-nilai dan prinsip dasarnya di obok-obok oleh orang lain. Soal Donggo juga menyisakan banyak Legenda. Diantaranya La Hila, Ompu Dampa, Ompu Soba, Ompu dan lainnya. Legenda ini mengisahkan soal “kesaksian-kesaktian” Dou Donggo pada berbagai peristiwa penting dalam catatan sejarah bangsa.

            Peristiwa Donggo tahun 1972 yang telah mengantarkan lima Tokoh ternama ke penjara lantaran membela prinsip-prinsip dasar dan nilai kemanusiaan, hingga kini masih menjadi catatan penting di Nusantara dan bahkan dunia. Prinsip ketegasan dan keberanian dalam membela kebenaran, menjadi bagian terpenting pada peristiwa Donggo tahun 1972. Sejarah itu, menuliskan tentang kemarahan Dou Donggo atas “Penguasa Dzolim saat itu”.

            Singkatnya, sejak puluhan tahun lepas dari peristiwa “kejam” itu, hingga sekarang, Dou Donggo tetap hidup dalam kedamaian. Beragam nilai dan prinsip-prinsi dasar kemanusiaan, masih terjaga sampai dengan detik ini oleh Dou Donggo. Namun, Selasa malam (19/9/2017), muncul sebuah fenomena yang seolah melecehkan Dou Donggo oleh seorang warga yang diduga asal Kecamatan Bolo-Kabupaten Bima, sebut saja Fani Afnan Jannatun melaui akun Facebooknya (FB).

            Pada postingan Fani discreenshoot oleh salah seorang warga asal Suku Donggo yakni Mar’atun Hasana Sumarjan, Fani menulis dalam statusnya tentang kisah yang diaalaminya saat melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu Desa di Kecamatan Donggo. Pada postingannya itu, Fani menyebutkan mahluk semacam “babi terluka (wawi ncuwu), ibu-ibu yang jual kemiri (Ina-Ina malanda kaleli) dan lainya. 

            Kalimat-kalimat dalam postingan Fani ini, sontak dipahami sebagai sebuah pelecehan terhadap Dou Donggo. Akibatnya,  ribuanj komentar di Medsos menyerang Fani. Seragan dan makian dari Suku Donggo terhadap Fani, datang dari berbagai penjuru di Indonesia.  Akibatnya, Fani tetrkesan terpojok dan meminta maaf kepada Suku Donggo.

           Hanya saja, permintaan maaf Fani, dianggap tidak kongkriet alias bergaya alay. “Saya minta maaf atas postingan saya itu. Postingan itu tidak bermaksud untuk melecehkan Suku Donggo. Tetapi, menceritakan tentang apa yang saya rasakan saat melangsungkan KKN di Donggo,” demikian Fani mengklarifikasi melalui akun Fbnya.

             Permintaan maaf Fani, hingga kini tak digubris oleh warga asal Suku Donggo dari berbagai penjuru. Ribuan komentar melalui postingan beberapa warga Suku Donggo di Medsos, hingga kini masih berlanjut. Caci-maki bahkan pernyataan keras yang diarahkan oleh Suku Donggo terhadap Fani, masih berlanjut hingga sekarang.

            Yang tak kalah menariknya, ada beberapa warga asal Suku Donggo yang menyandingkan kecantikan wajah Fani dengan wajah wanita asal Suku Donggo. Penyandingan tersebut, sontak saja dipostingan di Medsos. Salah satunya, diposting oleh salah seorang warga asal Suku Donggo yang tinggal di Kabupaten Dompu bernama Ria Purwati Hasdari. Cara yang sama, juga dilakukan oleh Mar’atun Hasana Sumarjan. Pada dua postingan ini misalnya, praktis mengundang beragam komentar dari warga asal Suku Donggo.

            Tak hanya itu, akibat kemarahan besarnya, warganet asal Suku Donggo pun mencari tahu latar belakang Fani. Dari hasil penelusurannya, Fani diketahui sebagai Alumni STIKP Bima, jurusan Sosiologi. Dan masih dari hasil penelusuran, Fani pun diketahui sedang berdomisili di Mataram NTB. Masih dari hasil penelusuran, Fani juga diketahui satu lating di STKIP Bima dengan Mar’atun Hasana Sumarjan. Pun Fani, diketahui sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT).

            Ditengah kemarahan suku Donggo yang makin memuncak di Medsos, muncul sebuah akun FB bernama Lia Rusmayanti. Lia hadir dengan pertanyaan yang dianggap tak relefan tentan bentuk penghinaan yang dilakukan oleh Fani terhadapSuku Donggo. Tak hanya itu, ratusan warga asal Suku Donggo pun menyerangnya dengan kata dan kalimat pedas terhadap Lia. Namun, akun Lia Rusmayanti dianggap palsu oleh pihak yang menyerangnya. Sebab, pada profilenya, tidak tertera alamat dan foto profilnya pun hanya satu. Hebatnya, akun yangh satu ini tak berbalik menyerang ketika diserang.

            Praktisnya, peristiwa yang dianggap melecehkan Suku Donggo oleh Fani ini, juga dibahas bukan saja di Medsos. Tetapi, juga kencang dibahas di berbagai Group WA Suku Donggo di Nusantara. Atas hal tersebut, warga asal Suku Donggo mendesak agar melaporkan Fani ke lembaga Ke;polisian. Untuk itu, Paguyuban Dou Donggo di manapun berada didesa segera mengambil sikap. Tetapi hingga berita ini ditulis, Ketua Paguyuban Donggo Kota Bima Drs. H. Mustahid H. Kako MM, belum berhasil di konfirmasi.

            Sekelumit catatan sejarah tentang Suku Donggo, hingga kini masih diakui ada kerterkaitan dan kesamaan kultur dengan masyarakat di Kecamatan Wawo (Donggo ele alias Donggo Timur). Tak hanya itu, Suku Donggo juga memiliki keterkaitan secara sejarah dan emosional dengan masyarakat di beberapa Desa di Kecamatan Woha, Belo, Palibelo dan Monta. Yakni berwatak tegas-keras dalam bersikap dan menyikapi, santun dan ramah dalam melayani, serta masih banyak kesamaan lainnya. (TIM VISIONER)