Wahyudiansyah SH, MH

Visioner Berita Kota Bima-Peristiwa premanisme yang menyambar SMPN 11 Kota Bima yang berlokasi di Kelurahan Jatibaru-Kota Bima pada beberapa saat sebelum Ramadhan 2017 berahir, nyaris luput dari ingatan publik, khususnya terkait sejauhmana proses penanganannya.  Pasalnya, sudah sekian lama media massa terkesan tidur di dalam menindaklanjuti kasus ini.

            Tetapi pertanyaan publik tentang sejauhmana penanganan kasus ini, pun akhirnya terjawab. Tampaknya, kasus ini sudah di P21 oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Raba Bima. Wahyudiansyah SH, MH selaku Pengacara korban, sebut saja Sufrani menyebutkan, Jaksa sudah menyatakan P21 terhadap kasus ini. “Ya, kasusnya sudah di P21 oleh Jaksa. JPU yang mengangani kasus ini adalah Farhan SH,” ungkap Wahyudiansyah SH, MH kepada visioner, Senin (14/8/2017).

            Pengacara muda sekaligus dosen pada STIH Bima yang akrab disapa Edox ini menjelaskan, dengan terus berjalannya kasus ini, maka upaya Kasek SMPN 11 Kota Bima Rosdi Efendy S.Pd dalam membujuk korban untuk berdamai dengan Usman dan anaknya bernama Basrin sebagai pelaku penganiayaan yang mengakibatkan korban geger otak, tak berhasil dicapai.

        “Beberapa kali Kasek tersebut melayangkan surat ke korban yang bermuara pada perdamaian, namun tetap kami tolak. Kecuali, kasusnya harus dilanjutkan hingga vonis Pengadilan. Ketegasan tersebut, lebih kepada menyelematkan nasib dan keselamatan guru. Pokoknya, dalam kasus ini harus ada efek jera. Sehingga, kedepan tak ada lagui sikap premanisme kepada guru,” timpal Edox.

         Setelah Jaksa menyatakan P21 terhadap kasus ini, pihaknya belum tahu tentang kapan kasus ini disidangkan di Pengadilan. Oleh karenanya, Edox berharap kepada Wartawan untuk menanyakan kepastiannya kepada JPU. “Itu JPU yang tahu. Jadi, silahkan anda tanyakan ke sana,” pintanya.

        Edox kemudian mengucapkan terimakasih dan apresiasi kiepada pihak Polres Bima Kota, karena telah bekerja keras menangani kasus ini, sehingga tidak memberikan peluang penangguhan penahanan terhadap pelaku. Namun, pihaknya memaklumi tidak dilakukan penahanan terhadap Basrin sebagai anak kandung Usman oleh polisi. Sebab, Basrin masih berstatus dibawah umur (Kelas III SMAN 5 Kota Bima). “Tetapi, proses hukum terhadap basrin tetap berlanjut,” ujar Edox.

            Selain itu, Edox menguak rasa penyesalan dan bahkan kekecewaannya kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Bima yang sama sekali tidak memberikan sanksi kepada oknum Kasek SMPN 11 itu. Masalahnya, oknum kasek tersebut diduga kong-kalikong dengan pelaku.

         “Indikasi itu, kami temukan melalui beberapa kali oknum Kasek tersebut mencoba mendamaikan korban dengan pelaku. Dan yang dilakukan oleh oknum Kasek tersebut, tidak mencerminkan menjaga harkat, martabat, dan kewibawaan guru. Padahal, seluruh Organisasi Profesi Guru, secara tegas dan lantang menolak sikap oknum Kasek dimaksud,” tandas Edox.

          Atas sikap oknum Kasek tersebut, Edox mengaku sudah berteriak melalui media massa, meminta Walikota Bima agar memecatnya dari jabatan Kasek dan atau dipindahkan ke tempat lainnya. Sayangnya, sampai detik ini hal tersebut tak kunjung terwujud.

        “Maaf, atas nama kuasa hukum korban, kami hanya bertanya-tanya. Sebab, guru sudah dilecehkan oleh sikap premanisme orang tua dan anak dimaksud. Oleh karenanya, wajar bagi seluruh Organisasi Profesi Guru marah dan mendesak agar kasus ini tidak diberikan ruang untuk berdamai. Semuanya, demi nasib dan masa depan guru,” paparnya. (Rizal/Must/Buyung/Wildan)