Mayor Czi. bayu Kurniawan (tiga dari kiri) bersama anggota saat membersihkan lumpur dan sampah di Kota Bima

 

Visioner Berita Kobi-Kerja keras pihak TNI melalui Batalyon Seni Tempur (Yon Sipur) 10 Devisi II Kostrad dalam membersihkan tumpukan sampah dan lumpur di Kota Bima yang disisakan oleh bencana banjir bandang, hingga kini masih terus berlangsung. Selama beberapa hari berada di Kota Bima, Yon Sipur 10 Devisi II Kostrad, mmiliki catatan penting terkait pembersihan lingkungan dari lumpur dan tumpukan sampah itu.

            Yakni,  tumpukan sampah dan lumpur terparah di Kota Bima berada di Kelurahan Dara dan Kelurahan Penaraga. Senin (9/1/2017), Danyon Sipur 10 Devisi II Kostrad Mayor Czi. Bayu Kurniawan menjelaskan, sudah dua hari pihaknya bertarung melawan lumpur dan tumpukan sampah di dua Kelurahan itu.

“Kami memulai bekerja pada dua Kelurahan tersebut, sejak Minggu (8/1/2017) hingga sekarang.Jumlah personil yang kami terjunkan adalah 100 orang. Personil juga dilengkapi dengan sejumlah alat pendukung pembersihan mulai dari loader hingga Dump Truk yang mengangkut sampah dan kemudian di singkirkan ke tempat pembuangan akhir (TPA),” jelasnya, Senin (9/1/2017).

            Upaya pembersihan di Penaraga, diakuinya hampir selesai. Jika diporsentase, sudah mencapai sekitar mencapai 80 porsen. Namun di Dara, kini masih terus dikerjakan. Soal tantangan yang dihadapi di dua Kelurahan tersebut, sesungguhnya tidak ada. “Hanya saja, lumpurkannya kan sangat banyak, Mas. Karenanya, penanganannya membutuhkan kecepatan. Kalau dua sampai tiga hari tidak dibersihkan, tentu saja akan berubah jadi penyakit bagi warga. Pembersihan di Penaraga itu sudah hampir tuntas, di Darapun akan diselesaikan dalam waktu segera,” terangnya.

            Kelurahan Na’e, Tanjung dan Melayu sebagai wilayah terparah yang diserang oleh bencana banjir bandang, ketebalan lumpur dan tumpukan sampahnya tidak separah yang ada di Penaraga dan Dara. “Kalau Na’e dan Melayu, itu gak parah juga. Sementara di Tanjung, ya lumayan. Ketebalan lumpur khusnya di Dara, itu sekitar 70 Cm, bahkan kemarin yang di depan terminal tidak bisa dilewati. Namun selama bekerja keras tersebut, pihaknya tidak menemukan hambatan. Karena, kami bekerja dengan jiwa dan semangat yang cukup tinggi,” urainya.

            Dalam konteks pembersihan lumpur dan tumpukan sampah tersebut, pihak diberi waktu oleh Kepala BNPB, masih tersisa 12 hari sejak perpanjangan masa tanggap darurat. Dari waktu yang diberikan itu, pihaknya sudah memanfaatkannya selama dua hari.

“Saya kira, kita kita akan mampu menuntaskannya selama batas waktu yang diberikan tersebut. Bahkan dengan kerja optimal, kita mamu menyelesaikan lumpur dan tumpukan sampah yang disisakan oleh bencana banjir bandang di Kota Bima. Kita kerja dari pagi, siang istirahat sebentar dan malanya kita kerja lagi. Khususnya di Dara, kita tidak kerja pada malam hari. Alhamdulillah, jalan yang dipenuhi lumpur dan sampah di Dara, kini sudah bisa dilewati oleh masyarakat serta para pengendara,” terang Bayu.

            Sedangkan fokus pembersihan pada malam hari adalah di Pertokoan-Pertokoan yang ada di Kota Bima. “Alhamdulillah di Pusat Pertokoan tersebut, sekarang sudah bersih walau belum 100 porsen. Untuk di Pasar Amahami, juga sudah kami kerjakan dan kini telah bersih. Masih ada di satu lokasi lagi yang sampai hari ini belum kita tuntaskan. Yaitu di Madrasah Ulul Ilmi, di sana juga sangat parah. Sebenarnya di sana ingin kami tuntaskan juga, namun Pak Walikota Bima meminta kami untuk lebih konsen di perkampungan warga. Tetapi, nanti juga kita akan kembali menuntaskan tumpukan sampah dan lumpur di Madrasah itu,” janjinya.

            Dengan kerja maksimal yang dilakukan oleh pihaknya dengan melibatkan 100 personil dari Yon Sipur 10 Devisi II Kostrad, akan mampu menyelesaikan tumpukan sampah dan lumpur di seluruh wilayah di Kota Bima.

“Kami sudah, sedang dan terus bekerja maksimal dengan 100 personil anggota yang didukung oleh 30 unit alat berat. Dengan kekuatan itu, kami akan mampu menuntaskan pekerjaan ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh pihak BNPB. Keyakiinan untuk menuntaskan pekerjaan tersebut, juga dilatari oleh adanya partsipasi masyarakat Kota Bima. Awal-awalnya, masyakat tidak banyak yang bekerjasama dengan kami. Namun, kami memaklumi karena mereka juga sangat sibuk membersihkan rumahnya masing-masing. Namun dalam beberapa hari terakhir ini, mereka keluar semua membantu kita, itu termasuk yang di Penaraga,” katanya.

            Ia kemudian mencatat adanya kemuliaan hati masyarakat Kota Bima selama pihaknya melaksanakan kegiatan pembersihan itu. Yakni, disaat pihaknya bekerja, selalu saja disuguhkan kopi, makan dan minuman oleh warga. “Yang pasti, akhir-akhir ini kesadara partisipasi warga Kota Bima sangat tinggi.  Itu mungkin karena tumpukan sampah di rumah mereka sudah dibereskan semua. Untuk itu, kami juga berterimakasih kepada masyarakat yang telah membantu kami dalam pekerjaan ini,” ucapnya.

            Sejak awal melakukan pembersihan lumpur dan tumpukan sampah tersebut, pihak mempunyai catatan penting sebagai pemicu terjadinya bencana banjir bandang di Kota Bima. Secara gamblang, Bayu menyebutkan soal drainase yang tidak mampu lagi menampung air ketika hujan terjadi secara terus menerus.

Masalah tersebut, diakuinya sangat fatal. Yakni, bencana banjir praktis menyerang Kota Bima dan seluruh pemukiman warga. “Terus terang saja, kenapa terjadi banjir hingga meluap ke seluruh wilayah di Kota Bima, itu karena drainasenya yang tidak beres. Dari beberapa kampung yang kami kerjakan, drainasenya sama-sama bermasalah. Yakni, tertutup oleh tanah dan sampah. Hal yang sama, juga kami temukan di sungai-sungai,” ungkap Bayu.  

            Oleh sebab itu, jika kedepan Kota Bima ingin terhindar dari bencana banjir bandang, maka opsinya adalah membenahi drainase yang ada di seluruh wilayah di Kota Bima. “Kedepan, drainasenya harus diperbaiki, dibongkar, dibuatkan yang agak lebar. Tujuanya, agar air yang datang dari hulu ke hilir, bisa tersalurkan dengan baik. Sekali lagi, saya rasa itu yang menjadi pemicu terjadinya bencana dimaksud. Sebab, di beberapa kampung yang kami lihat, ya seperti itu masalahnya. Sekali lagi kami himbau, jika tak ingin lagi ditimpa bencana yang sama, maka tawarannya adalah membereskan drainase di daerah ini,” imbuhnya. (Rizal)