Ketua MUI Kota Bima, Drs. HM. Saleh

Visioner Berita Kota Bima-Kasus Video porno antara isteri Ardiansyah berinisial ERN dengan duda beranak satu berinsial IRF, hingga kini belum berakhir dari perbincangan publik. Berbagai pihak, pun menanggapi miring peristiwa memalukan itu. Komentar miring yang diarahkan kepada kedua pelaku (ERN dan IRF), terlihat sangat dominan di Media Sosial (Medsos) dimana pemberitaan terkait kasus tersebut masih sangat viral sampai sekarang.

            Kasus memalukan baik dalam perspektif agama, moral, budaya dan nilai-nilai penting lainyya termasuk ke-Bima-an ini, secara resmi sudah dilaporkan ke Polsek Asakota-Polres Bima Kota oleh Ardiansyah melalui Pengacaranya yakni Bambang Purwanto SH, MH. Bukan saja kalangan biasa yang marah besar atas kasus ini, tetapi juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Kota Bima.

            Ketua MUI Cabang Kota Bima Drs. HM. Saleh menuding, kedua pelaku telah melakukan tindakan haram yang jelas-jelas bertabrakan dengan nilai-nilai baik agama, moral, budaya dan lainnya.

         “Dalam prespektif Islam menegaskan, memperlihatkan aurat bagi wanita adalah haram hukumnya. Demikian pula baik kaum laki-laki. Memperlihatkan aurat saja sudah haram, maka lebih haram lagi ketika mempraktekannya dengan cara berzinah dan porno aksi serta porno grafi. Sekali lagi, saya ingin tegaskan bahwa keduanya telah melanggara seluruh nilai-nilai bagi kehidupan umat. Oleh karenanya, hukum harus ditegakkan dalam kasus ini,” imbuhnya, Kamis (6/10/2017).

            Pornografi maupun pornoaksi paparnya, dalam aturan negara adalah sesuatu yang sangat dilarang. “Sekali lagi, atas nama MUI kami tegaskan, perbuatan kedua pelaku adalah haram hukumnya. Jika itu benar adanya, maka aparat yang berwenang harus segera menghentikan sekaligus menindaklanjuti kasusnya melalui jalur hukum pula. Semoga kasus yang sama, tak lagi menimpa anak-anak bangsa yang lainnya,” imbuhnya lagi.

            Memperlihatkan aurat ujarnya, jelas akan menimbulkan kegairahan orang dan kemudian akan berimbaskan kepada terjadinya perzinahan. Pun yang dilakukan oleh kedua pelaku tegasnya, telah membuka aib dirinya sendiri dan kemudian menimbulkan kejahatan. “Aib keduanya bukan dibuka oleh orang lain. Tetapi, oleh kedua pelaku itu sendiri. Dan demikian pula soal kejahatan yang dilakukan oleh keduanya,” terangnya.

            Pernyataan ERN kepada suaminya telah menikah sirih dengan IRF, praktis menggelitik Ketua MUI ini. Dan pengakuan tersebut, ditudingnya sebagai sesuatu yang miris serta sangat ironis.

          “Dalam hukum Islam, wanita tidak boleh berpoliandri. Jika dia mengaku sudah menikah sirih dengan orang lain padahal masih sah menjadi isteri orang lain, itu namanya poliandri. Poliandri adalah haram hukumnya dalam Islam. Dan bagi laki-laki, dalam hukum islam itu memang diperbolehkan,” jelasnya.

            Peristiwa miris tersebut, ditegaskannya tak terjadi lagi di kemudian hari. Dan tidak pula membuka keaiban yang berdampak kepada lahirnya kejahatan. “Dalam kasus ini, saya tak banyak berharap kepada  aparat penegak hukum (Polisi). Kecuali, segera mengusut, mengungkap dan menghukum pelakunya sesuai aturan yang berlaku. Tujuan utamanya, lebih kepada agar kedua pelaku tidak mengulangi perbuatannya,” desaknya.

            Ditarik dalam prespektif budaya Bima, yang dilakukan oleh kedua pelaku sudah bertabrakan dengan nilai “Maja Labo Dahu” (malu dan takut). “Keduanya sudah membuka malu, membuat malu. Sebenarnya keduanya memiliki perasaan malu. Tetapi, justeru keduanya membuka sesuatu yang sangat memalukan. Jika berpijak pada nilai-nilai ke-Bima-an, perlakuan keduanya sudah keluar dari budaya “Maja Labo Dahu”,” timpalnya.

            Ketua MUI juga menduga, permintaan maaf ERN yang berulang-ulangkali kepada suaminya dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya tetapi tak berbanding lurus dengan fakta sesungguhnya, itu dipicu oleh dua kemungkinan.

         “Dugaan saya yang pertama, itu karena masalah ekonomi. Dan kedua, mungkin karena tidak mendapatkan kepuasaan dari suaminya sehingga dia mencari tempat lain untuk memenuhi kepuasaannya.,” duganya.    

            Kepada Ardiansyah, Ketua MUI berpesan agar segera menceraikan isterinya. Tetapi upaya hukum yang diambil oleh Ardiansyah untuk menuntaskan kasus ini melalui jalur hukum, diakuinya sebagai langkah yang paling tepat. Terkait tekad Ardiansyah harus memenjarakan isterinya dan kemudian diceraikan, juga didukungnya secara penuh. “Sementara jalan keluar yang baik bagi wanita itu, setelah diceraikan ya menikahlah dengan IRF,” pungkasnya. (Rizal/Must/Buyung/Wildan/IK/FHM)